Minggu, 24 April 2011

Song of Love part 7

Gabriel berlari menuju kelasnya. Hanya ada Rio yang duduk dengan mata terpejam di bangkunya. Sepasang headset yang masih menggantung di kedua telinganya. Beberapa bungkus makanan ringan dan satu kaleng softdrink berserakan tak karuan di hadapannya.

“Rio!!” seru Gabriel sambil menepuk bahu Rio.

Tanpa menunggu Gabriel berbuat lebih anarkis lagi, Rio membuka matanya untuk merespon panggilan sahabatnya itu.

“Yo, gue dapet apa yang selama ini gue cari! Bidadari gue!” cerita Gabriel semangat.

“hmm.. sukur deh! Siapa?” tanya Rio sambil membuka segel minumannya. “Favia? Prisa? Vlo? Rene? Atau siapa itu sohib Ify?”

“keterlaluan lo, Yo! Sohib cewek sendiri nggak ngerti?!” tanggap Gabriel keras. Spontan Rio menutup mulut Gabriel dengan sebuah snacknya yang masih utuh.

“jaga tu mulut!” perintah Rio kemudian menegak minumannya.

“jawabannya Shilla!” ucap Gabriel mantab.

Rio yang sedang minum otomatis tersedak. Ia tau sahabatnya itu tidak sedang bergurau, apa lagi bermain-main.

“yakin?” tanya Rio sedikit tidak percaya, namun sekaligus juga tak ingin menyinggung perasaan Gabriel.

“yap!” jawab Gabriel mantab. “gue tau lo nggak percaya, terserah! Itu hak lo, tapi gue tau pasti di diri Shilla gue tau apa itu cinta yang sebenarnya.”

Rio tersenyum kemudian menepuk pundak Gabriel. Tanda ia percaya dengan semua perkataan Gabriel.

“good luck!” ucapnya.

“you too, ya! Gue yakin, lo sama Ify juga bakal bahagia.”

“amin.”

Keduanya kembali diam. Gabriel merogoh laci Rio untuk mencari komik yang biasa dibawa sahabatnya itu. Setelah menemukan satu, ia tenggelam dalam cerita yang disuguhkan oleh sang author.

Sementara itu, Rio menatap keluar, menatap titik jauh di langit mencari satu kepastian tentang apa yang harus menjadi ekspektasi utamanya selanjutnya. Sampai kapan ia mampu menyembunyikan identitasnya hanya untuk bersama Ify. Dan sebuah kemungkinan terburuk yang harus ia pikirkan meski sering ia tampik jauh-jauh, apa yang akan terjadi bila harus mereka terpisah. Saat ini saja, belum berganti bulan sejak komitmen itu tercetus, keduanya seperti hutan dan hujan, tak ada yang satu maka musnahlah yang lain.

Rio mendengus, ujung kanan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman hampa. Seperti bermain menjadi seorang intelegent, ia harus berpura-pura tak mempunyai hubungan apapun dengan Ify saat di sekolah, dan menyembunyikan identitasnya sebagai putra mahkota kerajaan bisnis Haling saat bersama Ify. Dimana kisah manis khas cinta remaja yang banyak tertulis itu? Mengapa tak berlaku untuknya?

Sampai ia sadar jika seluruh bangku di kelasnya sudah kembali dihuni pemiliknya. Dua menit lalu bel tanda berakhirnya jam istirahat sudah berbunyi.

Ibu Rowina, wali kelas mereka masuk. Sosok wanita berusia menjelang setengah baya namun masih begitu cantik dan awet muda. Setelah meletakkan beberapa buah buku yang tertumpuk rapi di meja guru. Ia melangkah anggun kebagian depan tengah kelas, mencermati siswa-siswinya satu persatu dan memastikan tak ada yang absen dari jam pelajarannya. Rutinitas yang selalu ia lakukan setiap akan memulai pelajaran.

 “kelas ini akan bertambah satu penghuni.” Kata ibu Rowina jumawa, khas seorang guru yang selalu ingin disegani.
“silahkan masuk!” perintahnya sambil menoleh ke arah pintu.

Dari bangkunya, Rio terhenyak mendapati siapa yang sedang berdiri di depan kelas. Sosok tegap dan berkulit putih itu. Alvin. Ia benar-benar membuktikan ucapannya untuk mencari tau siapa Rio, atau ia ingin mempersempit pergerakan Rio dan Ify. Rio tetap diam, tak ingin Alvin melihatnya kalang kabut.

“perkenalkan diri!” ibu Rowina melanjutkan perintahnya.

“Alvin Jonathan Sindhunata, pindahan dari Singapore.” Jawab Alvin tanpa melepaskan tatapan membunuhnya pada Rio yang juga masih menatapnya dingin.

“are you kidding, bro? Sindhunata?” celetuk salah seorang siswa sedikit tak percaya.

“ma’am, this class seemed like a stock exchange! The “duke” of two great kingdoms here.” (ibu, kelas ini terkesan seperti bursa efek! Pangeran dari dua kerajaan besar di sini.) Timpal yang lain.

Alvin tak bereaksi apapun dengan keadaan kelas yang semakin bergemuruh, tadi hanya karena siswi-siswi yang kagum dengan penampilan fisiknya dan saat ini bertambah dengan para siswa yang sibuk sendiri berimaginasi seberapa banyak harta yang dimiliki Alvin.

Hal serupa juga dilakukan Rio sebagai salah satu objek dari dua orang yang dimaksudkan oleh teman-temannya.

“wihh.. as cool as a fairytale, Yo! I can’t imagine that he loves your princess also.” Bisik Gabriel yang belum tau apapun tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya dan Alvin, juga tak menyadari jika apa yang baru saja ia ucapkan adalah suatu kebenaran yang sudah terjadi.

Rio tetap diam, tanpa sadar ia mencengkeram komik yang sebelumnya dibaca Gabriel dengan sangat geram. Sadar saat ini ia harus berperang dan berjuang secara terang-terangan dan menghentikan taktik gerilyanya.

“duduk di samping Sion!” perintah bu Rowina sekali lagi sambil memberi isyarat pada siswa yang baru saja ia sebut namanya untuk berdiri agar Alvin tau dimana tempat duduknya. Bangku yang tepat berada di samping kiri meja Rio dan Gabriel.

Pelajaran dimulai. Alvin terus menghadapkan wajahnya ke papan tulis sambil terus mengorek informasi dari Sion.

“I gotta know, who is the other one of the “dukes”?” tanya Alvin setelah berhasil mengakrabkan diri dengan teman sebangkunya.

“Rio, Rio Haling, satu bangku di samping lo.” Jawab Sion sambil mencatat materi yang baru saja disampaikan bu Rowina.

“Haling?” tanya Alvin memastikan apa yang baru saja ia dengar. Ingin rasanya ia berteriak lepas, karena ini berarti jalannya untuk mendapatkan Ify  terbuka lebih lebar, apa lagi dengan rencana yang di sampaikan ayahnya dan ayah Ify beberapa hari yang lalu. Namun ia tak segila itu, bisa saja teriakannya membuatnya dikeluarkan dari kelas di hari pertamanya masuk.

Sion menggangguk acuh menanggapi pertanyaan Alvin yang sebenarnya sudah cukup jelas jawabannya.
Alvin diam. Mancoba menahan sorak-sorai kemenangannya atas Rio agar tidak membuncah. Otaknya masih terus berfikir berbagai macam cara untuk bermain-main dengan lawannya itu. Ia percaya apapun yang akan Rio perbuat Ify pasti menjadi miliknya.

***

Senyuman licik mengembang di bibir tipis milik Shilla. Sebuah kunci kini berada di genggamannya. Beberkal sebuah rahasia besar, iblis yang berhasil menguasai hati dan pikiranya kini berpesta.

Entah kemana pikiran warasnya sampai dengan mudahnya ia akan melakukan hal ini. Semua rencana sudah tersusun apik di benaknya. Bukan pemikiran baik dan briliant, juga bukan ide-ide yang akan membuahkan pujian seperti biasa ia lakukan. Sebuah rencana busuk.

Ia terus berdiri di depan ruang musik. Mencari sasarannya.

Dari arah yang berlawanan, Ify dan Sivia yang sedang berjalan menuju ruang musik terus bercanda dan tertawa lepas.
Membuat dendam yang kini sedang menguasai Shilla bertambah membara.

“Fy!” panggil Shilla saat Ify lewatb di hadapannya tanpa sedikitpun peduli pada sosoknya. Tidak sekecap pun kata permisi ataupun hanya sebatas senyuman yang terlontar dari bibirnya.

Ify menoleh sambil menautkan kedua alisnya. Ekspresi yang sangat tidak bersahabat.

“aku mau ngomong sama kamu.” Ucap Shilla sedikit terbata seraya membenahi letak kacamatanya.

“buruan!” jawab Ify.

“nggak di sini, ikut aku!”

Shilla mengayunkn kakinya menjauhi ruang musik. Tanpa pikir panjang, setelah berpamitan dengan Sivia, Ify segera mengekori Shilla.

***

Lorong sempit yang begitu pengap menyambut Ify yang mulai diliputi rasa takut. Tempat ini adalah bagian terpencil dari SMA Putra Buana. Hampir tak seorang pun siswa yang sudi menapakkan kakinya di tempat ini, di bagian depan gudang yang menurut mitos yang beredar sarat akan kejadian magis.

Cahaya matahari begitu sulit untuk menembus ruangan ini karena gedung sekolah yang tinggi, sehingga siang hari pun tempat ini sangat gelap.

“ngapain kita ke sini?” tanya Ify berusaha menyembunyikan rasa takutnya, juga firasat tidak baik yang menderanya.

Namun ia gagal, suara yang keluar dari mulutnya terdengar bergetar dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Shilla membalik tubuhnya yang semula membelakangi Ify. Melayangkan tatapan membunuh yang menohok mata Ify yang semakin ketakutan melihatnya.

Perlahan Ify beringsut mundur saat Shilla mendekatinya.

Dengan kasar, Shilla memutar knop pintu gudang dan membukanya.

“kak Shilla, lo mau apa?” tanya Ify lirih.

BRAK!

Sekuat tenaga Shilla mendorong tubuh Ify masuk ke dalam gudang dan dengan gerakan kilat ia menutup pintu kembali dan menguncinya.

Keadaan di dalam bisa dibayangkan, jauh lebih gelap dari pada di luar. Ify yang sebelumnya tersungkur segera bangun
dan menggedor pintu, meminta Shilla membukakannya sebelum terjadi hal yang buruk padanya.

“Kak Shilla!! Buka! Gue phobia gelap! Apa salah gue??” raung Ify mengerahkan semua tenaganya. Di sisi lain, ia merasakan saluran pernafasnya semakin menyempit dan aliran darahnya melemah. Persendiannya seakan terlepas dan tak kuat lagi menahan beban tubuhnya karena rasa takut yang sangat.

“salah lo? Semenjak ada lo, Gabriel nggak peduliin gue!” jawab Shilla histeris. Air mata mulai bercucuran dari pelupuk
matanya.

“gue tau gue cuma Upik Abu, mimpi buat gue bisa dapetin Gabriel. Dan lo yang begitu sempurna, bisa dengan mudah dapetin dia, lo punya segalanya, Fy! Tapi apa gue salah punya cinta ini buat dia?”

Sambil bersandar pada pintu bagian dalam, Ify memegangi dadanya yang semakin sesak. Di tengah kesadarannya yang
timbul-tenggelam ia dapat mendengar semua monolog yang Shilla lontarkan. Hati kecilnya tetap bisa merasakan betapa besarnya cinta Shilla untuk Gabriel. Ingin sekali ia menggerakan mulutnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi pada Shilla tetapi tenaganya sudah habis terkuras. Hanya keringat dingin yang terus mengalir di seluruh tubuhnya, juga air mata yang terus mengalir dari matanya. Tubuhnya perlahan terkulai dan semuanya gelap.

Dengan keadaan yang masih kalut, Shilla berlari menuju atap sekolah. Sebuah tempat yang begitu saja melintas di otaknya yang belum mampu berpikir jernih.

***

Alvin menyandarkan punggungnya di depan pintu ruang kelas barunya. Hampir semua teman sekelasnya sudah keluar
dari dalam kelas, kecuali orang yang sengaja ia tunggu dan sahabatnya.

Tak perlu menunggu lama, orang itu keluar dari kelas dengan raut tenang. Mencoba mengacuhkan keberadaan Alvin yang sebenarnya ia tau jika sosok itu ada di tempatnya. Begitu pula sang sahabat yang mengekor di belakangnya.

“tuan muda Haling..” ucap Alvin meremehkan. Tak bernada memanggil Rio, ia seakan hanya ingin memulai sebuah monolog.

Rio diam di tempat mendengar ucapan Alvin. Namun ia tak menoleh atau memberikan reaksi lain.

“gue nggak bayangin nasib Ify kalau ayahnya tau putri kesayangannya punya hubungan dengan keluarga rivalnya.” Lanjut Alvin dengan nada penuh kesombongan.

Rio berdecak kemudian memutar tubuhnya dan menatap Alvin dingin.

“apa mau lo?” tanya Rio tajam.

“nothing! Gue cuma mau liat seberapa jauh perjuangan elo buat Ify.” Alvin melangkah maju mendekati Rio. “I’m not a loser, ini antara lo sama gue, buat Ify, gue sama elo punya cinta yang sama buat dia, gue nggak akan melibatkan orang tua gue, lo, atau Ify di sini.”

Rio tersenyum simpul. Ia membaca sebuah kesungguhan di mata Alvin yang berucap sebagai seorang laki-laki sejati. Membawanya pada persaingan antara dua orang pangeran untuk menjaga sang putri tanpa tangan orang lain.

“gue pegang janji lo!” balas Rio.

***

Sivia melongokkan kepalanya ke kiri dan kanan dari dalam pintu besar ruang musik. Sesekali mata sipitnya melirik ke arah
jam besar di dinding ruangan.

Sudah hampir satu jam Ify pergi dan belum juga menampakkan batang hidungnya lagi. Ekstra musik pun sebentar lagi usai. Rasa kawatir akan nasib sahabatnya itu terus bergemuruh di dadanya, entah darimana ia seperti mendapat firasat jika ada sesuatu yang tak baik sedang menimpa sahabatnya. Susah sekali rasanya menenangkan dirinya sendiri.

Sambil mencoba berpikir positif, Sivia mengutak-atik ponselnya, mencari sebuah kontak yang mungkin tau keberadaan Ify. Setelah menemukan satu nama, Sivia menekan tombol pemanggil di ponselnya.

***

Ucapan Rio terhenti saat merasakan getaran ponsel di sakunya.

Nomor yang belum ia kenal, namun sepertinya si penelfon serius melakukan panggilan. Sedetik berikutnya ia segera menekan tombol pemanggil dan mendekatkan ponsenya ke telinganya.

“kak Rio, ini Sivia, Ify ada sama kakak?” cerocos seseorang dari seberang sambungan yang ternyata Sivia tanpa jeda titik dan koma karena panik.

“enggak, gue nggak sama dia, kenapa?” tanya Rio.

“dia ngilang dari satu jam yang lalu, perasaan aku nggak enak, kak.” Jelas Sivia tak ingin berbasa-basi.

Rasa kawatir juga langsung menyergap Rio. Ia merasa ada hal yang buruk yang sedang terjadi pada kekasihnya.

“lo dimana?” tanya Rio sambil berusaha menetralisir perasaannya.

“ruang musik.”

Rio mematikan sambungan telfon cepat-cepat.

“kenapa, Yo?” tanya Gabriel yang sedari tadi diam tak ingin ikut campur. Ia membaca raut kepanikan di wajah Rio.

“Ify, perasaan gue nggak enak.” Jawab Rio kemudian melenggang cepat menuju ruang musik.

Seperti mendapat sebuah komando, Gabriel dan Alvin mengikuti Rio.

***

“dimana Ify, Vi?” tanya Rio panik setelah mendapati Sivia dengan keadaan tak kalah kacau di depan ruang musik.

Sivia menggeleng karena memang ia tak tau kemana Ify pergi.

“tadi sama kak Shilla.” Ucap Sivia pelan.

“Shilla? Ada apa?” mendengar nama Shilla disebut, mau tak mau Gabriel ikut terbawa suasana.

Sivia menggeleng –lagi- tanda ia tak tau apapun.

Tanpa menunggu aba-aba Gabriel segera mengetikan deretan nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Nomor Shilla.

***

Di atap sekolah Shilla masih terus menangis sejadi-jadinya. Menundukan kepalanya dalam-dalam. Malaikat dan setan di hatinya kini sedang beradu argumen, ia akan terus membiarkan Ify di sana atau segera kembali untuk menolongnya.
Sekejap terngiang kembali beberapa kalimat tentang phobia yang dibacanya. Nyawa Ify bahkan terancam dengan perbuatannya jika ternyata Ify memiliki lemah jantung. Hal yang paling ia takuti adalah semua orang akan menyalahkannya, termasuk Gabriel.

Sampai ponsel ditangannya bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Nama Gabriel tertera di layar dan membuatnya semakin kacau. Namun kali ini rasa kemanusiaannya menang, terserah apa yang akan dilakukan orang lain padanya nanti, ia ingin nyawa Ify selamat. Tanpa pikir panjang Shilla mengangkat panggilan itu.

Tak sepatah kata pun mampu Shilla keluarkan, hanya isakan yang terus berhamburan dari bibirnya.

“Shil, elo dimana?” tanya Gabriel panik karena mendengar isakan Shilla.

“lo.. loteng.” Jawab Shilla setelah berhasil meredakan isakannya.

***

“ke loteng!” dengan segera Gabriel memberi instruksi pada yang lain untuk mengikutinya yang berlari terlebih dahulu.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Rio, Alvin, dan Sivia menjalankan perintah Gabriel.

Semua begitu kalut karena hilangnya Ify, dan Shilla. Nyaris seperti orang yang sedang terhipnotis, perintah seperti apapun yang berhubungan dengan dua orang gadis itu pasti akan segera mereka jalankan.

***

Gabriel mencelos mendapati Shilla dalam keadaan yang sangat berantakan. Tak tega untuk bertanya apapun pada gadis yang kini terlihat begitu rapuh itu. Ia menarik kepala Shilla untuk bersandar di dadanya, memberinya sedikit ketenangan. Semua yang ada di otak Gabriel saat ini adalah bagaimana mengembalikan keadaan Shilla seperti sebelumnya.

“dimana Ify, Shil?” tanya Rio sedikit membentak. Kekawatirannya justru bertambah saat melihat kondisi Shilla.

“lo tenang dulu, Yo! Liat kondisi Shilla!” bentak Gabriel tak mau kalah karena terdorong oleh nalurinya melindungi Shilla.

“di gudang, aku kunci dia..” jawab Shilla seperti orang linglung.

“gudang dimana?” sela Alvin yang sedari tadi memilih hanya mengikuti apa yang terjadi, dan kini ia menjadi lebih panik dari yang lain.

“belakang.” Jawab Sivia yang tak tau lagi harus berbuat apa sambil menunjuk sebuah arah.

Alvin melesat menuju arah yang tadi ditunjukan Sivia. Dan kali ini Rio yang mengikutinya, ia yang semula ingin meluapkan amarahnya pada Shilla baru tersadar jika menyelamatkan Ify lah yang paling penting saat ini.

***

Rio dan Alvin dapat dengan mudah memasuki gudang karena kunci yang masih Shilla biarkan menggantung di tempatnya.

“Ify!” pekik Rio dan Alvin bersamaan saat melihat kondisi Ify yang terkulai tak sadarkan diri.

Alvin memeluk tubuh Ify yang terasa sangat dingin.

“lama lo! Bawa ke rumah sakit!” perintah Rio sambil membuka kasar pintu gudang lebih lebar lagi, juga karena rasa panas yang kembali menyergap hatinya saat tubuh gadisnya berada di dalam dekapan pria lain.

Setelah melemparkan kunci mobilnya pada Rio, Alvin membopong tubuh Ify.

“buat apa?” tanya Rio tak mengerti.

“lo yang nyetir, goblok!” balas Alvin kasar sambil bergegas membawa Ify ke mobilnya.

Sebenarnya Rio tak terima dibentak sekasar itu oleh Alvin. namun jika ia melayani ucapan Alvin, Ify tak akan segera tertolong. Demi Ify akhirnya ia mengalah.

***

Tak peduli cacian dan makian yang di lontarkan pengguna jalan lain, Rio terus memicu mobil Alvin ugal-ugalan. Yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana cara sampai di rumah sakit dengan segera untuk menyelamatkan Ify dan rasa cemburu yang membakar hatinya karena saat ini Ify berada di pangkuan Alvin, berada dalam dekapan laki-laki bermata sipit itu di bangku belakang.

Tangannya mencengkeram kuat-kuat stir di hadapannya. Andai tidak dalam keadaan seperti ini, Rio dapat memastikan jika bogem mentahnya sudah mendarat mulus di wajah Alvin sejak beberapa waktu yang lalu.

***

Kesunyian menyelimuti lorong panjang dengan nuansa serba putih itu. Hanya dua orang lelaki tampan yang duduk dalam
diam di bangku tunggu. Sesekali terdengar derap langkah phantophel milik petugas rumah sakit yang beradu dengan lantai saat mereka melewati lorong ini.

Berkali-kali Alvin mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan untuk menumpahkan emosinya. Sama sekali ia tak berminat untuk mengajak bicara Rio yang kini hanya terpaku menatap satu titik imaginasi yang seperti tertera di depan pintu besar instalasi gawat darurat, tempat dimana Ify sedang mendapatkan pertolongan. Ingin rasanya ia mendobrak pintu itu hanya untuk menemani Ify berjuang dan mengetahui bagaimana keadaan gadisnya itu sekarang.

Hampir dua puluh menit berlalu, keadaan masih sama, sunyi. Belum ada tanda-tanda kemunculan dokter atau siapapun
dari dalam ruangan itu.

“Yo, gimana Ify?”sebuah pertanyaan dari Gabriel yang baru saja datang bersama Shilla dan Sivia serentak
menghancurkan kebekuan yang tercipta sebelumnya.

Tanpa menjawab pertanyaan Gabriel, Rio melayangkan pandangan membunuh pada Shilla yang kini tertunduk ketakutan setelah melihat tatapan Rio.

Rio berdiri dan beranjak mendekati Shilla, tanpa melepaskan tatapan tak bersahabatnya.

“apa mau lo, Shil? Apa salah Ify? Pshyco, lo!” bentak Rio menumpahkan semua emosinya.

Gabriel yang tau pasti bagaimana sikap Rio langsung menarik Shilla ke belakang tubuhnya. Menggunakan tubuhnya sebagai tameng jika emosi Rio benar-benar meluap. Gabriel tau saat Rio sudah marah, tangannya sangat ringan bergerak untuk menyakiti orang yang memicu emosinya, dan sekali ia marah, akan sangat sulit meminta maaf darinya.

“maafin Shilla, Yo.” Ucap Gabriel lirih.

“maaf lo bilang? Ify bisa kenapa-kenapa karena dia!” jawab Rio keras sambil menunjuk muka Shilla.

Isakan Shilla kini bertambah hebat. Masalah lain juga ia timbulkan, dua sahabat karib yang sebelumnya tak pernah bisa terpisah kini sedang bertengkar hebat di hadapannya.

“apa yang harus gue lakuin supaya lo maafin Shilla?” tanya Gabriel sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi saat menyadari betapa keras kepalanya sahabatnya ini.

Alvin tersenyum miring melihat drama yang disuguhkan padanya. Tak berniat sedikit pun untuk ikut campur. Otaknya hanya menerka bagaimana ujung kisah itu. Dua pangeran yang sedang membela dan menjaga putrinya masing-masing, ralat, Gabriel dengan Cinderellanya, dan Rio membela putrinya, sang putri yang akan menjadi permaisuri seorang Alvin. Mungkin seperti itu hal yang ada di pikiran Alvin saat ini.

“gue harus berlutut di depan lo, Yo? Gue mau lakuin itu!” ucap Gabriel mantab karena Rio hanya diam. Perlahan Gabriel menekuk lututnya.

“berdiri, Yel! Gue nggak berhak marah sama Shilla, Ify yang mutusin semuanya.” Rio akhirnya membuka suaranya.

“ck!” Alvin berdecak, tak tahan juga ingin mengemukakan pendapatnya. “satu-satunya orang yang harus disalahin di sini itu elo, Rio!” lanjut Alvin tenang.

“elo yang punya status pacar Ify tapi nggak becus jagain dia! Lo pikir gue bakal tega nyerahin Ify gitu aja sama orang yang sama sekali nggak punya tanggung jawab kaya elo?” cerca Alvin sambil menatap dingin pada Rio.

Rio terdiam. Akal sehatnyanya membenarkan semua yang dikatakan Alvin. Kadang ia lebih memikirkan akibat jika hubungannya dengan Ify diketahui keluarganya atau keluarga Ify, bukan bagaimana agar hubungannya dengan Ify dapat terus berjalan.

Decitan pintu membuyarkan keheningan yang terjadi di ruangan panjang itu. Seseorang dengan jas putih keluar dari ruangan itu. Dia dokter yang menangani Ify.

“bagaimana Ify, Dok?” tanya Rio sigap, tak ingin kalah langkah lagi dari Alvin.

“dia hanya shock, tak apa, dia juga sudah sadarkan diri.” Jelas dokter dengan raut kelegaan yang terpeta jelas di wajahnya.

Rio menghela nafas lega. Semua amarah dan rasa cemburu yang disimpannya seakan menguap begitu saja setelah mendengar Ify baik-baik saja.

“boleh saya temui?” tanya Rio lagi.

Dokter hanya mengangguk tanda ia memberi ijin pada Rio untuk masuk.

Tanpa membuang waktu Rio berlari memasuki ruangan tempat Ify baru saja diperiksa. Hampir saja Alvin mencegahnya, beruntung Gabriel tidak terlambat menghalangi langkah Alvin terlebih dahulu.

Tatapan sinis Alvin melayang begitu saja pada Gabriel sambil menyentakkan tangannya untuk menjauhkan lengan kokoh Gabriel dari tubuhnya dan kemudian kembali ke tempat duduknya. Ia memilih mengalah kali ini. Sambil kembali merangkul Shilla, Gabriel tersenyum simpul penuh kemenangan.

Jangan melupakan ada tokoh pasif di ruangan panjang ini. Dia Sivia yang sedari tadi diam, hanya mengikuti alur cerita yang ada tanpa bisa merubahnya karena ia tak tau harus berbuat apa. Ia yang terus memusatkan perhatiannya pada sosok yang menurutnya sangat berbeda hari ini. Sosok laki-laki tampan dengan sejuta pesonanya yang tiba-tiba begitu nampak dewasa. Gabriel. Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini, sejumput rasa sakit di hatinya karena dengan mata kepalanya sendiri ia melihat seorang playboy kelas kakap membela seorang gadis yang sama sekali tak dianggap orang lain sekuat tenaganya, bahkan rela merendahkan harga dirinya dengan berlutut di hadapan sahabatnya. Namun di sisi lain, ada rasa kagum yang membuncah di hatinya, Gabriel sama sekali tak seburuk yang ia dan orang lain pikirkan, bahkan sangat bertolak belakang dengan itu. Sungguh beruntung jika ia ada di posisi Shilla saat ini.

***

Ruangan yang didominasi warna serba putih yang ternyata jauh lebih sunyi dari pada ruangan di luarnya. Hanya ada Ify yang masih berbaring di tempat tidurnya memandang kosong pada langit-langit di atasnya.

“hey..” sapaan lembut dari Rio yang baru saja menyingkap tirai pembatas membuat Ify mengaburkan lamunannya dan menyambut Rio dengan senyuman yang tetap manis walaupun dengan bibirnya yang masih pucat.

Dengan senyuman yang terlihat sedikit miris karena sebenarnya ia tak tega melihat Ify terbaring lemah seperti saat ini, Rio merapikan sedikit rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya dan kemudian menyelipkannya di belakang daun telinga kanan Ify.

Rio diam dan menatap wajah Ify penuh kasih, seakan tak ingin kehilangannya barang hanya sedetik. Perlahan ia membelai lembut pipi Ify dengan punggung jari telunjuk kanannya. Merasakan sensasi-sensasi menyenangkan saat menyentuh kulit mulus kekasihnya itu.

“jangan buat aku kawatir..” ucap Rio lirih. Lebih terdengar seperti sebuah permohonan.

Ify menggeleng, mencoba memberitahukan pada Rio jika ia tak akan membuatnya kawatir lagi.

“aku sayang kamu.” Kata Rio lagi. “aku nggak bisa bayangin kalau kamu kenapa-kenapa, terserah kamu percaya atau enggak, aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu.”

Ify meraih tangan Rio yang masih membelai pipinya kemudian mengecup punggung tangan kokoh itu.

“aku akan selalu ada buat kamu, aku janji.” Balas Ify mencoba memberi Rio ketenangan.

Rio meletakkan semua kepercayaannya pada janji Ify, dalam hatinya ia juga mengucapkan janji yang sama, berharap semuanya akan terbukti. Dengan senyum yang semakin merekah Rio mengacak-acak puncak kepala Ify.

“aku pegang janji kamu, nona cantik.”

Ruangan itu kembali sunyi. Ify hanya diam sambil memejamkan matanya saat Rio mencium dahinya. Dari sana ia bisa menyadari betapa besarnya cinta Rio untuknya, bukan hanya dari ucapannya, namun juga hatinya.

“kak Shilla mana?” tanya Ify setelah Rio melepas kecupannya.

Kedua garis tebal di atas mata Rio menyatu. Heran, mengapa justru orang yang telah membahayakan dirinya lah yang pertama kali Ify cari.

“di luar, kenapa?”

“tolong panggil, aku mau minta maaf.” Pinta Ify manja.

Rio semakin heran dibuat oleh Ify. Tak biasa sekali Ify bersikap seperti ini.

“biasa aja deh liatin akunya! Buruan panggil!”

Tak ingin semakin dipusingkan dengan kelakuan Ify yang tiba-tiba berubah, Rio segera beranjak keluar untuk memanggil Shilla.

Tak berapa lama, Shilla sudah berdiri di sebelah ranjang Ify ditemani Gabriel. Sivia yang ikut masuk hanya memilih berdiri di samping Rio di dekat tirai pembatas untuk menyaksikan semuanya.

“Fy, maaf.. aku..” ucap Shilla sambil terisak. Gabriel yang terus berada disampingnya terus mengurut lengan gadis yang ia cintai itu untuk memberi kekuatan.

“sst.. harusnya aku yang minta maaf, kak Shilla. Maaf aku nggak pernah berlaku baik sama kakak.” Potong Ify sambil tersenyum tulus. “masalah kak Iel, aku sama dia nggak ada apa-apa, kan aku punya kak Rio!” lanjut Ify dengan nada khas seorang anak kecil yang membuat si objek pembicaraan –Rio- tertawa kecil di tempanya.

Gabriel menatap Shilla tak percaya. Sementara yang ditatap hanya menunduk bersalah.

“jadi ini semua karena gue?” ceplos Gabriel masih tak percaya.

Menyadari aksi ceplas-ceplosnya membawa masalah baru, Ify menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“selesaikan semua sekarang, Yel!” sela Rio mencoba menata suasana yang makin runyam.

Gabriel mengangguk pada Rio pertanda ia setuju dengan ide yang ditawarkan Rio. Tanpa menunggu lagi ia membimbing
Shilla pergi keluar.

Rasa sesak yang terus menghimpit dadanya memaksa Sivia segera berlari dari ruangan itu tak ingin seorangpun melihat air matanya jatuh.

“Siv.. Sivia!” panggil Ify yang baru saja menyadari ada sebuah hal penting lain yang ia lupakan, perasaan Sivia pada Gabriel.

Baru saja Ify bangun dari tidurnya. Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinganya dan langsung membuatnya diam di tempat.

“time out, tuan Haling!” kata Alvin yang baru saja muncul dari balik pintu. “you must go home, right now, Alyssa!” lanjutnya sambil membantu Ify turun dari ranjang, ralat, memaksa Ify turun dari ranjang karena ia melakukannya sedikit kasar.

“Vin! Apa-apaan sih lo?! Gue mau sama kak Rio!” Ify mencoba berontak.

“lo mau pangeran lo ini abis sama bokap lo? I told him that you’re with me.” Ancam Alvin telak.

Ify menatap nanar pada Rio. Rio membalasnya dengan sebuah senyuman, memasrahkan semuanya pada Ify, jika Ify memilih pergi bersamanya, Rio siap mendapatkan perlakuan apapun dari ayah Ify, namun bila Ify lebih memilih pergi bersama Alvin, ia tak akan mencegah.

“aku pulang sama Alvin, kak.” Pamit Ify kemudian mengikuti Alvin yang sudah sedikit menarik tangannya untuk segera pergi. Ia hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Rio.

Rio melihat kepergian Ify dan Alvin dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Senyuman tulus dibibirnya kini berubah menjadi semuah senyuman getir.

“apa kamu nggak mau aku perjuangkan, Fy?” tanya Rio seolah gadis yang sangat ia cintai itu ada dihadapannya. Keraguan yang muncul begitu saja di hatinya yang bercampur dengan rasa cemburu melihat gadisnya ada bersama orang lain, orang yang jelas-jelas juga menaruh hati padanya.

Dengan langkah gontai Rio menyusuri koridor rumah sakit. Pikirannya tak menentu dan emosinya sedang labil saat ini. Berharap semua akan membaik esok hari.

bersambung....

2 komentar:

  1. bagus kak! aku telat bacanya, gara" gatau alamat blog ini, hehehe Keep writing sist!

    BalasHapus