Kamis, 13 Oktober 2011

Guratan Kisah

Kamu pernah ada, akan selalu ada..
Kalau bukan dirimu yang menemaniku,
ijinkan kisah kita melakukannya..


***

Aku duduk di tengah canda tawa kawan lamaku. Dengan bola mata yang coba mencuri langkah ke ekor kelopaknya untuk memindai seluruh ruangan yang sudah terlihat sangat manis dengan berbagai hiasan. Dan akhirnya manik bening ini lelah, memutuskan untuk berhenti pada satu titik, pintu masuk utama dengan plang bertuliskan SMA Cakra Buana yang bertengger di atasnya. Lampu-lampu yang mengitarinya berkedip silih berganti menyambut setiap yang datang. Namun aku tak menemukannya, dia, alamat untuk sejumput rindu yang masih tersimpan di dada.

“cari siapa, Ai?” tanya Rian mengagetkanku, melamurkan semua lamunanku. Aku juga yang salah, tanpa aku sadari kepalaku telah menoleh penuh didorong rasa penasaranku. “Radith?” tanyanya lagi, kali ini dipulas dengan senyum geli di bibirnya. Hampir lima tahun berlalu, dan ia tetap saja tak berubah, dengan caranya yang menyebalkan itu ia selalu mengetahui apa yang aku pikirkan, benar-benar sahabat sejatiku.

Aku hanya bisa memamerkan cengiran kuda, cengiran polosku yang aku ingat sekarang ini jarang aku kembangkan. Aku tak suka berbohong, bahkan untuk hal kecil sekalipun seperti pertanyaan sepele yang biasanya disembunyikan jawaban jujurnya seperti ini, ada dua alasan, kata itu sangat tidak enak didengar, dan alasan kedua kalau hal kecil saja tak dapat kita lakukan apa lagi yang besar?!

“Rian?” sapa sesorang dari balik tubuhku, penuh semangat dan kegembiraan, pada Rian yang berdiri berseberangan denganku. Sebuah suara yang membuat jantungku berhenti berdetak untuk sekejap dan seterusnya tubuhku beku, tak mampu lagi bergerak, tak berani melihat sumber suara, karena tanpa itu pun aku tau pasti siapa dia.

“woyo.. Radith!!” balas Rian tak kalah semangat sambil mejulurkan tangannya untuk dijabat penyapanya. Dan terbukti intuisiku sama sekali tak salah. Aku sedikit melirik pada dua tangan kokoh yang masih saling bersalaman itu, aku pastikan jika Rian, si raja usil itu akan berbuat macam-macam, dan... dugaanku salah, tangan Rian menarik tangan Radith hingga pria yang dapat aku tangkap sedang mengenakan setelan celana jeans hitam yang dipadu dengan kemeja hitam yang lengannya ia lipat hingga ke siku itu berdiri sejajar dengannya. “pak direktur, masih inget dia enggak?” Rian berkelakar dengan telunjuk tangan kirinya mengarah tepat pada wajahku, sementara lengan kanannya merangkul pundak Radith, yang mau tak mau membuatku mendongak dengan raut penuh aura neraka pada pria tinggi tambun itu.

Kini, tepat di hadapanku aku menemukan kembali senyum yang aku rindukan. Pria tinggi hitam manis itu berdiri tegak di hadapanku, memamerkan gigi gingsulnya yang justru membuat lengkungan bibirnya makin mempesona, ditambah lagi lesung pipit di pipi kanannya. Ya Tuhan, dia tetap sama, dia tetap mempesona.

“hallo... jenong,” sapanya dengan senyum yang lebih lebar, tangannya sekarang terulur lurus di hadapanku.

Aku mendengar keraguan saat ia mengucap panggilan sayangnya padaku saat kami masih bersama merajut kisah itu. Yang hasil rajutannya mungkin masih aku kenakan hingga kini.

“hai, ltem, that’s so nice to meet you, again.” Balasku sambil menjabat tangannya penuh kekawatiran jika ia akan merasakan betapa dinginnya tanganku saat ini.

Tanpa menunggu detik berganti, ia tertawa terbahak-bahak, entah karena apa. Sungguh ia tetap sama, tetap menyebalkan. Aku hanya bisa memajukan bibirku dan membentuknya menjadi kerucut. Tak ingatkah ia aku tak suka tawa penuh pelecehan itu?

“jangan manyun-manyun, Ai! Jelek!”cela Rian ikut-ikutan, namun setelah itu ia pergi meninggalkan kami berdua tanpa pamit, permisi, atau apapun.

“udah puas ketawanya?” tanyaku sebal pada Radith yang baru saja menghentikan tawanya. Ia hanya mengangguk sambil memegangi perutnya. Kurang ajar.

“kamu bener-bener berubah! Bukan Ai-nya Radith lagi!” ucapnya masih di sela sisa tawanya.

Aku semakin memajukan bibirku. Dan saat itu pula aku sadar jika segalanya memang sudah berubah. Aku bukan lagi seorang siswi dengan dandanan seadanya, rambut hanya dikucir ekor kuda asal-asalan, sepasang sepatu keds yang nyaman, rok menggantung beberapa centi meter di atas lulut dan kemeja seragam yang keluar dari persembunyiannya di dalam rok, hal yang sering menjadi bulan-bulanan para guru. Aku sekarang adalah seorang Financial Advisor yang memang dituntut untuk selalu tanpil rapi dan anggun. Saat ini pun aku berdandan begitu feminin dengan short dress biru muda, rambut digerai, dan kakiku aku relakan untuk dialasi sepasang highheels silver.

“kamu pikir kamu nggak berubah? Radith si preman cicak sekolah sekarang bermetamorfosis jadi eksekutif keren begitu, jujur, aku nggak pernah ngebayangin.” Tuturku, masih dongkol rasanya. Aku saja tak bereaksi seradikal itu tentang perubahannya yang drastis, hingga aku tak menemukan lagi preman yang selalu menjadi incaran guru-guru dahulu.

“nggak ada yang nggak berubah dari kita berarti,” simpulnya yang kini telah sepenuhnya berhenti tertawa.

“kisah kita yang nggak akan berubah, atau bahkan nggak akan bisa dirubah.” Selorohku. Kali ini ganti aku yang terkekeh geli.

Tawaku terhenti saat aku menyadari ia menatapku. Bukan tatapan bak busur panah, seumur-umur aku mengenalnya ia tak pernah melayangkan tatapan yang memporak-porandakan seperti itu darinya. Namun, dalam posisi biasapun memang tatapannya tajam.

Tanpa menunggu reaksiku selanjutnya ia menarik tanganku, sedikit kasar, masuk ke dalam sekolah. Pada akhirnya aku pasrah dan mengiringinya berjalan di sepanjang selasar. Ia membawaku kembali terjerembab masuk ke dalam masa lalu, kedalam kisah itu..

***

Kisah ini tentang aku, aku bukan seorang tokoh dongeng dengan sejuta pesona yang ditawarkannya, aku hanya seorang siswi biasa. Aku tidak cantik, tidak berambut elok, tidak tinggi semampai, biasa saja, sama seperti tokoh yang tak pernah teranggap dalam cerita Putri Salju atau Cinderella. Prestasiku juga biasa, bisa dicapai setiap orang dengan kemauannya, hanya menempati posisi tiga teratas pararel di sekolah setiap semesternya. Maaf jika kesannya aku sombong, tetapi tak ada hal lain yang bisa aku banggakan selain itu.

Aku saat ini duduk di bangku kelas sebelas di sebuah sekolah menengah atas di kota kebanggaanku, Yogyakarta. Di sekolah aku bukan orang yang menjadi pusat perhatian dimanapun aku berada, bahkan menurutku cenderung terabaikan. Semuanya biasa saja. Di OSIS aku hanya menjabat seksi kewarganegaraan, tak terlalu penting. Namun aku tak pernah menyangka jika aku yang biasanya invisible ini bisa mendapat sebuah kebanggaan, berada di sisinya, dia yang luar biasa, ia yang juga ku anggap harus dilenyapkan dari area sekolah, namun akhirnya aku merasa kecil di hadapannya.
Seperti pagi biasanya, pagi ini pun aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan senyum yang aku suguhkan saat berpapasan dengan orang yang aku kenal. Langkahku besar-besar, mengingat ada tugas yang harus aku kumpulkan hari ini tetapi belum aku selesaikan.

Tak ku sangka jika pagi itu emosiku akan diuji, melihat bangkuku yang terletak di sudut kanan paling belakang kelas sudah ditenggeri si preman sekolah, Raditya Buana, bersama komplotannya, genk paling terkenal di sekolah. Harus aku akui, kebanyakan dari mereka memang berpenampilan wah, cukup tampan dan keren sehingga menjadi incaran banyak siswi, ditunjang dengan mereka yang berdompet tebal. Tapi sumpah, aku sama sekali tak silau.

“Dith, minggir lah! Gue mau duduk.” Usirku tanpa basa-basi.

“gue duduk sini, Ai, bosen sama Adit.” Jawabnya seenaknya.

“Alia gimana?” aku menyebutkan nama sahabat karibku yang selalu duduk di bangku yang kini ditempati Radith.

“lo sama Lia kan sama-sama pinter, nggak baik kalo duduk barengan terus, sekali-kali lo duduk sama gue.”

Ingin sekali rasanya saat itu aku menamparnya bolak-balik. Seenaknya saja orang ini. Beberapa waktu ke depan aku habiskan untuk berdebat habis-habisan dengannya. Biasanya, aku selalu menang jika beradu argumen seperti ini, namun kali ini, seorang Raditya yang aku anggap “tak punya otak” dengan mudahnya mementahkan apa yang keluar dari mulutku. Sampai akhirnya aku menyerah, mengiklaskan nasib karena malas adu mulut lebih lama dan terutama karena mengingat bu Lastri, guru Bahasa Indonesia atau yang lebih dikenal dengan satpam sekolah karena “kesadisannya” sudah memasuki kelas.

“Radith..” sapanya sambil memusatkan perhatian ke mejaku, jelas terdengar nada heran di sana. “kamu tumben duduk sama Ai?” lanjutnya.

“mau tobat, Bu!” jawab Radith lugas. “sukur kalo bisa tiap hari begini, bu! Kayanya saya bisa jadi anak manis.” Imbuhnya dengan nada imut dibuat-buat, kontan memecahkan gemuruh tawa seisi kelas.

“kalau begitu, duduk saja kamu di situ seterusnya!” titah bu Lastri seenaknya, membuat moodku semakin buruk saja.

“Lia gimana, Bu?” aku mencoba berkelit.

“sama Linda juga tidak masalah.” Jawabnya sewenang-wenang sambil membuka buku paketnya.

Aku mendengus sebal sambil melayangkan tatapan memunuh pada Radith yang sudah menyeringai lebar penuh kemenangan.

“benci sama cinta itu beda tipis loh, padahal biasanya cewek yang deket gue itu langsung jatuh cinta.” Bisiknya setelah mendekatkan bibirnya ke telingaku agar ia bisa berbicara pelan karena pelajaran sudah dimulai namun juga agar aku dapat mendengarnya dengan jelas. Ku dorong kuat-kuat wajahnya yang sedang terkekeh geli dengan telapak tanganku.

“dasar item!” celaku, begitu saja meluncur dari bibirku.

“jenong!” sahutnya tak mau kalah, namun tatapannya kini sudah terfokus pada deretan kalimat yang sedang ditulis bu Lastri di papan tulis.

Aku menelan sendiri kedongkolanku karena apapun yang aku lakukan untuk mengerjainya justru membuatku makin jengel, tak ada hal lain yang bisa aku lakukan kecuali diam sambil membayangkan jalan takdirku ke depan jika harus terus berdekatan dengan orang setengah waras ini.

***

Hari ini kelas begitu hening, menikmati ketegangan saat pak Yanuar, guru BK kami menyampaikan “tausiyah”nya dengan tatapan tajam yang terarah pada kami satu-persatu. Sebab kemarahan beliau hingga memblokir jam mengajar pak Misran adalah tawuran yang dilakukan beberapa siswa sekolah kami dengan sekolah lain. Kalau sudah begini, guru-guru suka seenaknya, yang tidak siswa dan siswi yang tidak mengerti apapun juga menjadi korban mereka, padahal aku yakin jika mereka telah mengantongi nama tersangkanya, kalau tak tahu, jelas bukan hanya kelas kami yang diadili.

“bapak tidak akan menyebutkan siapa tersangkanya, tapi bapak harap kalian mengaku sebagai ksatria!” pak Yanuar mengakhiri pidatonya. Guru berperawakan tinggi dan berkulit hitam karena terlalu sering tersengat matahari itu kembali menatap satu persatu dari kami, namun dalam diam.

Aku membuang tatapanku ke cendela, menerawang ke gumpalan awan yang berarak-arakan dengan langit biru sebagai lintasannya. Bosan sekali rasanya. Aku rasa pak Yanuar sedang melakukan perbuatan yang sia-sia karena menurutku pasti mental pelakunya tak ubahnya kerupuk, kena angin sedikit renyahnya hilang. Tak mungkin mereka mengaku karena nyali mereka kecil, tak punya tanggung jawab sama sekali.

Dugaanku salah. Aku tercengang saat tiba-tiba saja Radith mengundurkan kursinya kemudian mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya.

“saya, Pak! Saya yang tawuran kemarin.” Ucapnya dengan nada yang membuat rahang bawahku lebih susah lagi terkatup, dengan ringannya ia mengakui kesalahan besar yang baru saja ia lakukan, seakan yang baru saja dikatakannya adalah –saya-bisa-mengerjakan-soal-itu-. Kemudian ia berjalan di sela baris sambil memasukan kemeja seragamnya yang sebelumnya ia biarkan menjuntai indah ke dalam celana.

Ya Tuhan, yang lebih gila lagi, Radith berani menatap mata pak Yanuar secara langsung, tatapan yang bahkan sudah berhasil membuat seluruh murid di kelas menundukan kepalanya dalam-dalam karena ketakutan.

“kenapa kamu melakukannya?” interogasi pak Yanuar.

“mereka ngerusak motor kita, Pak.” Dan tak ada nada ketakutan yang terdengar sama sekali dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“sama siapa saja kamu?”

“saya kan udah berandalan, Pak, masa bapak mau nyuruh saya jadi orang yang nggak setia kawan juga?” jawab Radith santai, tapi maksud dan kata-katanya telak membuat pak Yanuar susah payah menelan ludahnya.

Goal! Kalau saja aku tak memiliki rasa hormat pada Pak Yanuar, oke, kalau saja aku memiliki nyali sebesar milik Radith, aku akan bertepuk tangan keras untuknya. Sebuah sorakan menggema di otakku, ‘He is a true gentle man!’ pertama, dia bukan hanya berani berbuat, namun juga bertanggung jawab, yang kedua, kejujurannya pantas diacungi jempol, ketiga rasa kesetiakawanannya, dan yang terakhir, ia tak gentar sama sekali membela apa yang ia anggap benar.

Serentak aku merasakan ratusan kupu-kupu berdansa di perutku, menimbulkan kelitkan halus namun begitu nyata di hatiku dan membuat jantungku tersentak-sentak. Gemuruh sorak kekagumanku serentak berubah menjadi tanda tanya besar, ada apa dengan diriku?

“bapak hukum kamu membersihkan seluruh toilet!” pak Yanuar menjatuhkan vonisnya. Suara tegasnya membuatku kembali memusatkan pandanganku ke arahnya, dan Radith tentu saja. Dari bangkuku yang memungkinkanku melihat sebagian besar kelas secara bersama-sama, aku melihat beberapa orang yang aku ketahui anggota genk Radith menatap ketua tanpa pengangkatan mereka penuh permohonan maaf. Banci, kata itu langsung saja meletus di otakku tanpa perintah. Dan apa reaksi Radith yang kulihat? Ia hanya mengibaskan poninya yang sebenarnya tidak terlalu panjang penuh ke banggaan. Membuat seluruh isi kelas terkikik menahan tawa.

“Radith bersihin kamar mandi bisa masuk angin!” seloroh Riva cukup keras setelah pak Yanuar dan Radith keluar kelas, cukup membuat ketegangan di wajah teman-teman Radith yang terselamatkan jiwanya sedikit mengendur. Riva adalah teman cewek yang paling dekat dengan Radith sejak kelas satu.

Selama ini aku hanya tahu siapa dan bagaimana Radith dari cerita-cerita teman-temanku, itupun hanya angin lalu yang tak pernah ku anggap. Meskipun cewek, aku tak terlalu suka gossip, tak penting dan tak punya hak untuk membicarakan dan mengomentari sesuatu yang tak kita ketahui sampai akarnya. Dari sekian banyak kabar hanya aku ingat jika Radith itu banyak yang naksir, Radith itu berandalan dan menjadi center attentionnya para guru, dan yang terakhir ia memiliki hubungan spesial yang sudah cukup lama terjalin dengan kakak kelas yang bernama Nada. Masih banyak lagi kabar tetangnya, namun hanya itu yang aku ingat karena bukan hanya sekali dua kali aku dengar, sering bahkan.

***

Berhari-hari berlalu sejak kejadian itu. Sejak saat itu juga aku merasa semakin nyaman dekat, bicara, dan bertukar pikiran dengan seorang Raditya Buana. Yang menarik darinya adalah dia selalu bisa menempatkan diri sebagai seorang pemimpin, mengajar tanpa menggurui. Pikirannya sulit ditembus dan disangkal. Semakin lama juga aku makin tak heran jika ia memiliki banyak sekali teman.

Dan entah mengapa dua jam ini pikiranku dipenuhi oleh segala sesuatu tentang Radith. Rasanya ingin sekali bertemu dengannya untuk sekedar adu mulut. Aku melirik kursi kosong di sebelahku yang kosong ditinggal pemiliknya, ia tak masuk, atau belum masuk tanpa keterangan yang jelas.

Ku jawil pundak Adit yang duduk tepat di depanku. “Dit, Radith kemana?” tanyaku sedikit berbisik karena tak ingin mengganggu guru yang sedang mengajar. Aku yakin karibnya ini tau dimana Radith.

“nggak tau gue.” Jawab Adit. Kecewa juga mendengar jawabannya, namun tak ada yang bisa aku lakukan.

Jam istirahat aku memilih tetap di kelas, ajakan Lia sampai Adit untuk ke kantin aku tolak. Malas sekali rasanya. Aku sembunyikan wajahku di dalam lipatan tanganku yang disangga meja. Sejenak mencoba memejamkan mata karena rasanya lelah sekali tanpa sebab.

BRAK!

Suara suatu benda yang dibanting kasar tepat di samping kepalaku. Dengan malas aku tengadahkan kepalaku dan mendengus malas setelahnya. Radith berdiri di sebelahku lengkap dengan cengiran tanpa dosanya. Jaket kulit hitam yang sering ia pakai masih melekat di tubuhnya, tanda ia memang baru saja sampai.

“sekali preman cap jengkol ya tetep aja begitu.” Sindirku seolah tak peduli.

“kangen aja lo sama gue? Iya kan?” tuduhnya sambil membanting tubuhnya ke kursinya. Entah mengapa dakwaan sok tahu itu terasa sangat telak untukku.

“sotoy!” hardikku sambil memberesi buku bekas pelajaran sebelumnya, masih berpura-pura acuh.

“kata Adit lo gelisah mulu dari tadi? Terus nanyain gue?” aku rasa bila diteruskan penyakit geernya akan semakin meraja lela. “Ai, ajarin pelajaran yang gue lewatin tadi dong, takut ketinggalan.” Pintanya sambil menahan tanganku untuk memasukan buku yang telah aku tata rapi-rapi. Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan jantungku berhenti berdetak dalam tiga hitungan, dan setelahnya berdebar tak terkendali, persis sama dengan saat merasakan kafein dari kopi yang kita minum saat tangan kokohnya menggenggam lembut tanganku.

Tak ambil pusing aku buka kembali bukuku, mulai ku terangkan materi yang Radith lewati tadi. Perlahan, aku coba pilih kata yang paling mudah dan ringkas untuk dipahami, bukan karena aku manganggap ia bodoh, tapi aku mulai tahu jika ia tak suka hal yang terlalu berbelit-belit. Satu soal matematika sejenis dengan yang tadi diajarkan pak Misran aku kerjakan pelan-pelan, paket lengkap dengan penjelasannya. Ada yang aneh, dia tak merespon sama sekali. Aku menoleh ke arahnya. Dan apa yang ku dapati? Radith bukan memperhatikan kertas yang aku gunakan untuk menerangkan malah justru menatapku, seakan mencari sesuatu yang janggal dari wajahku. Dan saat tatapan kami berpapasan, sorot matanya menajam, jantungku yang sudah berangsur berdetak normal kini kembali bekerja ekstra, aku melihat ada yang berbeda dari caranya menatapku, sama sekali berbeda dengan cara Rian, Adit, Galih, atau teman cowokku yang lain memandangku.

“ngerti, Dith?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatian. Pipiku sudah seperti dipanggang rasanya, dan saat itu udara mendadak menjadi sangat panas.

“ngerti..” jawabnya sedikit menggantung sepertinya ia juga mencoba untuk kembali menormalkan keadaan.

“kerjain yang ini!” perintahku sambil menunjuk sebuah soal dari beberapa deretan soal di buku paketku.

Aku lihat Radith justru nyengir lebar sambil menggaruk kepalanya, menyiratkan jika sebenarnya ia tak mengerti. Aku mendengus kesal dan melayangkan tatapan marah padanya.

“tadi bilang ngerti?” makiku.

“gue bisikin sini!”

Dengan polosnya aku mengikuti perintahnya, mendekatkan telingaku padanya.

“ngerti, kalo tadi pipi kamu merah.” Bisiknya di sambung siulan tanpa dosa yang melengking nyaring dari bibirnya.

Spontan aku memukul bahunya gemas. Sama sekali aku tak mengerti apa maunya sekaligus malu setengah mati.

“Ai,” panggilnya setelah beberapa saat keheningan tercipta diantara kami. Aku menoleh dengan tatapan mengisyaratkan aku menanggapinya. “gue pengen berhenti sekolah,” lanjutnya serius, yang membuat rahangku menganga karena terkejut.

“kenapa?” tanyaku mencoba kembali sebiasa mungkin.

“pengen kerja.”

“orang tua lo nggak sanggup bayarin sekolah lo?” yah, aku tahu itu pertanyaan bodoh, karena terakhir aku tanyakan padanya, apa perkerjaan orang tuanya ia menjawab jika ayahnya seorang direktur di sebuah perusahaan swasta.

“bukan! Gue aja yang pingin.”

“bego! Gue tau lo cerdas soal bisnis, main game aja bisa dapet duit, tapi emang lo nggak pengen banggain orang tua elo? Mereka kerja itu prioritasnya untuk biayain sekolah elo, setidaknya harailah usaha mereka.” Nasehatku bijak. Aku lihat sebuah senyum mulai terperdar di bibirnya, demi apapun itu adalah senyum termanis yang pernah aku lihat. Untuk kesekian kali jantungku berdebar hebat, dan kini aku yakin jika pipiku sudah menjadi semerah tomat.

Tangan Radith terulur untuk mengacak-acak puncak kepalaku yang telah terikat rapi ekor kuda, mau tak mau kini menjadi berantakan tak karuan. Sejenak aku terdiam, nyaman sekali rasanya, perlakuan seperti ini bukan hanya sekali dua kali aku dapatkan dari seorang cowok, karena aku memang dekat dengan banyak cowok, namun yang lain justru membuatku emosi, tak seperti ini.

“baru lo cewek yang berani nentang apa mau gue.” Ucapnya sambil merogoh saku celananya. “gue punya hadiah buat lo.” Lanjutnya setelah beberapa saat sibuk dengan aktivitasnya.

“nih!” ucapnya sekali lagi sambil melemparkan sesuatu ke arahku

“RADITH!!! ITEM!!!” pekikku histeris hampir bertepatan dengan sampainya buntalan plastik kecil bening yang ia lemparkan, aku terlonjak dari kursiku mengejar Radith yang sudah lari tunggang langgang dengan tawa yang membahana. Isi bungkusan “hadiah” Radith tadi adalah seekor cicak kecil, binatang yang menurutku bahkan lebih jelek dan mengerikan daripada monster sekalipun.

Scene yang menurut teman-temanku justru seperti adegan film India pun terjadi, kami berkejar-kejaran hampir ke seluruh penjuru sekolah. Dan saat itu aku merasakan jika dunia menjadi milikku seutuhnya, begitu lepas.

***

Perlahan namun pasti ikatan tanpa status itu terjalin. Aku bahkan lupa sejak kapan kata sapaan elo-gue itu berubah menjadi aku-kamu dan adanya kata kita, sejak kapan kata sayang itu sering aku dengar dari bibirnya, kapan aku memberinya izin untuk menggenggam tanganku atau merangkul mesra bahuku. Semuanya mengalir begitu saja, tanpa bisa aku bendung. Dan gilanya aku nyaman dengan hal ini. Aku tahu sampai saat ini pun Radith masih berstatus pacar kak Nada. Aku tahu, sadar bahkan jika apa yang aku lakukan ini egois dan sangat salah, namun apa dayaku?

Banyak teman seangkatan kami yang menyangka pernah tercetus kata jadian di antara kami, membuat hatiku tertohok, karena sebenarnya kata itu tak pernah terucap.
Oh ya, sedikit cerita selain menjadi siswi aku juga memiliki perkerjaan sampingan sebagai “tempat sampah” teman-temanku. Ada saja orang yang mencariku untuk berbagi cerita. Salah satu pelanggan tetapku adalah Adit, sering sekali dia mencariku hanya untuk menuangkan semua uneg-unegnya, soal apa saja, soal wanita, soal keluarga, soal pelajaran, dan yang terakhir adalah perlakuan sewengang-wenang Radith padanya yang menurut penuturannya disebabkan kedeketannya denganku. Aneh. Dan dia memang aneh.

“Ai, Ninda kenapa ngambek mulu sama gue ya?” Adit memulai curhatnya, seingatku saat itu adalah jam istirahat terakhir. Aku mendengarkannya sambil melengkapi tugas untuk jam terakhir

“elo-nya over protective, gue kemarin dengar cerita Ninda, dan gue juga ikut illfeel sama elo.” Jawabku jujur, sama sekali perhatianku tak terlepas dari buku.

“elo illfeel sama gue?” tanyanya, terdengar sangat tidak biasa untukku.

“idih.. santai! Kenapa emang kalo gue illfeel sama elo?!” sedikit membentak dan melotot padanya aku lancarkan pertanyaan itu, karena sungguh, aku tak suka nada bicaranya yang seakan menuntut sesuatu.

Adit diam, memandangku begitu dalam, dan jika bukan aku yang berada di posisi ini sekarang, aku jamin sudah terbang. Ditatap dengan cara seperti itu oleh pria tampan, matanya tajam, dan tatapan itu seakan menyampaikan jawaban dari pertanyaanku. Perlahan tangannya terulur ingin meraih tanganku yang ada dipangkuanku. Namun tiba-tiba saja...

BRAK!

Aku hanya bisa melongo dengan rasa ngeri melihat Adit terjungkal karena kerah kemejanya ditarik kuat-kuat, dan setelah aku menggeser sedikit penglihatanku, ada Radith yang berdiri tegap dengan nafas memburu dan mata penuh sorot neraka. Aku belum pernah melihatnya semarah itu sebelumnya.

“Stop!” perintahku sambil menahan lengan Radith yang sudah bersiap melayangkan sebuah tinju ke muka Adit. Bersyukur, Radith belum terlalu kesetanan dan masih bisa menuruti perintahku. “dia sohib lo!” desisku sambil membantu Adit berdiri.

BRAK!

Sekali lagi aku dengar suara tak enak itu karena Adit menggebrak meja, tak terima dengan perlakuan Radith.

“cemburu? Dia siapa lo?” tanya Adit kalem, namun pasti berefek sangat dahsyat bagi Radith, karena aku juga merasa tertohok dengan pertanyaan itu. Tanpa menunggu pertanyaannya dijawab, Adit berjalan keluar kelas, meninggalkan tatapan tak mengerti dari beberapa temanku yang ada di kelas.

Jam pelajaran terakhir, aku memilih untuk tetap diam. Sebal sekali rasanya pada pria disebelahku. Dibalik semua kelebihannya ia juga kadang kekanakan. Tak sadarkah ia kalau aku bukan sebuah mainan miliknya yang hanya ia yang boleh memainkanku? Aku manusia, boy.

“Ai, maaf.” Ucapnya. Sepertinya tak tahan aku diamkan. Aku hanya mendehem tak minat.

“I love you.” Lirihnya sambil tersenyum sangat manis.

“love you too..” jawabku seadanya.

“kita jadian nih?!” pekiknya hampir lepas kontrol. Aku? Hanya terbelalak kaget dengan anggukan kepala setengah karena refleks.

Dan setelahnya, tak ada yang berbeda. Ia kembali diam menatap dan mendengarkan penjelasan guru di depan. Seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Sesimpel dan secepat itu.

***

Kelas sudah hampir kosong, hanya tersisa aku dan Radith, karena sebagian besar penghuninya sudah berhamburan ke laboratorium TIK yang berada di lantai dasar dan untuk menuju ke sana kami harus melewati sebuah tangga tanpa atap pelindung yang memadai sementara di luar sedang hujan lebat, malas sekali rasanya aku harus turun, namun dengan hidup tak mau matipun segan aku beranjak dari tempat dudukku yang hari ini bertukar dengan Radith.

Belum juga sepenuhnya berdiri tubuhku terjatuh kemabali ke tempat semula karena Radith menarik paksa pergelangan tanganku.

“di sini aja, di luar ujan, nanti kamu sakit!” perintahnya sambil memangku gitar yang hari ini sengaja ia bawa dari rumah untuk latihan dengan bandnya sepulang sekolah. Aku menurut saja, toh dari awal aku sudah malas. Kami berdua hanya diam, aku menatap butiran air yang menyergap kaca cendela di samping tempat duduk Radith, sementara Radith sendiri asik menstem gitarnya sambil bersiul sesukanya.

“kamu sama kak Nada gimana?” tanyaku membuyarkan hening. Hanya bahunya yang ia angkat yang ia berikan sebagai jawaban. Aku tahu pasti jika hubungan mereka memang sudah tak jelas sejak beberapa waktu lalu, hal yang membuatku berpikir jika di dalam kisah ini aku hanya berperan sebagai pelarian. “aku cuma hiburan kamu ya?” lanjutku mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku.

“aku pikir kamu bukan orang yang gampang nethink sama orang.” Ucapnya dengan nada biasa saja, namun bagiku seperti vonis hakim. “kalau aku cari pelarian mending sama yang cantik, yang sexy sekalian, bukan kamu!” jawabnya disambung sebuah tawa renyah. Jawaban yang membuatku gondok setengah mati.

“nyebelin!” celaku sambil memainkan ponselku, kembali acuh padanya.

“kamu suka Ada Band kan ya?” tanyanya memastikan karena ia pasti tahu jika jawabannya iya.

Radith mulai memainkan jari-jari kokohnya di atas jajaran senar gitarnya, memainkan sebuah lagu yang sudah begitu akrab di telingaku, lagu favoritku dari band yang cukup aku gemari itu.

Kau auraku..
pancarkan sepercik harapan
Datanglah merasuk..
menjelma, meleburkan cinta
Ku bawa kau terbang
menembus awan yang beriring
kembangkan senyuman
bagai bunga bawa keindahan..


Kau Auraku. Ia memang tak bersuara layaknya malaikat, suaranya juga tak sebagus Afgan Syahreza, sangat biasa bahkan. Namun untukku itu luar biasa. Aku belum pernah membaca ketulusan sebesar itu dari lelaki manapun. Sekejap mataku memanas, seakan ingin memproduksi air mata berlebih, namun aku tahan, tak ingin scene ini terlalu nampak seperti sinetron.

“aku sayang kamu.” Ungkapnya sambil menatapku dalam. Sejenak aku seperti tak mendengar suara apapun, rasanya damai sekali tenggelam dalam tatapan itu. Tak akan ada waktu yang aku sia-siakan, dan nampaknya hal itu lebih disadari olehnya, perlahan ia menghapus rentang jarak antara kami, entah apa kuasanya sehingga aku tak sanggup menolak, and the end, we kissed.

***

Setahun berlalu, segala kisah manis itu kini telah berubah menjadi kenangan. Seperti saat ini, aku hanya sibuk memantul-mantulkan bola basket di lapangan sekolah yang sepi karena sebagian besar warganya masih belajar di kelas dan sementara kami siswa-siswi kelas tiga yang hanya tinggal menunggu hasil ujian akhir tak memiliki banyak kegiatan.

Basket, ia yang mengenalkan olah raga ini padaku. Aku tidak jago, hanya saja aku yang dulunya sama sekali tak bisa kini sedikit-sedikit mengerti. Dulu ia memintaku belajar agar dapat menemaninya berlatih. Sepertinya aku lupa bercerita jika ia adalah kapten basket periode lalu, saat masih kelas dua.

Setelah kenaikan kelas hubunganku dan Radith merenggang karena baru aku sadari jika kami memiliki ego yang sama-sama besar, selalu berpegang pada prinsip masing-masing yang tak selalu sama. Namun tak pernah ada kata apapun yang terucap dariku ataupun darinya untuk menutup hubungan kami. Seperti pada saat memulainya, berakhirnyapun seakan berlalu begitu saja. Ia mulai tak peduli padaku, dan begitu juga aku padanya.

Semuanya semakin parah saat ia jadian dengan Lia, sahabatku, bukan dengan landasan cinta, namun taruhan Radith dengan teman-temannya yang menantangnya untuk mendapatkan Lia. Aku sudah berusaha mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Lia, dan ia justru menyangkaku cemburu padanya, and then, I don’t care. Aku kehilangan dua orang sekaligus Radith dan juga Lia sahabatku.

***

“maaf!” ucap Radith mengaburkan cerita masa lalu yang kembali terputar seperti sebuah kaset film di benakku.

“santai aja lagi! Toh waktu itu kita masih sama-sama ababil.” Jawabku berbonus senyuman.

“lo pernah nungguin gue balik buat elo?” tanyanya lagi, kini aku mendengarkan nada yang lebih santai daripada tadi.

Sejenak aku mengalihkan perhatianku dari bentangan lapangan basket yang menjadi pemandangan kami sejak tadi padanya. Aku tertawa kecil.

“lo cinta pertama gue, sama lo gue ngrasain ciuman pertama, lo bisa bayangin rasanya kan?” aku kembali diam membiarkannya menyelesaikan tawa kecilnya. “gue pernah nunggu elo, hidup dibelakang bayangan masa lalu bertahun-tahun, tapi gue sadar hidup itu terus berjalan dan bukan cuma soal elo.” Akuku penuh kejujuran.

“elo udah lupain gue?” tanyanya sekali lagi. Berisik sekali pria ini, tak pernah berubah.

“nggak, lo selalu punya tempat di hati gue, karena buat gue setiap nama yang udah melekat di hati gue, selamanya dia di sana, tapi ada waktunya kotak penyimpan nama itu harus ditutup.” Jawabku sambil tersenyum sekali lagi.

“lo cewek yang hebat, kekaguman gue sama elo nggak akan pernah habis, jenong!”
Aku tertawa lepas, malah justru merasa terhina dengan ucapannya barusan.

“gue tau semuanya udah nggak kaya dulu, udah berubah, nggak mungkin bisa keulang lagi kaya dulu.” Kataku sedikit miris, tatapanku menerawang bebas ke langit gelap.

“tapi kemungkinan terjadi cerita lain dengan tokoh yang sama masih bisa terjadi kan? Siapa tau elo takdir gue?! Gue bisa buka lagi kotak hati lo yang nyimpen nama gue!” ucapnya sok, meskipun ada keseriusan dalam kata-kata itu, aku yakin jika sebagian besarnya hanya bualan. Aku mencibir kemudian berdiri dari tempat duduk kayu panjang yang semenjak tadi menjadi sarana kami bernostalgia, kembali lagi ke acara reuni angkatan kami yang pasti sudah dimulai sejak beberapa menit lalu.

Aku tak pernah tahu apa lagi yang akan terjadi nanti, namun hati ini masih mampu menyimpan setiap inci kisah ini. Cerita yang terlalu manis untuk dibuang begitu saja. Aku percaya Tuhan tak pernah menggariskan takdir untuk sebuah hal yang percuma. Dan dia, terimakasih ini selalu terlantun untuknya, karena tanpanya aku tak akan pernah memiliki drama semanis ini. Dan itulah kisahku.

the end...

Minggu, 02 Oktober 2011

Song of Love part 15

hallo pembaca yang budiman.. apa kabar? baik? harus baik! (?)
makasih ya udah mau baca sampai part ini, pake banget makasihnya hehe...
terus, kritik sarannya juga selalu ditunggu loh,
and, I heva a good news, kayanya SoLnya udah mau tamat deh... *tatapan menerawang*
the last one, sekali lagi, aku mohon pake banget, FF ini jangan dicopast kemana-mana, kalo kejadian... nggak tau juga sih bakal ngapain (?) tapi dijamin banyak hal tak terduga bakal terjdi, soalnya penulisnya orangnya moodyan :P
oke? pokoknya jangan dipublish di tempat lain, apa lagi diakui sebagai hasil karyanya, akui aja karya kalian sendiri, pasti lebih bangga rasanya, you all can do more than me, dude! believe it! jangan tunjukin kalo kalian bodoh dengan ngaku-ngaku karya orang lain pokoknya. oke, saya banyak omong. akhir kata I love you and just enjoy it :)


***

Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey you’re the one
Hey hey hey I can’t live without you..


Sayup suara merdu itu tertangkap pendengaran gadis manis yang tak sengaja melewati selasar depan ruang musik untuk menuju toilet. Membuat tubuhnya kembali menegang. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti, tak mampu lagi bersikeras jika ia tak terekat pada segala yang ada pada pemilik suara tenor itu. Falseto yang melengking manis pada ujung bait benar-benar menjadi sebuah magnet statis yang memaksa siapapun pendengarnya untuk memujanya.

I’ll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
‘cause you are my everything..


“suara siapa, Fy?” tanya Sivia setelah tersadar dari ketersimaannya, ia yang juga sedang berada bersama Ify, sama sekali ia belum pernah mendengarkan suara malaikat itu sebelumnya.

“Rio.” Jawab Ify, sangat lirih, bahkan Sivia pun hanya mengetahui jawaban atas pertanyaannya dari gerakan bibir mungil sahabatnya.

“serius?” pekik Sivia sambil melebarkan mata sipitnya, membetuknya menjadi bulat penuh. Namun dengan segera, Ify membekap mulut sahabatnya itu agar seseorang yang sedang menjadi objek pembicaraan mereka tidak menyadari keberadaan mereka. Kemudian Ify menggerakkan kepalanya naik turun mengisyaratkan apa yang dikatakannya tidak salah dan ia tidak bergurau sama sekali.

Dari celah tipis dari sedikit sisa daun pintu yang terbuka, Ify dapat melihat Rio duduk tepat di bawah stage kecil dengan gitar di pangkuannya, jarak mereka tidak terlalu jauh, bahkan hingga Ify dapat memastikan jika mata Rio sedang terpejam. Nampak ia sangat lelah, entah karena apa. Gadis manis itu terhanyut, memanfaatkan kesempatan kecil ini untuk memuntahkan segala rasa yang selalu ia coba tahan kuat-kuat, segenap rindunya pada sosok arogan itu.

Sungguh, Ify benci saat seperti ini, saat pasukan rindu dan serdadu benci berkonspirasi menyiksanya habis-habisan. Saat kedua rasa tersebut seakan menghakiminya, menyalahkan hal apa saja yang ia perbuat. Ia diam, ia memberontak, namun ada hendak dalam hatinya untuk segera memeluk pria yang masih menghuni tahta tertinggi hatinya. Namun, jika ia memilih kembali berdiam pada dekapan Rio, egonya tak akan meluluskannya bagitu saja, enak sekali hidup Rio jika kesalahan sefatal itu tak mendapat ganjaran sama sekali.

Ify terhenyak saat ia mendapati tiba-tiba saja kelopak mata Rio terbuka, tak sengaja membangun kontak dengan bola mata pekatnya. Dan selalu saja, bahkan saat ini, ia selalu kalah dengan Rio jika jendela hati mereka itu beradu. Seperti magnet bumi yang tak pernah mengijinkan apa yang berpijak di atasnya untuk meninggalkannya, sedahsyat itu lah daya tarik sinar mata Rio untuk Ify, gadis itu bahkan tak mampu lagi mengalihkan perhatiannya.

Bibir tipis Rio melengkung, membentuk sebuah senyuman manis penuh euphoria mendapati gadis yang sejak tadi menari di pikirannya saat ini berdiri kurang dari sepuluh meter dari tempatnya duduk. Tak ingin mangsanya kabur, cepat-cepat ia bangkit dan berlari keluar, mencekal pergelangan tangan Ify yang sudah mencoba berlari meninggalkannya.

“semakin lo berontak, semakin sakit tangan elo.” Ancam Rio sambil semakin merapatkan keempat jarinya dengan jempolnya, membuat Ify sedikit mengerang kesakitan karena cengkeraman tangan yang bahkan mampu menenggelamkan kepalan tangannya sendiri.

“Vi, tolong tinggalin kita, dia aman sama gue.” Komando Rio pada Sivia yang sudah terpaku di tempatnya tak tahu harus berbuat apa.

“tapi lepasin Ify, kak..” mohon Sivia tak tega melihat sahabatnya kesakitan.

“pergi gue bilang!” bentak Rio, tegas, tandas. Membuat nyali Sivia seutuhnya mengkerut dan dengan tatapan penuh permohonan maaf ia meninggalkan Ify.

Keduanya diam. Ify masih mengatur nafasnya yang memburu, sedangkan Rio, membiarkan gadisnya itu menjadi lebih tenang agar apa yang akan ia katakan mampu diterima Ify dengan akal sehatnya.

“maaf, nggak ada cara lain buat ngajak lo ngomong.” Ucap Rio setelah Ify terlihat lebih tenang.

“banci banget lo main kasar sama cewek.” Cibir Ify sambil menyandarkan punggung kecilnya pada tembok di belakangnya. Ia sadar, segala bentuk permberontakannya akan sia-sia saja karena dengan mudah Rio dapat mementahkannya. Sedikit banyak ia hanya berpegang pada ungkapan pertahanan yang baik adalah penyerangan yan sempurna.

Rio bersiul keras, kemudian tertawa lepas. “mau cobain gue? Kapan? Dimana?” ucapnya menggoda, garis tebal di atas mata kirinya bergerak naik turun.

Kedua tangan Ify mengepal keras, wajahnya merah padam menahan emosi karena perkataan Rio yang menurutnya sudah kurang ajar.

“santai aja kali, cantik! Gue becanda, gue nggak akan menggoreskan apapun di atas keindahan permata yang ada di depan gue ini.” Jawab Rio kalem, citra diri yang melekat padanya beberapa detik lalu luruh begitu saja. “yah, kecuali kejadian di bukit itu, itu kan lo nggak nolak, lo bales pula, gue yakin sampai saat ini juga baru gue kan yang lo ijinin?” Rio menyeringai tipis melihat wajah Ify yang semakin merah padam.

Setelah memastikan Ify tak akan pergi, Rio menyenderkan punggungnya pada tiang pembatas, hingga jaraknya dan Ify kini menjadi selebar lorong pembatas ruang musik dengan taman sekolah.

“gue kangen banget sama elo, lo enggak?” tanyanya, walaupun ia tahu pasti Ify tak akan menjawab. “demi apapun, malem itu gue bener-bener nggak niat menginkari janji gue buat elo, semuanya terlalu rumit buat gue cerna dalam waktu sesingkat itu.”

“lo pikir gue percaya?” potong Ify, lengkap dengan senyum sarkas di bibirnya.

“harus! Nggak ada option lain selain apa yang gue bilang.” Sahut Rio cekat. “lo pikir gue sebego apa lepasin bidadari macam elo gitu aja?”

“elo nggak cuma bego lagi, Yo! Pake banget malah.” Sahut sebuah suara yang membuat Ify dan Rio serentak menoleh ke sumbernya, mendapati Alvin yang melangkah gagah dengan kedua tangan yang tersimpan di sakunya, lengkap dengan senyum penuh cibiran yang terarah lurus pada Rio yang sudah menatap geram padanya. “lo pikir gue nggak tau kalo mana malem itu? mabuk-mabukan nggak jelas.”

Rio, dan terlebih Ify terperangah dengan fakta yang baru saja diungkapkan Alvin. Dan lagi, kelenjar air mata Ify harus bekerja lebih saat tukak di hatinya yang belum juga mengering harus tersiram asam. Ia biarkan butiran-butiran kristal cair itu mengalir membasahi pipinya, tak ada guna lagi menahannya, biarlah kehancurannya terbongkar.

Tangan Alvin terayun menghapus jejak-jejak air mata Ify. Membuat lawannya dalam kisah ini tersiram cemburu dan menghempaskannya yang memang sudah kalah semakin jauh lagi.

Kedua tangan Rio mengepal kuat menahan cemburunya dan semua amarahnya, dengan beberapa kata Alvin membuat posisinya yang sudah berada di atas angin kembali terjerembab. Dan satu hal yang tak bisa ia terima adalah pukulan telak di ulu hatinya saat kesedihan Ify yang justru tumpah oleh perbuatannya, karenanya yang hanya ingin membuat sebuah lengkungan manis yang senantiasa terukir di wajah cantik gadisnya itu, ditambah dengan adengan tangan kokoh lain –bukan miliknya- yang justru menghapus air mata itu.

“dan di kisah ini, siapa peran antagonisnya?” tanya Alvin penuh kemenangan, lengan kokohnya merangkul bahu Ify, membimbing gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidangnya. “elo, pecundang!” kata-kata Alvin melunjur santai, menjawab tandas pertanyaan yang ia ajukan sendiri sebelumnya. Dan habis sudah Rio di hadapan Alvin kali ini.

Rio hanya bisa diam melihat gadisnya pergi bersama laki-laki lain. Merutuki dirinya habis-habisan atas semua kebodohannya hingga ia kehilangan segalanya. Benar apa yang dikatakan Alvin, jika ada tokoh jahat dalam kisahnya, ia lah pemerannya. Namun terlambat pula baginya untuk mundur setelah seluruh hatinya ditawan gadis manis itu.

***

Gadis cantik itu menggoyangkan kedua kakinya naik turun, silih berganti, matanya terpejam menikmati sentuhan lembut sang anggin di seluruh kulit tubuhnya, membawa helaian rambut panjangnya ikut menari. Sementara pria tampan yang juga duduk di sebelahnya asik mencabik senar-senar gitar yang terbaring manis di pangkuannya. Shilla dan Cakka yang memilih menghabiskan waktu istirahat panjang mereka sebelum pendalaman materi di atap gedung, duduk berdua pada pembatas berpanorama shaft atap rumah penduduk yang dibingkai hamparan sawah yang masih tersisa di tengah gerusan pembangunan.

Shilla membuka matanya, sedikit melirik wajah Cakka di sebelahnya, wajah berhias rambut yang berantakan dan sedikit basah oleh keringat karena sebelum ke tempat mereka diam sekarang pria itu sempat bermain basket. Hal yang justru membuatnya terlihat keren. Aroma khas dari tubuh Cakka yang menyambar indra penciumannya justru seakan berubah menjadi iringan rampak gendang yang membuat kupu-kupu di perutnya menari lincah dan menimbulkan usikan-usikan halus di hati gadis itu. Entah sejak kapan getaran itu mulai hadir untuk pria di sebelahnya itu tanpa bisa ia cegah. Bahkan ia tak tahu sejak kapan ia mulai terhanyut dengan setiap pergatian yang Cakka beri padanya, dan pada akhirnya membuatnya merasa nyaman. Rasa yang berusaha ia tepis kuat-kuat karena ia milik laki-laki lain yang sungguh ia cinta.

“Shill..” panggil Cakka melamurkan lamunan gadis di sebelahnya. Sebuah tatapan bertanya dilayangkan Shilla untuk menjawab Cakka. “gue pengen curhat.” pinta Cakka yang kini sudah menatap sepasang manik mata Shilla, diakhiri dengan sebuah tawa yang sedikit dipaksakan.

“ya curhat aja, kaya biasanya gimana.” Jawab Shilla berpura-pura acuh.

“gue lagi jatuh cinta, menurut lo gue harus gimana?” aku Cakka dengan raut yang bahkan baru pertama kali Shilla melihatnya, raut wajah yang benar-benar serius.
Shilla terhenyak. Terbangun seutuhnya dari dalam khayalannya. Ada sentilan pelan di ulu hatinya, sedikit rasa tidak rela dengan apa yang baru saja Cakka ungkapkan.

“eh, nggak jadi deh, lupain aja!” instruksi Cakka saat menyadari raut berbeda dari wajah Shilla. “lo sama Gabriel pacaran?” lanjutnya.

Dasar hatinya penuh ketidakrelaan untuk mengakuinya, namun perlahan Shilla mengangguk dan kemudian tak berani lagi menatap Cakka. Entah karena apa, mungkin karena dengus kekecewaan yang sempat ia dengar dari pemuda itu yang membuat dadanya ikut sesak.

“kalian berdua cocok kok.” Menutupi kekecewaannya Cakka kembali memfokuskan perhatiannya pada dawai-dawai gitarnya. “patah hati deh gue.” Keluhnya jujur, namun ada nada canda di sana untuk menyamarkan apa yang sedang ia rasakan.

Sekejap wajah Shilla terangkat, matanya terbelalak lebar, jujur ia terkejut dengan pengakuan Cakka. Berbagai rasa berkecamuk di hatinya, antara tak ingin menyakiti siapapun, namun ada sedikit bahagia menyeruak di sana, sebuah rasa yang ia yakini salah.

“becanda!” ucap Cakka dengan senyum palsu yang terukir di bibirnya. Tangan kanannya tergerak untuk mengacak-acak puncak kepala Shilla. Ada rasa yang membuncah di hati pria tampan itu saat gadis pencuri hati yang ada di hadapannya itu kini selalu mengijinkannya untuk menggenggam tangannya, membelai puncak kepalanya, bahkan merangkulnya. Ia berhasil membuat gadis itu nyaman di sisinya dan membiarkan rasanya mengalir. Jahat memang karena ia juga mengetahui jika gadis di sisinya itu telah ada yang memiliki, ia masih berpegang jika cinta tak salah, ia masih mengerti cinta tak pernah punya GPS untuk menunjukkan kemana ia harus pergi maka dari itu cinta tak pernah peduli dimana ia akan hinggap. Tak salah jika seorang pria akan menaruh hati pada gadis cerdas, pengertian dan begitu baik seperti Shilla, terlebih ia cantik.

***

Tepat di balik tembok pelindung tangga gedung yang ia gunakan sebagai tameng persembunyian, Gabriel yang sengaja membuntuti kekasihnya dan Cakka mendengar semua yang mereka bicarakan dengan kedua tangan yang mengepal keras saat mendapat bukti bahwa dugaannya selama ini tak salah. Ingin rasanya ia keluar dari tempatnya sekarang dan menghajar pria yang lencang ingin mengambil tempat terindahnya, di hati dan di sisi gadisnya, namun ia yang masih memiliki sisi ketenangannya tetap diam, ia sadar pergerakannya hanya akan memperkeruh suasana, toh belum ada kata cinta tersurat dari keduanya, pasti Shilla hanya akan menilainya pencemburu berat. Namun ia lelaki, begitu pula Cakka, ia pasti dapat dengan mudah membaca getar yang coba disampaikan pria itu pada gadisnya.

Rasa tak ingin kehilangan itu benar-benar membelenggunya. Mengancam akal sehatnya. Hanya satu yang bisa ia pegang, kepercayaannya pada Shilla. Saat ini ia benar-benar merasa bila sang waktu mulai menunjukkan kuasanya, mengitainya dengan dendam membara karena perbuatannya di masa lalu, karma akan segera menuntut balas.
Tak tahan, Gabriel memilih kembali menuruni tangga, tak membiarkan kekalutannya tersalurkan, biarlah ia pendam. Membebaskan sang waktu melaksanakan apa yang ditulisnya. Apa yang terjadi, terjadilah.

***

Gemerincing bunyi rintikan air hujan yang beradu dengan benda apa saja yang diterjangnya menjadi latar suara sore ini. Menemani gadis manis yang masih berdiri sendirian di lobi sekolah setelah menuntaskan ektra musiknya. Berkali-kali dilongokkan kepalanya menuju arah jalanan mencari sosok atau paling tidak mobil Alvin yang sudah berjanji akan menjemputnya. Nihil. Sama sekali pria berkulit putih itu belum terlihat batang hidungnya.

Hawa dinginpun mulai tak mampu lagi ia tahan karena tubuh mungilnya hanya terbalut blus seragam yang jelas tidak banyak membantu pada cuaca seperti saat ini. Bibirnya terus meniup kedua telapak tangannya untuk setidaknya mendapat sedikit kehangatan. Kedua bola mata beningnya terarah lurus pada percikan air bening yang sampai di permukaan tanah dan menimbulkan riak-riak kecil. Peristiwa yang sangat biasa untuk kebanyakan orang, namun tidak untuk Ify. Sebuah pikiran yang berkembang di otaknya, sebutir air hujan yang turun menggambarkan sesuatu usikan yang datang menerpa kehidupan manusia, menimbulkan gelombang, perubahan pada tenangnya hari, kemudian berlalu begitu saja tanpa prasasti kenangan. Tak ada yang abadi, tanpa ada sisa.
Sampai ia merasakan sedikit kehangatan dari sebuah jaket yang tiba-tiba saja terselempang di kedua bahunya tanpa permisi. Ify menoleh, memastikan kebenaran dugaannya tentang siapa pemilik jaket putih itu.

“kak Gabriel.” Ucap Ify lirih setelah mendapati sosok Gabriel yang berdiri di balik tubuhnya dengan sebuah cengiran polos. Entah apa yang Ify rasakan, satu sisi ia merasa lega karena dugaannya bahwa orang yang menyelimutinya bukan lah Rio, namun di sisi lain ada sebuah rasa yang coba ia bunuh, sebuah rasa kecewa karena kenyataannya bukan pria dengan senyum sehangat matahari pagi itu yang memberikan perhatian padanya.

“idih, Fy! Kecewa banget nada elo ngomong.” Tanggap Gabriel yang kini telah berdiri di samping Ify. “berharap ini Rio, ya? Bukan gue?” tanya Gabriel, lebih tepatnya menggoda, dan terasa begitu telak untuk Ify.

Ify terdiam, bukan, bukan karena pertanyaan Gabriel, namun karena wangi jaket yang menghangatkannya kini menyeruak, menembus indra pembaunya, memaksa otaknya untuk menebak siapa pemiliknya. Aroma yang benar-benar telah akrab dengan hidungnya, harum yang sering mendekapnya, membawa dirinya terbang, dan akhirnya menjadi candu.

Sedetik kemudian Ify terhenyak, sebuah kepastian jika jaket itu memang milik Rio karena ia juga dapat menangkap dengan jelas wangi parfum beraroma papermint milik Gabriel, sama sekali berbeda dengan aroma musk dari jaket yang dikenakannya, aroma yang bahkan tidak jauh berbeda dengan wangi tubuh Rio.

Ify memutar kepalanya ke belakang, kalau-kalau saja ada bukti lebih kuat jika memang otak dari perbuatan baik Gabriel adalah Rio yang berada di sekitarnya, namun ternyata hanya ada ia dan Gabriel di tempat itu.

“jiah... Rio nggak ada, neng! Dia lagi ikut kejar materi di kelas.” Tutur Gabriel yang bisa langsung membaca dengan jelas apa maksud Ify.

Sebelah alis Ify terankat. Heran. “Rio? Kejar materi?” tanyanya dengan nada tak percaya yang begitu kental. Siapa yang tak heran jika seorang Rio iklas saja merelakan waktunya hanya untuk berlama-lama di sekolah, terlebih hanya untuk berurusan dengan buku-buku yang jelas ia anggap tak penting.

“iya, Kimia, lo tau kan dia nggak becus buat pelajaran itu?” tanggap Gabriel sambil mendongakkan kepalanya ke arah langit yang sudah mulai mengurangi intensitas penyiraman pada bumi yang ia selimuti.

Tentu, Ify masih ingat jelas kalau Rio pasti akan lebih emosional jika akan berhadapan dengan pelajaran itu. Tak seperti jika dihadapkan dengan Fisika, Matematika, bahkan Ekonomi dan Akutansi yang sebenarnya tidak ia perlajari secara mendalam di kelas Sains pun pasti dengan sangat mudah pria itu menjawab semua soal yang diberikan padanya, Kimia adalah rival terberatnya, oh, tidak, Kimia itu nomor dua setelah Bahasa Indonesia, Rio benar-benar payah dalam pelajaran sastra ibu-nya itu.

“apaan banget gitu, Fy?! garam aja kita harus sebut NaCl, cuka? CH₃COOH, emang kalo di warung kita mau beli, terus bilangnya, ‘mbak, saya mau beli NaCl’ itu orang bakal ngerti?” untaian kata-kata yang masih tersimpan di kepala Ify kembali terngiang begitu saja. Kalimat yang diucapkan Rio dengan sangat menggebu-gebu saat ia menemani pria itu belajar Kimia untuk ulangan hariannya esok hari.

“Kimia itu ilmu pemaksaan, kadang kita harus menambah ion-ion nggak jelas dapetnya darimana cuma untuk mendapatkan reaksi yang kita inginkan. Kalau nggak mau ya udah seharusnya, nggak usah dipaksa.” Rio menutup orasinya sambil kembali mengemasi jajaran buku-buku yang tebalnya tak kalah dengan KBBI ke dalam ranselnya, sepertinya memang ia sudah benar-benar menyerah.

Senyum kecil terukir di bibir Ify mengingat kenangan konyol yang ia lewati bersama Rio. Kenangan yang entah kapan akan kembali terukir, atau bahkan tidak untuk selamanya. Ia kembali murung setelah menyadari betapa munafik dirinya, ia yang masih sangat mencintai Rio, ia yang masih sangat membutuhkan pria itu terus dan terus, malah justru menjauh. Rasa sakit yang tak kalah besar dari rasa sayangnya yang menutup semuanya, rasa sakit yang bahkan ia sendiripun bingung dengan apa ia akan sembuhkan.

“masih dingin, Fy?” tanya Gabriel bermaksud memecah kekakuan yang tercipta. “kalo masih, biar gue peluk.” Selorohnya dengan cengiran lebar di bibirnya.

“buaya darat!” cibir Ify sekenanya. “kaya lo berani aja nyentuh gue.” Ify menjulurkan ujung lidahnya mengejek Gabriel penuh kemenangan.

“nantangin? Lagian kalo diitung-itung banyak untungnya lagi, gue peluk elo, ngrasain gimana hangatnya bidadari incaran satu sekolah, nggak semua orang punya peluang, paling bayarannya gue dapet sebuah bogem cantik dari Rio.” Gabriel memainkan alisnya menggoda gadis di hadapannya yang sudah nampak benar-benar eneg.

“tiga lagi, satu dari Rio, satu dari Alvin, satu lagi dari kak Shilla.” Jawab Ify sambil sedikit terkekeh. Matanya melirik jari manis tangan kirinya, tepat pada cincin yang sedang ia ulir dengan jemari tangan kanannya.

Gabriel menepuk dahinya, ia melupakan jika ada tokoh krusial lain yang ada dalam kisah kasih sahabatnya, dan jika ia sendiri punya seorang kekasih. Ia berpura-pura memasang mimik wajah penuh kekecewaan. “nggak jadi deh, daripada gue bonyok.” Degusnya pasrah. Keduanya diam, kehabisan topik pembicaraan.

“dulu gue berharap kalo kak Rio itu kaya tokoh novel favorite gue, Matahari Senja, hal pertama yang bikin gue jatuh cinta sama dia karena kepribadian dia mirip Ari, yah, not at all, at least, keras, sok kuat, sok berkuasa, tapi baik.” Ify membuka mulutnya, mencoba berbagi apa yang ia rasakan dengan tatapan menerawang jauh ke depan.

“Shilla juga sering cerita soal betapa kagumnya dia sama Matahari Senja, gue rasa cewek jaman sekarang mulai nggak punya nyali buat menghadapi kenyataan, seperfect-perfectnya tokoh cerita, sampai Olga Syahputra jadi semacho Ade Rai juga nggak mungkin lo peluk, nggak mungkin jagain elo.” Tanggap Gabriel mengisi sela keterdiaman Ify.

Ify mendengus sebal. Itu lah beda nyata makhluk dari Venus dan dari Mars ini, perempuan selalu lebih menggunakan perasaan, sedangkan pria akan lebih terpatri pada logikanya.

“Rio bukan Ari, memang sifat dia keras, Rio emang tangguh, dia juga berkuasa, tapi itu Mario, bukan Matahari Senja yang terlalu terobsesi menghidupkan kembali Matahari Jingga dalam diri dia, jadi sampai kapanpun juga dia begitu, kecuali dia emang mau berubah.” Jelas Gabriel mencoba menembus kegalauan hati gadis manis di sampingnya.

“dari awal harusnya juga gue sadar kalo dia bukan Ari, Ari mending welcome sama siapa aja, sama cewek juga, lah, temen lo itu? Kayanya punya alergi sama cewek.”

“Rio nggak pernah mengijinkan seorangpun menyelami diri dia, termasuk elo dan gue sekalipun, nggak ada yang tersembunyi dari dia, tapi tetep aja kita penasaran.” Tambah Gabriel saat menyadari sebuah raut kekecewaan terpendar di wajah Ify.

Ify tertawa kecil dan terhenti saat melihat mobil Alvin sudah terparkir di depan gerbang sekolah. Dengan segera Ify melepas jaket yang menyelimutinya.

“gue balik dulu. Nih! Bilang sama Rio, makasih.” Ucap Ify sambil mengembalikan lagi jaketnya pada Gabriel.

Mulut Gabriel ternganga lebar sambil melihat punggung kecil Ify yang semakin menjauh berlari menembus rintikan gerimis. Entah rasa apa yang sudah terbangun di antara Ify dan Rio hingga gadis itu bisa mengetahui jika jaket itu milik Rio tanpa ia katakan, dan yang lebih menakjubkan lagi, jaket itu baru dipakai Rio sekali hari ini, sama sekali belum pernah sebelumnya. Sekali lagi terbukti jika cinta itu benar-benar magic.

***

“gimana, Yel?” cerca Rio yang baru saja terlonjak dari tempat duduknya di bangku yang terletak tepat di depan kelasnya saat melihat Gabriel baru saja datang. Beberapa menit lalu pelajaran tambahannya usai, namun ia memutuskan untuk tinggal kalau-kalau Ify belum pulang dan kehadirannya hanya akan lebih membuat gadis itu kacau.

“dia udah balik.” Jawab Gabriel seadaanya.

“kok jaketnya nggak dibawa?” tanya Rio sambil menunjuk jaketnya yang masih berada di tangan Gabriel.

“dia balik sama Alvin, gila aja kalo tu Cina satu liat tunangannya pake jaket....” kalimat Gabriel menggantung, bingung dengan kata apa ia melanjutkannya. “eh.. lo sekarang apanya Ify? Mantannya? Atau gimana?” lanjutnya dengan sebuah pertanyaan polos tanpa rasa bersalah.

“gimana lo mau nyebut aja!” jawab Rio pasrah.

Gabriel terkikik. “nggak penting status, yang penting hati, hati remuk redam, tersayat-sayat, nelangsa, juga yang penting hati. Gue yang jelas pacaran aja bisa sakit banget hati gue tapi bingung harus ngapain.” Cerocosnya sambil mengembalikan jaket Rio, ditambah sedikit curhat colongan. “dia bilang makasih, tadi udah sempet pake.” Lanjutnya.

“maksud lo apa, bro? Lo ada masalah sama Shilla?”

Kedua bahu Gabriel terangkat, jujur ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengan hubungannya dan Shilla. Komunikasi mereka merenggang dan ada Cakka yang sepertinya menaruh hati untuk Shilla.

“gara-gara Cakka, ya?” tanya Rio dengan berat hati.

“udahlah, nggak usah pake mellow!”

Gabriel merangkul Rio berjalan menyusuri selasar menuju ke parkiran sekolah untuk segera pulang.

***

You’re a part time lover and a full time friend
The monkey on you’re back is the latest trend
I don’t see what anyone can see
In anyone else, but you..


Ify bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang diputar dari tape mobil Alvin, lagu yang cukup ceria untuk setidaknya menutupi luka hatinya hari ini. Kepalanya bergoyang kiri kanan mengikuti irama musik, membuat rambutnya juga berdansa anggun mengikuti gerakan si empunya.

“Fy..” panggil Alvin setelah sebelumnya ia mendongak menatap langit yang mulai kembali memberi cela untuk sang surya melakukan tugasnya. Hujan hanya tinggal rintik-rintik penghabisan. Ify menghentikan kegiatannya untuk menoleh dan menjawab panggilan Alvin.

“ke danau yuk? Lama kita nggak ke sana.” Tawar Alvin tanpa basa-basi. “siapa tau kita beruntung liat pelangi.”

Tanpa berpikir dua kali, Ify mengangguk mantab, menyetujui permintaan Alvin karena ia juga merindukan tempat itu.

***

Rintik-rintik kecil dari sisa hujan menimbulkan riak-riak air di permukaan danau buatan yang menyambut Alvin dan Ify. Senyum lebar terpendar manis di wajah keduanya saat mendapati jembatan tiga warna penghubung bumi dengan kayangan terlukis di langit timur laut. Mereka biarkan butiran air sedikit membasahi baju dan rambut mereka. Tangan Alvin menggenggam erat tangan mungil Ify sambil berlari kecil menuju sebuah batu besar yang bertengger tepat di tepi danau.

“semuanya masih sama, Fy.” Gumam Alvin sambil merangkul Ify.

Ify hanya mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangannya dari pelangi yang masih saja menyita ketersimaannya. Dan memang semuanya masih sama, keindahan tempat ini, dengan siapa ia di sini, bahkan perasaan yang bernaung di hatinya untuk pria di sampingnya kini. Pria tampan itu masih menduduki kursi sahabat terbaik yang pernah Ify miliki, tak pernah lebih.

Dari ekor mata sipitnya, Alvin meratapi wajah Ify, berakhir pada mata berbinar gadis bertubuh mungil itu, mencoba mencari jawaban tetang kemana rasa yang ia sebut cinta pada gadis itu pergi, menghilang tak bersisa. Perlahan jemari kokohnya tergerak, memindai wajah cantik itu, penuh keraguan karena ia menduga Ify akan menolaknya, dan ternyata tidak. Mata bening gadis itu justru terpejam, mempertegas bentuk bulu mata lentiknya yang makin menawan karena kristal cair tetesan langit yang begitu bening di atasnya. Hampa, adegan manis itu tak membuahkan apapun di hati keduanya, dan saat itu pula Alvin menyadari obsesinya telah terwujud, memiliki gadis manis itu sepenuhnya, dan gebyar sorak kebahagiannya pun telah menguap, tak menyisakan apapun, tidak, kecuali justru sebuah kerinduan akan sosok lain, bukan Ify.

Kedua tangan kokoh Alvin tergerak merengkuh pinggang Ify dan memeluknya erat. Ia sedikit tersentak saat Ify ternyata membalasnya. Ada kehangatan di sana, namun kehangatan yang berbeda, bukan kehangatan yang seharusnya tercipta sama seperti Adam dan Hawa, hanya kehangatan persahabatan, ralat, persahabatan terlalu agung jika disebut dengan kata hanya, persahabatan dapat menciptakan segalanya.

“masih inget sesuatu, peri kecilku?” tanya Alvin setelah melepas pelukannya.

“apa?” tanya Ify sedikit kebingungan, jujur, sama sekali ia tak megingat apapun.

Dengan senyum kecil yang terukir di wajahnya, Alvin membimbing tangan Ify melangkah menuju sisi lain dari batu besar itu. Keduanya kemudian berjongkok di depan batu itu. Ify hanya diam sambil menatap tangan Alvin yang sibuk menyibak lumut yang menutupi batu besar itu. Sampai terpampang sebuah ukiran yang tidak terlalu rapi dan sudah sedikit menyamar karena digerus oleh cuaca dan pertumbuhan lumut yang membuatnya melapuk. Namun Ify masih jelas membaca ada dua buah huruf A di sana, ia ingat semuanya, masih tergambar jelas tangan mungil Alvin mengukir sebisanya di atas batu hingga beberapa luka tersayat di atas tangan putih itu. Dua buah huruf A untuk inisial nama mereka, Alvin dan Alyssa. Bahkan masih terngiang di telinganya bantahan Alvin saat ia menyuruh pria kecil itu mengukir di pohon saja yang lebih mudah, saat itu Alvin kecil menerangkan padanya dengan bahasa seadanya jika ukiran di pohon dengan segera akan menghilang, karena pohon memiliki daya regenerasi, pohon bisa tumbuh dan menyembuhkan bagian tubuhnya yang cacat.

“masih ada!” seru Alvin girang, disambung dengan tawa kecil mengingat kepolosannya, dan juga menyadari betapa kacaunya hasil karya yang ada di hadapannya saat ini.
“norak banget gue dulu, coba waktu itu gue udah bisa ngegombal, gue nggak perlu repot, cukup bilang, ‘peri kecil, selamanya nama kamu akan terukir di hati aku.’”
Ify ikut terkekeh. Lucu sekali mengingat masa kecil mereka.

“ini manis banget kali, Vin! Kalo di hati kamu doang, aku nggak akan liat bukti nyatanya.”

“tapi kalo di hati, nggak mungkin kena pelapukan.”

“tapi tertimbun nama lain.” Potong Ify cepat.

Alvin tersenyum hambar, celoteh Ify barusan seakan menjadi penghakiman telak untuknya. “aku dulu pernah berjanji, di sini, kalau aku akan jagain kamu, selamanya.” Lirih Alvin sambil menghapus sisa-sisa tanah yang menempel di atas karyanya dengan jari telunjuknya.

Ify terhenyak, akankah semuanya tetap sama saat semua telah berubah, saat mereka bukan lagi bocah-bocah polos yang hanya ingin terus bersama dengan orang yang membuat tawa mereka selalu merekah semanis bunga di musim semi, saat mereka kini sudah menjadi sepasang remaja yang mulai mengerti jika dunia bukan hanya bermusim semi, namun juga gugur, panas dan dingin. Tidak hanya kebahagian, namun juga amarah dan kesedihan yang menjadi warna lain kehidupan.

“aku benci pembohong, aku mohon tepati janji kamu.” Ucap Ify sambil menatap Alvin. Permohonan penuh terpendar dari mata bening itu yang seakan membius Alvin untuk mengangguk.

“cinta itu menyimpan beribu maaf, dan dendam itu hanya bersembunyi di balik keegoisan.” Tutur Alvin penuh makna tersirat sambil kembali berdiri dan menatap lukisan Sang Maha Agung di langit yang mulai memudar menyisakan bayangan quasi, membuat Ify kembali mencelos, merasa tertohok dengan rentetan kata manis itu.

“maksud kamu?” tanya Ify cepat. Hanya senyuman penuh makna Alvin yang ia dapat sebagai jawaban.

“aku rasa kita semua masih harus menunggu waktu membongkar takdir yang dia simpan.” Kata Alvin lagi sambil melepaskan pandangannya ke titik jauh di atas danau.

Kita semua, frase yang membuat Ify kembali berfikir, dua kata itu merujuk pada benda plural yang lebih dari dua. Ia benar-benar tak mampu menyelami isi pikiran laki-laki tampan di hadapannya kini, hingga ia yang biasanya terlihat begitu egois saat ini cenderung bercitra arif.

“pulang yuk? Baju kamu udah basah.” Tawar Alvin yang sudah tak tega melihat Ify mulai kedinginan dengan bibir yang mulai memutih.

“dulu waktu kecil, setiap kita mau pulang, kamu selalu gendong aku.” Celoteh Ify manja, seakan ingin kembali seutuhnya ke masa kecilnya.

Tanpa menunggu perintah, Alvin berjongkok di depan Ify, menyediakan punggungnya untuk menggendong peri kecilnya itu. “naik!” perintahnya. Dengan senyum sumringah Ify mengikuti instruksi Alvin, melingkarkan tangannya ke leher pria itu.

Dengan canda yang berhambur dari keduanya, Alvin melangkah menyusuri jalan setapak menuju mobilnya dengan Ify yang masih ia gendong di punggungnya. Seakan segalanya kembali pada masa sepuluh tahun lalu. Saat seorang pria kecil berusia delapan tahun menjaga penuh sayang seorang gadis kecil yang tiga tahun lebih muda darinya. Saat semuanya belum serumit sekarang.

***

Rio masih asik dengan buku tebal yang ia baca, dengan sepasang headset yang menggantung di telinganya. Sama sekali ia tak terusik dengan tawa Gabriel dan suara bising dari siaran televisi yang dilihat sahabatnya itu. Tekatnya sudah bulat untuk menembus jalur beasiswa dari formulir Universitas yang diberikan Cakka tempo hari.

“lo nggak balik, Yo?” tanya Gabriel tiba-tiba. Bukan bermaksud mengusir sahabatnya itu dari kediamannya, namun menurutnya sudah cukup lama Rio lari dari masalahnya. Dan untuk kebaikan Rio pula ia mengingatkan, masalah tak akan selesai jika tidak diselesaikan.

“gue balik setelah beasiswa gue tembus, gue buktiin sama bokap gue kalo gue bisa tanpa dia.” Balas Rio ringan. Sama sekali perhatiannya dari buku tak berpindah.

Gabriel mendengus pasrah. Ia tak akan lupa betapa kerasnya batu karang hidup di hadapannya. Segala yang keluar dari mulutnya adalah ketetapan, hal mutlak yang harus terjadi, siapapun tak akan mampu merubahnya.

“lo udah bener-bener lupain cita-cita lo, Capt?” tanya Gabriel sambil menekan tombol dari remote control di genggamannya untuk mematikan televisinya. Ia ingat betul, bertahun-tahun lalu sahabatnya itu benar-benar terobsesi menjadi seorang pilot. Rio kecil dengan pikiran yang sudah jauh dari usianya mampu menjabarkan dengan baik betapa kerennya profesi impiannya itu. Pria muda yang sudah terlihat sangat ambisius.

Gabriel menyaksikan segalanya dari diktator kecil itu berubah menjadi robot yang seakan diperalat oleh ayahnya untuk meneruskan sebuah perusahaan besar. Ia tau pasti bagaimana cita-cita besar sahabatnya dibunuh begitu saja sebelum sempat terwujud. Namun beruntung, impian itu terenggut bukan sekarang, jika sekarang, Gabriel benar-benar tak mampu lagi membayangkan apa yang akan terjadi. Dua orang yang sama-sama berpendirian keras beradu jalan pikiran, hal terburuknya, ikatan antara ayah dan putranya akan benar-benar terlepas.

“gue rasa ini juga menyenangkan.” Jawab Rio dengan cengiran khasnya, kedua tangannya memamerkan buku tebal yang sedari tadi ia baca, sebuah buku bertuliskan ‘Bisnis Management’ dengan ukuran besar di covernya.

“kalau besok lo diterima ke Belanda, Ify gimana? Lo mau ninggalin semua masalah lo gitu aja?”

Pertanyaan yang cukup membuat Rio memilih menjadi seorang penderita amnesia daripada menjawabnya.

“Ify udah tau kemana gue malem itu, masalahnya makin rumit,” lirih Rio setelah sebelumnya mendengus berat.

“lebih baik dia tau sebelum lo bohong! Makanya, jangan berbuat kalo lo nggak mau nanggung!” nasehat Gabriel, sedikit dongkol juga dengan sahabatnya ini, tak pernah berpikir panjang. “jangan asal ngejeplak bikin janji, lo nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi di depan.”

Dan itu lah Gabriel. Tak ada status yang akan memutihkan yang hitam baginya. Yang salah akan tetap salah, dan sekalipun itu musuhnya, jika ia benar Gabriel akan membelanya.

“gue harus gimana?”

“nggak ada yang lain selain lo ngaku salah dan minta maaf. Jangan jadi pecundang! Gue males pinjemin rok emak gue buat lo.”

Tiba-tiba saja wajah Rio menjadi cerah. Seakan menemukan jalan terang untuk masalahnya. Tanpa berlama-lama, ia menyambar jaket kulit hitam yang sebelumnya teronggok di sampingnya.

“doain gue pulang masih punya nafas!” seru Rio sambil bergegas keluar dari rumah Gabriel.

Gabriel hanya bisa menghela nafas sambil mengamini ucapan Rio. Ditambah sepucuk doa jika sahabatnya itu tak lagi salah bertindak.

***

Lagi-lagi Rio bermain judi dengan klan Umari, dan hanya satu hal yang bisa ia pertaruhkan, nyawanya. Tekatnya sudah bulat untuk melakukan hal ini sekali lagi, menerobos kawasan yang seharusnya ia jauhi. Mengendap-endap seperti pencuri memasuki area istana keluarga Umari hingga ke balkon kamar gadisnya.
Di depan kamar Ify yang sudah gelap karena jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri Rio pun telah menunjuk hampir pukul sebelas malam, Rio diam, memantabkan tekatnya. Ini jalan terakhir, ia berhasil kembali atau hancur di tangan ayah gadisnya.

Setelah menghela nafasnya, Rio mengetuk kaca yang berfungsi sebagai pintu besar yang menghubungkan kamar dengan balkon.

Di dalam, Ify terjaga dari tidurnya karena mendengar ketukan dari pintu luar kamarnya. Rasa takut begitu saja menyergapnya, kalau-kalau saja yang “bertamu” padanya malam-malam begini adalah penjahat. Namun karena didorong rasa penasarannya, Ify bangun dari tempat duduknya menuju pintu. Masih dengan setumpuk keraguan, tangan mungilnya bergerak menggeser pintu. Matanya terbelalak lebar saat mendapati siapa yang tengah berdiri di hadapannya. Rio yang berdiri sambil menunduk.

“Rio?!” pekik Ify cukup keras, dan membuat Rio refleks memepet tubuh mungilnya dan membekap mulutnya. Gadis itu masih mecarau tak jelas, mencoba berontak dari bekapan tangan kokoh Rio.

“silahkan lo teriak kalau lo mau liat gue mati di hadapan elo.” Lirih Rio, terdengar sangat pasrah dan menyerahkan nyawanya begitu saja di tangan Ify. Perlahan jemarinya yang menempel di wajah cantik gadinya itu ia lepaskan.

Dengan nafas memburu dan tatapan nyalang Ify menatap Rio. Tak mengerti kenapa pria di depannya ini ternyata sudah benar-benar gila. Dan kenapa ia masih saja lemah di hadapannya. Dan hatinya pasti akan lebih dari hancur jika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat orang yang masih sangat ia cintai tersakiti.

Kemarahan yang terpendar nyata dari kedua bola mata Ify perlahan memudar saat menyadari sorot mata dan raut wajah Rio yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tergambar rasa bersalah yag begitu dalam di sana, tak ia lihat lagi keangkuhan pria itu saat ini, bahkan seakan Rio tunduk padanya.

“mau apa lo?” desis Ify, jujur ia tak tahan dengan ekspresi yang disuguhkan Rio padanya.

“gue salah, salah besar, gue minta maaf.” Jawab Rio, terdengar begitu tulus di telinga Ify.

Ify memalingkan wajahnya, tak mau lagi terjerat dengan segala kepalsuan yang Rio berikan. Menampikan segala rasa rindu yang berkecamuk di dadanya dan menahan kedua tangannya agar tidak terulur untuk mendekap tubuh tegap itu.

“bullshit!” hardik Ify, pelan, namun sangat tegas.

Rio menghela nafas. Ia dapat mengerti perasaan Ify, Tak mudah untuk memaafkan kesalahannya yang begitu fatal. Tak ada cara lain, pikirnya.

Perlahan Rio menekuk lututnya, beringsut untuk berlutut tepat di depan Ify. Kepalanya terdunduk dalam-dalam, semakin menegaskan jika ia memang benar-benar merasa bersalah.

Ify terhenyak. Dengan berlutut, seseorang sudah memberikan dirinya seutuhnya kepada orang yang ada di hadapannya dan terlebih hal ini Rio yang melakukan, seorang Mario Haling, seorang dengan jiwa penguasa dan selalu ingin menjadi yang paling tinggi kini berlutut di depannya.

“nggak ada seorangpun di dunia ini yang bisa buat lulutku tertekuk, cuma kamu, kamu bukan hanya seorang putri buat aku, kamu.. ratuku.” Ucap Rio masih dengan punggung yang setengah membungkuk. “aku nggak tau harus berbuat apa lagi, aku mohon, maafin aku.”

Dan detik itu juga pertahanan Ify ambrol. Ia berhambur memeluk erat tubuh Rio, orang yang sangat ia rindukan. Dan seketika itu juga senyum di wajah Rio sedikit merekah, tipis sekali, seraya ia biarkan Ify mendekapnya.

“kamu maafin aku?” tanya Rio lembut. Ify mengangguk kuat-kuat. Rio dapat merasakannya, tanpa menunggu lagi kedua tangannya tergerak untuk membalas pelukan Ify. “aku jan...”

“jangan lagi!” potong Ify cepat sambil meletakkan telunjuknnya di bibir Rio agar ia tak lagi melanjutkan kata-katanya. “jangan janji lagi! Aku nggak butuh! Cukup kamu buktikan cinta kamu itu.”

Rio mengangguk, kali ini terpoles senyum lebar di bibirnya. Sekali lagi ia memeluk Ify erat-erat, seakan tak mau lagi melepaskannya, menenggelamkan kepala gadisnya itu di dadanya, mengingatkan Ify jika ada jantung yang berdetak untuk melantunkan namanya.

“kak Rio, sesek..” Keluh Ify dengan polosnya karena pelukan Rio memang terlalu erat hingga ia sedikit kesulitan bernafas.

Mendengar rintihan Ify, Rio melepaskan pelukannya, kemudian menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tak gatal. “maaf, makasih ya, makasih banyak!” serunya girang.

Dan kali ini Ify yang spontan memutup mulut Rio.“jangan bunuh diri deh!” ingatnya sambil menarik tangan Rio memasuki kamarnya, takut jika ada penjaga yang akan melihat keberadaan Rio jika terlalu lama mereka berdiri di balkon.

“kamu itu gila ya? Gimana kalo ketauan? Gimana kalo aku tadi beneran teriak?” cerca Ify gemas sambil membanting dirinya ke sofa besar yang ada di sudut kamarnya. Setidaknya di ruangan ini ia dan Rio lebih leluasa berbicara dengan kemungkinan ketahuan lebih kecil.

“jawaban pertanyaan pertama, iya, kamu sebabnya, jawaban pertanyaan kedua, berarti aku lagi nggak beruntung, yang terakhir, aku yakin nggak mungkin, kamu kan masih sayang banget sama aku.” Jawab Rio penuh percaya diri.

“geer kamu!” cibir Ify sambil menoyor pundak Rio.

“aku kangen kamu.” Bisik Rio, tepat di sebelah telinga Ify. Sukses membuat pipi Ify memerah.

“aku juga, banget!” balas Ify sambil menunduk, geraian rambutnya ia biarkan jatuh menutupi wajahnya. Tak mengijinkan Rio melihat raut malunya.

Rio tersenyum kecil melihat ekspresi Ify. Ekspresi yang masaih sama persis dengan saat pertama kali ia menyadari betul jika gadis itu menyukainya. Ekspresi yang selalu ia suka.

Tak menunggu lama, Rio membaringkan kepalanya dipangkuan Ify. Mencurahkan segenap rindunya akan belaian kasih gadis itu dengan meletakkan tangan Ify di kepalanya, memberi isyarat pada ify agar membelai puncak kepalanya.

Dengan senang hati Ify melakukannya. Lengkungan manis di bibirnya kembali terukir saat menatap wajah Rio yang begitu damai dengan mata sayunya yang terpejam. Mereka biarkan waktu menguap dalam diam, membiarkan detik menggulirkan setiap lara yang pernah ada, pergi menjauh karena kini hanya ada bahagia.

“nyanyi dong, sayang!” rengek Rio manja.

Tiba saat mengerti jerit suara hati
yang letih meski mencoba
melagukan rasa yang ada
mohon tinggal sejenak lupakanlah waktu
temani air mataku teteskan lara
merajut asa menjalin mimpi hendak dan sepi-sepi


Suara Ify mengalun lirih memenuhi ruangan. Semakin menjerembabkan Rio masuk ke damainya, melupakan jika ia berada di tempat yang membahayakan jiwanya. Selama ia bersama pemilik hatinya, itulah yang dinamakan baik-baik saja.

cinta kan membawamu kembali di sini..

Tok.. Tok.. Tok..

Ketukan pintu cukup keras terdengar, seketika membuat Ify menghentikan senandungnya dan juga membuat Rio segera bangun dari tidurnya. Melayangkan tatapan bertanya pada Ify yang jelas dalam posisi yang sama-sama tak tahu siapa yang berada di luar kamar dan mungkin tak sengaja mendengarkan percakapan mereka.

“kamu sama siapa, Fy?” seru suara berat itu dari luar kamar. Jelas itu suara milik Pratama Umari.

Ify menelan ludahnya, bingung harus berbuat apa. Ia menatap Rio bingung. Dan tanpa dosa, yang menjadi bahan tatapan hanya tersenyum tanpa dosa.

“tenang! Kamu mau aku temui ayah kamu?” tawar Rio begitu ringan, walaupun dengan cara sedikit berbisik.

“kamu pergi!” jawab Ify cepat sambil mendorong pundak Rio agar segera keluar dari kamarnya. Ia tahu pasti ini bukan saat yang tepat untuk Rio bertemu dengan ayahnya. Mereka bisa dihakimi tanpa penyelidikan dengan tuduhan telah berbuat yang tidak-tidak mengingat cara Rio menyelinap ke kamarnya.

“nggak mau.” Jawab Rio seenaknya

“please.. jangan sekarang, cara kamu salah!” mohon Ify.

“Ify, sama siapa kamu?” koar suara ayah Ify sekali lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “buka pintunya!” lanjutnya makin tak sabar.

Rio menghela nafas sebelum menggedikkan bahunya pasrah. Kaki panjangnya mulai melangkah keluar. Namun, baru sampai di ambang pintu, ia kembali berlari menyongsong Ify yang sedang panik mencari remote control Tvnya agar bisa dijadikan sebagai alibi dan memeluknya dari belakang, mengecup singkat pipi kanan gadis itu.

“pergi!” bentak Ify dengan suara yang ia buat selirih mungkin. Dan lagi, ia hanya mendapat balasan senyuman yang saat ini ia nilai sangat menyebalkan dari Rio.

Sebelum membuka pintu kamarnya, Ify menyempatkan melihat Rio yang telah berdiri di ujung balkonnya, dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya tertempel di dadanya, perlahan dua jari itu tergerak menyentuh sepasang bibirnya lembut, Rio tahan beberapa saat sebelum ia arahkan kedua jarinya itu ke arah Ify. Dan dibalas Ify dengan anggukan mengerti sambil menyentuh dadanya dengan telapak tangan kanannya, isyarat jika ia juga merasakan hal yang sama. Sedikit informasi, Rio menggunakan bahasa isyarat yang biasa digunakan oleh penderita tunawicara, dalam bahasa verbal berarti ‘aku rindu kamu’.

“siapa yang kamu sembunyikan?” cerca ayah Ify bertepatan dengan pintu dibuka.

Ify hanya menggelengkan kepalanya, berusaha sebisa mungkin agar ekspresinya biasa.

“kenapa papa dengar ada yang sedang bercakap-cakap?” selidik ayah Ify tak mau begitu saja percaya.

Dengan telunjuknya Ify menunjuk TV kamarnya yang sudah menyala dan menampilkan gambar film drama. “udah ya, Pa?! Ify ngantuk!” ucap Ify cepat-cepat sambil menutup pintunya setelah menemukan ungkapan kepercayaan di wajah ayahnya.

Ify bernafas lega. Setidaknya satu masalahnya –semoga- benar-benar selesai tanpa menimbulkan masalah baru. Ia berjalan ke arah pintu yang masih terbuka untuk menutupnya. Sebelum pintu itu benar-benar tertutup ia sempatkan menitipkan salam untuk Rio pada bulan yang seakan ikut tersenyum bersamanya. Sebaris doanya pasa Sang Kuasa agar melindungi pangerannya.


bersambung....