Selasa, 23 April 2013

[Another] Song of Love

Ini another part of SoL's epilog yang aku cut. soalnya nanti nggak kaya epilog (?)
tapi daripada basi di laptop ya mending aku post di lain part aja. iya gitu. nggak jelas ya? ya udah sih.. baca aja. wkwkwk...


-----


Seorang pria kecil dengan susah payah menaiki tempat tidur king size yang diselimuti bed cover berwarna krem. Ia sudah jatuh berkali-kali karena yang ia panjat terlalu tinggi, namun ia tetap tak mau menyerah begitu saja. Sekarang separuh badannya sudah ada di atas, pekerjaan mudah untuk mengangkat kakinya. Dengan riang gembira bocah dua tahun itu merangkak ke arah gundukan selimut tebal di tengah tempat tidur.

“Pa...” seru bocah itu, tangan mungilnya menarik selimut yang menutup penuh tubuh seseorang hingga ke ujung kepala dengan sekuat tenaga. “Pa...” ulangnya lagi karena tak berhasil mendapat perhatian. Usahanya berhasil menarik kain tebal yang begitu berat untuknya hingga ke dagu laki-laki yang masih memejamkan matanya dengan tenang.

“Papa...” sekali lagi, dengan begitu gemasnya anak itu berteriak. Kali ini dengan usaha menepuk-nepuk pipi sang ayah.

Pria dewasa yang baru saja mendapat serangan fajar perlahan membuka kelopak matanya. Amarahnya yang sempat terkumpul karena tidur nyenyak yang jarang ia dapatkan selama lima hari kerja terganggu langsung musnah begitu saja saat melihat putranya terkekeh bahagia karena tujuannya untuk mendapat perhatian tercapai. Dua tangan mungil nan lembutnya kini beralih pada bibir dan hidung sang ayah. Mata pria kecilnya nampak hampir hilang ditelan pipi gembul putihnya, benar-benar seperti bakpao hidup siap makan.

“Arjuna Haling, kamu kemana, Sayang?” sebuah suara halus melengking tinggi dari luar kamar membuat sang ayah menegakkan tubuhnya dengan bantuan kedua sikunya kemudian duduk berhadapan dengan putranya.

“Heh, tuan muda Haling, kamu kabur lagi dari mamamu?” walau masih dengan suara parau, pria tadi berakting marah. Arjuna, nama si bayi, mengedipkan kelopak matanya yang mulai sayu seolah mengerti apa yang dikatakan ayahnya. “Ya, Tuhan. Kenapa mamamu mewariskan jurus menyebalkan itu?” dengusnya. Jurus puppy eyes Arjuna mirip sekali dengan Ify, membuatnya tak pernah tega untuk marah. “Aku bercanda.” ucapnya kemudian. Kedua tangan kekarnya terulur untuk memindahkan tubuh mungil Arjuna ke pangkuannya. Tak puas, ia menggamit tubuh itu dan menerbangkannya ke udara, sampai perut buncit nan menggemaskan Arjuna berada tepat depan wajahnya yang kemudian ia tenggelamkan di sana, bergerak kiri-kanan dengan cepat membuat balita itu tergelak.

Seorang wanita menyandarkan bahunya di daun pintu, melihat aktivitas padi dua orang pria yang paling ia cintai di dunia. Senyum tipis terukir di wajahnya. Ia adalah wanita paling bahagia di dunia karena Rio dan Arjuna percaya padanya untuk mendampingi setiap langkah mereka.

“Arjuna! Papamu butuh istirahat!” wanita tadi mengomel setelah mengingat apa tujuannya. Ia tak pernah tega membangunkan Rio saat weekend seperti ini, pekerjaannya benar-benar menguras waktu, bangun pagi dan pulang larut malam selama lima hari penuh. Tapi sepertinya putranya tak pernah peduli, bisa dimengerti karena waktunya dengan sang ayah sangat minim, ia pasti merindukannya, sama seperti dirinya. Wanita itu bergerak naik ke tempat tidur, duduk di sebelah laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya sejak tiga tahun lalu. “Kamu benar-benar seperti papamu, tidak tahu aturan. Suka kabur sembarangan.” Ucapnya sambil menciumi pipi tembam anaknya.

Selain fisiknya yang benar-benar miniatur Rio, matanya, bibirnya, lekukan wajahnya. Kata Krishna Haling, ayah mertuanya, Arjuna benar-benar seperti Rio kecil dulu. Tapi kata Sivia, Arjuna beruntung karena mewarisi hidung bangir ibunya. Sahabatnya itu bilang, saat SMA nanti Arjuna pasti akan jauh lebih tampan dari ayahnya. Semakin besar, ternyata anak itu mewarisi sifat sang ayah juga. Ify sadar penuh akan hal itu. Arjuna suka berbuat sesukanya, pergi kemana pun dia mau, perlu tenaga ekstra untuk menjaga balita itu sejak ia bisa merangkak. Dan lagi, Arjuna pantang menyerah, apa yang ia inginkan mutlak harus terjadi. Diktator kecil. Tapi ia sama sekali tak keberatan dengan itu. Semua yang dimiliki Rio mengagumkan untuknya, sekarang seperti ada dua Rio. Sungguh luar biasa bahagianya dia.

“Aku mengandungmu sembilan bulan lebih, dan kamu tidak mirip denganku, bukankah itu curang?” Ify menggerutu sambil mencubit gemas kedua pipi Arjuna. Hanya candaan tentu saja.

“Aku selalu menang.” Rio menyela dengan raut tengil yang selalu membuat Ify sebal. Dulu ia kira ekspresi itu hanya topeng, ternyata memang bawaan lahir dan tidak bisa dihilangkan, bahkan setelah belasan tahun mereka bersama. “Kamu belum mandi, Arjuna? Baiklah, kita mandi berdua.” Rio yang masih dengan Arjuna dalam gendongannya melompat turun dari tempat tidur.

Ify tak acuh. Ia memilih untuk membereskan tempat tidur mereka. Memang sudah seperti itu rutinitas Rio dan Arjuna setiap pagi. Waktu Rio yang seakan tak cukup dua puluh empat jam harus digunakan sebaik-baiknya. Mencuri waktu untuk bersama dengan putranya untuk aktivitas-aktivitas kecil seperti itu, dan aktivitas-aktivitas lain yang tidak lazim menurut orang kebanyakan harus menjadi umum karena Rio yang melakukan. Pria itu selalu benar. Ify tahu benar Rio tak mau kehilangan momen melihat jagoannya tumbuh. Rio sangat membanggakan Arjuna. Sepertinya memang sudah menjadi adat raja-raja bisnis untuk memanjakan putra mahkotanya. Enam puluh jam seminggu, belum lagi kunjungan kerja kemana-mana. Ia pasti pingsan jika melakoni sendiri, stamina kuda suaminya itu sangat berguna sekarang. Ia bahkan jarang melihat pria itu kelelahan.

Samar ia mendengar Rio bersenandung I Don’t Want to Miss a Thing milik Aerosmith disusul dentaman ringan dari pintu kamar mandi yang tertutup menandakan mereka berdua sudah selesai mandi. Ify berbalik mendapati Rio yang hanya dibalut handuk hitam dari pinggang hingga lutut, dengan rambut basah yang tetesan-tetesan airnya mengalir melewati bahu kokoh dan dada bidangnya. Pemandangan yang sebetulnya sudah ribuan kali ia lihat, namun seperti tenggelamnya sang surya, tak sekalipun indahnya berkurang. Dan Arjuna yang digendong dalam posisi duduk menghadapnya membuat Rio benar-benar terlihat gentle. Putranya itu tadi kabur karena tidak mau dimandikan olehnya, dan sekarang ia nampak begitu bahagia dan lulut pada ayahnya. Kompak sekali mereka.

“Kamu sudah mandi? Dua jam lagi kan pernikahan Gabriel dan Sivia?” tanya Rio, tak ambil pusing dengan Ify yang hanya berdiri mematung saat melihatnya. Hatinya tersenyum kecil, dengan cara itu ia bisa memastikan jika masih hanya dia yang ada di hati wanita itu, dan harus selalu begitu.

Dengan raut geragapan yang tak bisa ia sembunyikan, Ify menggeleng. Apa-apaan Rio ini, masih saja berhasil membuatnya seperti gadis SMA. Selalu memuja laki-laki itu seperti seorang dewa dari Yunani.

“Kamu siap-siap! Aku yang mengurus Arjuna.” perintah Rio sambil mengeringkan rambut Arjuna dengan handuk putih kecil. Ify mengangguk pasrah. Tak perlu meragukan ketrampilan Rio untuk merawat bayi.

•

Dada Ify menghangat saat mendapati Rio sedang sibuk memakaikan dasi kecil di leher Arjuna. Mereka berdua nampak begitu tampan dengan stelan jas silver yang berpotongan benar-benar mirip, Rio sendiri yang menyiapkannya. Dari ujung rambut, keduanya memakai model spyke dengan gel yang membuat jabrik-jabrik mereka berkilau, tak kalah berkilaunya dengan phantopel hitam yang mereka kenakan. Rio sepertinya ingin mengumumkan jika ia sudah memiliki hasil scan sampai dandanan mereka dari ujung rambut hingga ujung kaki sama. Mereka tersenyum bersamaan saat menyadari wanita yang paling mereka cintai sedang memperhatikan. Ya Tuhan, bahkan senyuman mereka berdua sama. Ify bisa membayangkan beberapa tahun lagi akan ada banyak gadis yang gila karena putranya, seperti ia dulu pada Rio.

“Ada apa, Fy?” tanya Rio membaca ada sedikit gurat kecemasan di wajah sang istri.

“Rit-nya susah naik. Macet, mungkin.” jelas Ify sambil menggigit bibir bawahnya. Ia baru ingat tujuannya mencari Rio adalah untuk membantunya menaikan rit di bagian belakang gaun silver-nya. Rio hanya membulatkan bibirnya, kemudian bergerak ke mendekati Ify yang sudah membalik tubuhnya.

Rio menelan ludahnya saat Ify menyingkirkan rambut panjangnya dari bahu kiri, menyampirkan semuanya ke bagian kanan yang otomatis membuat leher jenjang yang dibalut kulit serupa porselen milik wanitanya terekspose. Ditambah gaun yang dikenakan Ify kali ini hanya disangga tali spageti membuat bahu indah Ify terpampang jelas. Harum jasmine yang selalu membuat otaknya kosong juga sudah berekspansi ke paru-parunya. Kalau saja Arjuna tidak terus bergumam tak jelas ia pasti akan lupa daratan.

“Ini nggak macet, kamu yang gendutan.” komentar Rio tanpa dosa setelah berhasil menunaikan tugasnya dengan sedikit usaha lebih. Langsung mendapat hadiah cubitan maut milik Ify di pinggangnya, ia meringis kesakitan.

“Tidak sopan!” umpat Ify sambil mengerucutkan bibirnya dan bersedakap.

Rio tertawa. “Tapi aku suka. Kamu tambah errr... seksi.”

“Gombal!” Kali ini pukulan kecil Ify mendarat di dada Rio, wanita itu menunduk menyembunyikan rona merah pipinya. Ia tahu Rio tak pandai menggombal, dan kenyataan itu tak pernah membuatnya berhenti tersipu dengan setiap kata-kata Rio tentangnya. “Kalau aku jadi gendut kamu masih sayang?” tanyanya ragu. Entah. Ia menjadi sangat ingin menanyakannya saat ini.

“Ada pertanyaan yang lebih bermutu, nyonya Haling?” Rio mendengus. Ia tak suka diragukan, apa lagi dengan hal yang orang bodoh saja tahu jawabannya.

“Jawab saja!”

“Kamu satu-satunya wanita yang membuatku gila. Kamu tahu? Orang gila tak pernah peduli dengan bentuk sesuatu yang diinginkannya. Yang jelas dia harus mendapatkan yang dia mau. Seperti aku mau kamu.” Rio tersenyum hangat. Membuat Ify ikut tersenyum setelah melihat kejujuran penuh di mata suaminya. Dan senyum itu tetap senyum terbaik yang ada di dunia, errr... tapi sepertinya tidak lagi setelah Arjuna lahir.

Rio mengankat dasinya di hadapan wajah Ify. Ify langsung paham jika Rio ingin ia memakaikannya. Sampai sekarang pun, Rio masih sulit mengucap kata tolong. Bossy bawaan lahir.

Selesai melaksanakan tugasnya, tangan kiri Ify menangkup wajah Rio, tangan kananya meraba lekukan siku rahang suaminya, dada, hingga ke perut pria itu. Otot-otot yang begitu kokoh dan tak pernah membuatnya berhenti haus. Wanita itu tersenyum mengingat bisik-bisik karyawati Rio di kantor yang membicarakan kegagahan suaminya, mencoba menebak berapa kotak yang tercetak di abdomennya. Kalau saja ia tak berhasil mengendalikan diri, ia akan berteriak dengan sombongnya pada mereka, ada enam, indah sekali, aku bisa melihatnya bahkan menyentuhnya setiap hari dan kapanpun aku mau.

“Kamu menyukainya?” tanya Rio dengan bangganya.

“Sangat!”

“Kalau aku tua nanti, rambutku sudah putih, perutku buncit, kamu masih tetap menyukainya?”

“Tidak ada pertanyaan yang lebih bermutu, tuan Haling?”

Rio tertawa. Bumerangnya sudah berbalik. “Jawab saja!”

“Kamu satu-satunya laki-laki yang membuatku gila. Kamu tahu? Orang gila tak pernah peduli dengan bentuk sesuatu yang diinginkannya. Yang jelas dia harus mendapatkan yang dia mau. Seperti aku mau kamu.”

Dengusan kasar keluar dari hidung Rio. “Tidak kreatif.”

“Melihat ayahmu yang masih tampan di usia sekarang, rasanya aku tidak perlu khawatir.” Ify membalas disusul sebuah ciuman ringan di pipi suaminya. Kemudian ia beranjak menghampiri Arjuna dan menggendong balita yang masih tampak terheran-heran dengan kelakuan kedua orang tuanya. “Bawakan tasku!” perintahnya sambil beranjak keluar kamar. Mau tak mau Rio menurut untuk meraih tas tangan sewarna jasnya yang tergeletak di tempat tidur ditinggal pemilik sahnya.

•
Jalanan kota begitu lengang seperti weekend-weekend biasanya saat orang-orang libur dan memilih menghabiskan waktu mereka untuk bermalas-malasan di rumah. Keadaan yang membuat Rio mempunyai kesempatan untuk melihat wanitanya yang sedang bercengkerama riang dengan putranya di jok samping kemudi. Dua orang yang paling berharga di dunia untuknya nampak begitu gembira. Saat-saat seperti ini benar-benar membuatnya merasa seperti pria paling beruntung. Pekerjaannya mapan, dirut perusahaan besar di negeri ini, istri cantik yang begitu mencintainya dan seorang anak laki-laki tampan yang begitu menggemaskan yang selalu menjadi suplemennya. Ia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Dia bahagia, sangat bahagia. Rasanya Sang Maha Hidup memberikan hasil yang berlebihan dari usahanya dulu. Ini jauh lebih baik dari bayangannya.
“Aku dengar kamu kemarin bertemu ayahku.” suara Ify memecah hening antara ia dan Rio. “Ada apa?”

“Masalah perusahaan. Beliau mau aku yang mengelola Umari corp.” Rio diam sejenak untuk menambah transmisi kecepatan mobilnya. “Padahal aku sudah bilang berkali-kali, aku cuma mau mengurus dan bertanggung jawab atas anak dan cucunya, tidak untuk perusahaannya.” lanjutnya.

Ify tertawa kecil. Alibi Rio kali ini terdengar sangat dramatis, tidak terlalu logis seperti biasanya.

“Semua yang aku punya sekarang sudah lebih dari cukup. Dan lagi, apa serunya bisnis tanpa saingan sehebat ayahmu?”

“Terus?”

“Aku berharap beliau sehat sampai Arjuna siap mengelola perusahaan. Semua itu milik Arjuna, bukan milikku.”

Kesederhanaan Rio tidak pernah berubah. Pria itu tidak pernah silau dengan harta dan kekuasaan tanpa lupa berkerja keras untuk mendapat kelayakan. Manusia mana lagi yang mau menolak dengan tegas jika diberi kuasa untuk perusahaan sebesar Umari corp selain Rio?

Ify mencengkeram lembut pundak mungil putranya. Bahu-bahu dengan beban berat yang menantinya di masa depan, perusahaan warisan kedua kakeknya dan milik sang ayah menunggu uluran tangannya. Wanita itu sedikit ngeri membayangkan hal itu, apa lagi jika mengingat bagaimana Rio dulu yang hampir seperti robot bernyawa karena obsesi ayahnya dan tanggung jawab besar yang diemban anak semuda itu. Walaupun ia tahu Arjuna anak yang kuat, sebagai seorang ibu ia tak ingin putranya merasakannya juga. Bukan ia ingin menyangsikan Rio, tapi bagaimanapun ia sangkal, Rio tetap seorang diktator yang akan melakukan apapun untuk apa yang ia inginkan.

Rio dapat membaca kegusaran Ify, tangan kokohnya terulur untuk menggenggam jemari Ify yang masih ada di pundak Arjuna.

“Aku tak akan memaksa Arjuna.” Rio mulai menjelaskan dengan suara lembutnya. “Aku tahu sakitnya, dan aku tak mau anakku merasakannya juga. Arjuna tak akan jadi alatku, kamu harus percaya padaku, dan juga Arjuna.”

Penjelasan Rio membuat dada Ify lega, sesaknya menguap begitu saja. Dibalik sikap seakan acuhnya, Rio bisa mengertinya lebih dari siapapun di dunia. Dan seharusnya ia tak pernah meragukan suaminya itu.

“Aku dan Arjuna akan menjadi partner yang hebat di masa depan. Kamu bisa bayangkan itu? Ini cuma seperti main monopoli, Fy.”

“Monopoli yang selalu membuatku mual saat mencoba memaikannya.” gerutu Ify yang kini sudah kembali rileks memainkan bebek-bebekan untuk Arjuna.

“Kamu tahu apa alasanku tidak memarger Haling Corp dan Umari Corp sekarang?” tanya Rio sambil menoleh kepada Ify karena rambu-rambu lampu merah yang menghentikan perjalanan mereka.

Ify menggeleng. Hal itu yang selalu menjadi pertanyaan di benak Ify. Seharusnya akan lebih mudah untuk Rio mengelola keduanya jika disatukan seperti yang telah suaminya itu lakukan pada perusahaannya sendiri dan Haling corp. Tapi Rio tak pernah mau melakukannya padahal ayahnya dan ayah Rio sudah mengijikannya, bahkan mengusulkan.

“Itu tugas Arjuna. Dia yang berhak penuh.” penjelasan Rio terhenti sejenak karena trafficlight sudah menyala hijau. “Dia yang punya darah Haling dan Umari sekaligus. Dia bukti nyata cuma cinta yang akan menghancurkan kebencian.”

Cairan bening mulai menggenang di pelupuk mata Ify, siap jatuh kapan saja. Bisa-bisanya ia lupa dengan hal penting itu. Dulu semua orang beranggapan jika Haling dan Umari bisa disubstitusikan dengan air dan minyak, tidak bisa menyatu. Tapi ia dan Rio berhasil membuktikan jika dua zat itu bisa menyatu. Cinta seperti senyawa asam yang membuat keduanya bersatu. Dan cinta itu berbuah nyata: pria kecil tampan yang ada di pangkuannya punya dua darah angker itu. Dan itu tidak mustahil.

“Kenapa tidak kak Cakka?” Ify mencerca.

Rio tertawa. Ia tidak lupa kakak tirinya itu juga percampuran Haling dan Umari. Tapi dia juga pemberontak sejati. Cakka lebih memilih menepi ke Yogyakarta untuk menjadi seniman sekarang bersama Shilla dan putri kecil mereka. “Aku belum siap melihat dua bangunan megah itu jadi galeri seni. Kamu tahu Cakka tidak berminat sama sekali dengan kertas-kertas itu.”

“Berarti dia lebih normal darimu, lebih tertarik pada kak Shilla daripada laptop.”

“Kamu cemburu?”

“You wish!”

Keduanya tertawa bersama. Setelah semua yang mereka lewati, tak ada cukup waktu untuk meragu. Biarlah semua menjadi bahagia sisanya.

•

Ball room hotel Hyatt disulap menjadi begitu megah dengan nuansa serba putih. Ditambah dengan alunan musik romantis. Suasana pernikahan impian Gabriel dan Sivia benar-benar menjadi nyata setelah hari-hari melelahkan sebelumnya. Kisah ini juga rumit. Rio dan Ify berpandangan setelah selesai memindai setiap detail dengan mata mereka secara bersamaan. Keduanya tertawa. Sahabat terbaik Rio dan sahabat terbaik Ify akhirnya bersahabat baik juga untuk menapaki lanjutan kisah hidup mereka berdua, di mulai dari pelaminan itu. Dunia terasa begitu sempit.

“Arjunaaa!!!” pekikan suara nyaring yang sudah sangat dikenal oleh Ify dan Rio membuat mereka menoleh ke sumbernya. Gadis cilik dengan rambut ikal dikuncir dua itu sekarang sudah bermetamorfosis menjadi seorang gadis cantik rambutnya diurai, bergerak naik turun seperti peer saat ia berlari, high heels sepuluh centimeternya tidak mengurangi kelincahan geraknya. Tentu saja itu perkara mudah untuk seorang model papan atas sepertinya. Gadis itu Acha. Raissa Haling. Dibelakangnya mengikuti seorang pemuda tampan berambut gondrong sambil menggandeng seorang anak perempuan berusia lima tahun yang begitu cantik dan anggun dengan gaun putih dan rambut hitam panjangnya, mirip sekali dengan ibunya, Adodya Alona, putri Cakka dan Shilla.

Oh ya, pemuda tadi Ray Prasetya, satu-satunya pria yang berhasil mendapat surat izin memacari Acha setelah tes dua lapis dengan Rio dan Cakka. Dua pria tampan itu sepertinya masih tak rela adik tersayang mereka akan diambil laki-laki lain. Untunglah Ray bermental baja dan pantang mundur, sampai akhirnya Rio dan Cakka menyerah dengan setengah hati dan menyerahkan Acha untuk dijaganya. Ify dan Shilla hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakukan konyol suami-suami mereka yang sampai menyuruh seorang wanita cantik dan seksi entah darimana untuk menggoda Ray. Menguji kesetiaan pemuda itu dan akhirnya lolos karena Ray sama sekali tak menanggapi. Dan yang paling gila adalah Cakka yang menyuruh anak buahnya dulu untuk mencegat Ray yang sedang bersama Acha, ia ingin melihat bagaimana Ray melindungi Acha. Dan akhirnya pemuda itu babak belur untuk melindungi gadisnya mati-matian membuat Rio dan Cakka terenyuh. Tapi untuk acara terakhir ini sepertinya Acha tidak tahu jika itu rencana dua kakak gilanya. Ray tahu karena Cakka dan Rio secara gentle meminta maaf. Tampaknya pemuda itu tidak mau merusak hubungan persaudaraan kekasihnya. Untung Ray baik, kalau tidak matilah Rio dan Cakka.

“Kakak salaman dulu sama kak Gabriel sama kak Sivia. Arjuna sama aku!” perintah Acha sambil merampok Arjuna dari gendongan Rio.

Ify dan Rio hanya menghela napas pasrah, berdoa untuk keselamatan putra mereka. Biasanya Arjuna akan menjadi bahan buruan semua wanita yang melihatnya dari yang seumuran sampai nenek-nenek. Sepertinya doa yang disampaikan Rio lewat namanya sangat mujarab. Sekarang ingin mencegahpun Acha sudah berjalan menjauh menuju meja Krishna Haling, Safira, Cakka dan Shilla yang ada di ujung dekat panggung.

Dan benar saja, disepanjang perjalanan Acha yang dipantau Ify dan Rio, sudah beberapa tangan hinggap di pipi putra mereka, dan sesekali mengacak-acak rambut yang sudah ditata sebaik-baiknya oleh Rio dengan raut begitu gemas.

“Ini salahmu!” Ify mendengus prihatin.

“Kenapa aku?”

“Kamu yang kasih nama Arjuna.”

“Itu nama yang bagus. Kamu juga setuju. Dia akan jadi ksatria yang tampan, cerdas, kuat dan pemberani nanti.”

“Aku tidak mau anakku menjadi laki-laki dengan lima istri seperti Arjuna.”

“Dia bukan anak Pandu Dewanata yang punya istri lebih dari satu, dia putra Mario Haling yang hanya akan menjadikan satu wanita sebagai ratunya. Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya.”

Dan selalu. Ify akan kalah berdebat dengan Rio sejak dulu, sejak mereka bertemu untuk pertama kali dalam usahanya menjalankan hukuman dari Gabriel untuk membuat sebuah arca tersenyum sewaktu MOS SMA. Kadang Ify berpikir Rio terlalu cerdas untuknya. Ia kini hanya bisa diam, mengikuti Rio menuju pelaminan, mengambil antrian untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai dan orang tua kedua belah pihak.

Gabriel tampak begitu tampan dengan beskap putih, begitu serasi dengan Sivia yang benar-benar nampak seperti ratu sehari dengan kebaya berwarna senada dengan pasangannya.

“Akhrinyaaa!!! Cinta diam-diam lo waktu SMA sampai pelaminan, Vi!” Ify berseru setelah sampai di depan Sivia, memeluk sahabat kentalnya itu erat-erat diiringi tatapan Gabriel dan Rio yang sedang berangkulan.

Sivia melepas pelukan Ify. Menghadiahi sahabatnya itu dengan tatapan mematikan karena mulut bawel Ify yang tidak berubah telah membongkar hal yang ia anggap aib. Kemudian seringaian kemenangan muncul di wajah Sivia setelah menemukan hal untuk membalik keadaannya menjadi di atas angin. Mata sipit wanita cantik itu beralih ke perut Ify. Ify menyadarinya. Susah payah ia menelan ludah yang seperti membatu.

“Selamat juga, Sayang! Semangat banget sih bikin penerus Haling-Umarinya?” seru Sivia misterius, dengan nada yang tak kalah keras dengan Ify barusan. Sukses membuat Rio dan Gabriel melotot, mencoba menebak maksud kata-kata Sivia. Belum sampai jawabannya ditemukan, Ify sudah menarik Rio dengan membabi buta.

“Kak Gabriel jangan genit-genit lagi! Jagain sohib gue yang ngeselin itu!” pesan Ify sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya menarik Rio.

“Fy, maksud Sivia tadi apa?” tanya Rio setelah keduanya sampai di bawah panggung pelaminan. Raut wajahnya seperti orang linglung.

“Eung.. anu.. eung...” ucap Ify terbata. Masih bingung apa yang harus ia ungkapkan. Sivia benar-benar merusak acaranya.

It’s dancing time!” suara pembawa acara membuat Ify bernapas lega. Setidaknya ia punya alasan untuk mengulur waktu walaupun ia tak lagi menggubris kelanjutannya.

Musik mulai mengalun. Ify dan Rio sangat mengenal lagu ini. Membuat keduanya tersenyum dan melupakan masalah barusan.

Looks like we made it..
Look how far we’ve come, my baby...

“Lagunya nyindir kita banget sih, kak Rio.” ucap Ify dengan tawa geli, terlebih saat memanggil Rio seperti saat mereka SMA dulu.

Rio tertawa. “Go to the floor with me, Alyssa Haling?” tawar Rio sambil menyodorkan tangan kanannya. Dengan anggukan mantab, Ify menyambutnya.

They said, “I bet, they’ll never make it!”
But just look at us holding on..
We’re still together still going strong..

Mata Rio bersinar-sinar penuh kebahagiaan. Dunia harus melihat siapa wanita yang sedang ia genggam tangannya. Dunia yang dulu meragukan mereka bisa bersatu. Cinta mereka tidak pupus justru semakin kuat. Mungkin waktu mereka masih panjang. Mungkin masih ada jutaan masalah yang mengantre untuk menguji mereka. Tapi jika wanita cantik ini tetap ada dalam pelukannya seperti saat ini, ia tidak akan pernah takut.

“Kalian selalu sukses bikin iri!” ucap sebuah suara bariton yang membuat Ify menegakkan wajahnya yang semula bersandar di pundak Rio.

Di sebelah Rio dan Ify sudah berdansa juga Alvin dan Agni. Dan suara tadi berasal dari Alvin. Rio hanya menanggapi dengan tawa.

“Kita bisa kaya gini kan gara-gara lo juga.” komentar Ify.

“Enggak. Gue bukan apa-apa. Kalian yang begitu hebatnya berjuang.” Alvin menimpali.

“Lo sama Agni juga hebat.”

“Nggak usah lo bilang juga gue tahu itu.” ucap Alvin yang membuat tawa keempatnya pecah. “Enjoy, ya!” lanjutnya dan membimbing Agni ke tengah lantai dansa.

You’re still the one that I love..
The only one I dream of..
You’re still the one I kiss good night..

Ify dan Rio masih memilih bergerak selaras di tempatnya, ditepian pasangan-pasangan lain yang juga sedang berdansa. Seperti biasanya, mereka selalu memilih tempat yang membuat dunia hanya ada mereka, seperti saat dulu mereka berjuang menunjukan pada dunia jika mereka pantas bersatu, dan kini saat cinta itu sudah diikat dengan janji setia bersaksi Tuhan.

Semuanya seperti mimpi yang abadi. Apa yang selalu mereka cita-citakan dan kemudian perjuangkan mati-matian terwujud. Mereka membuatnya menjadi nyata atas nama cinta. Tak ada yang lebih manis selain melihat orang yang sama di saat mata akan terpejam di malam hari dan bagun lagi esok hari. Orang yang kita cintai, dan mencintai kita. Seperti matahari, sekalipun setiap hari kita melihatnya, kita akan terus berharap ia datang lagi esok, esoknya, esoknya lagi, dan esoknya lagi. Tak akan pernah cukup.

Untuk Rio, Ify masih satu-satunya. Untuk Ify, Rio masih satu-satunya. Entah untuk berapa lama lagi, tapi sepertinya itu akan terucap setiap hari hingga nanti sampai di ujungnya senja. Sampai nanti di embusan napas mereka yang terakhir.

Ain’t nothing better..
We beat the odds together..
I’m glad we didn’t listen..
Look at what we would be missing...

Memang tak ada yang lebih baik dari melangkahi segala sesuatu berdua dengan dia yang selalu memberi cahaya. Tak ada suara lain yang harus didengarkan kecuali deru hati yang terus bertalu menjeritkan kata cinta.

Rio menempelkan keningnya pada milik Ify. Mengeratkan pelukannya di pinggang wanita itu, ingin menegaskan ia tak akan pernah rela membagi wanita ini dengan dunia. Ify miliknya dan akan selalu begitu.

“Aku mencintaimu.” ucap Rio. Ia tahu tak perlu mengucapkannya karena Ify sangat tahu itu. Tapi kali ini ia betul-betul ingin.

“Aku tahu.” jawaban seperti yang Rio bayangkan. “Aku juga mencintaimu.”

“Aku nggak pernah percaya keabadian, aku nggak tahu di mana batas selamanya, tapi aku nggak akan puas terus seperti ini sama kamu.” Rio menghela napas yang langsung menyapa wajah Ify, membuat tubuh itu bergetar samar. “Aku bersyukur lewati ini sama kamu.”

Dua tangan Ify merambat dari tengkuk Rio untuk membingkai wajah tampan suaminya. Telunjuk lentik tangan kanannya bergerak lembut menusuri setiap lekukan tanpa cela di wajah sang suami. “Terimakasih kamu sudah memilihku, terimakasih kamu sudah memperjuangkanku, terimakasih sudah menjadi suami yang luar biasa, terimakasih sudah menjadi ayah yang hebat.”

“Aku akan lakukan yang terbaik yang mampu aku lakukan untuk kamu, untuk Arjuna. Apapun itu taruhannya, sekalipun nyawaku.”
Ify tahu Rio tak pernah main-main dengan ucapannya. Semua yang keluar dari bibir pria itu mutlak. Wanita itu tertawa kecil. Ada yang kurang dari ucapan Rio barusan.

“Maaf, tugasmu akan segera bertambah.” Ify berkata dengan mata sayu penuh misteri.

Rio terhenyak, kembali teringat kata-kata Sivia tadi. Otaknya mulai merangkai puzzle-puzzle yang berserakan. Beberapa hari ini Ify terlihat sedikit pucat, beberapa hari lalu istrinya sempat muntah-muntah dan ia beralasan dengan sedang masuk angin. Kemarin dengan mengejutkan karena Ify sama sekali tak suka rasa asam minta mangga muda. Dan tubuh Ify memang lebih berisi dari sebelumnya.

“Ma-Maksud kamu?” tanya Rio terbata. Ia bisa menyimpulkan namun kebahagiaan yang ia tampung seakan membuat dadanya ingin meledak dan kehabisan kata-kata.

Ify membimbing tangan kanan Rio ke perutnya. “Hey, Sayang, yang di dalam sana, beri salam pada papamu!” perintah Ify sambil terkikik geli. Ia tahu tak akan ada reaksi gerakan dari janin muda yang ada dalam perutnya, tapi hubungan tak bisa dimengerti antara ayah dan anaknya pasti terjalin.

“Aku akan punya satu malaikat lagi?” tanya Rio hampir memekik saking bahagianya.

Sepertinya ada yang harus diralat. Ify menggeleng. “Dua malaikat lagi. Kembar.” jelasnya dengan senyuman lebar. “Tadinya aku mau bilang pas ulang tahunmu minggu depan, tapi Sivia membongkarnya.”

Rio tak tahu harus berbuat apa untuk mengungkapkan kebahagiaannya yang tak terkira. Yang ia bisa lakukan sekarang adalah memeluk Ify erat-erat sambil berterimakasih berkali-kali. Kalau ada level di atas bahagia ia sedang mengalaminya saat ini.

Mungkin kisah cintanya dengan Ify tidak akan melegenda hingga penjuru bumi paling pelosok seperti Romeo dan Juliet. Tapi ia bersyukur dengan kisah ini. Kisah yang lebih dari yang ia harapkan. Ia bersyukur tidak pernah menyerah untuk berjuang. Hey, Romeo dan Juliet tidak pernah merasakan bahagianya melihat anak-anak dengan dua darah keluarga paling disegani tumbuh besar!

Rio mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Ify, mulai menghitung ketukan lagu yang akan segera berakhir. Ia akan mendapatkan puncaknya.

“You’re still the one...”

Minggu, 13 Januari 2013

The Time For Love part 2


Bukit bintang, 31 Desember 2006. 23:47 WIB

            Malam begitu dingin. Rintik-rintik lembut buliran air langit setia mengiringi guliran detik menyambut tahun yang akan datang, mengucap kata pisah untuk tiga ratus enam puluh empat hari sebelumnya. Di antara miliaran manusia yang memilih berpesta, dua anak manusia yang memilih untuk menikmati dalam diam, dalam hening yang begitu damai, dengan hati yang tak henti merapal syukur.

            “mas..” panggil Ify lembut. Mencoba memberanikan diri untuk menggenggam tangan kokoh Rio, menelusupkan jari-jari lentiknya di sela jemari pemuda itu. Sedikit-sedikit kehangatan mulai menjalar di tubuh indahnya. Debaran tak nyaman namun selalu ia rindukan yang sedari tadi coba ia kendalikan kian menggila. Biarlah. Setidaknya untuk malam ini rasa itu berdiri di podium juaranya.

            Sambil tersenyum, Rio menatap Ify lembut. Merangkum binar-binar indah sepasang mata bening milik gadis itu. Menikmati setiap lekuk agungnya. Membuatnya menyadari keagungan dan kasih Yang Maha Segalanya pada diri gadis itu. Cinta yang tulus dan suci.

            “mas Rio, aku sayang sama mas.” Gumam Ify. Pegangannya pada tangan Rio menguat, menggambarkan semua nyali dan tenaganya sudah tercurah untuk kembali mengatakan kalimat tadi. Rio masih belum bereaksi. Wajahnya masih tenang, tanpa riak emosi yang terbaca. Ia pun masih belum membalas genggaman tangan Ify.

            “aku tahu.” Jawab Rio sambil tersenyum geli.

            “terus perasaan mas buat aku?” cerca Ify yang sudah menatap penuh ke wajah Rio.

            “menurut kamu?”

            Bibir Ify mengerucut. Ia sepenuhnya tidak sedang bercanda. Tapi kenapa di saat seperti ini Rio justru tak bisa serius?

            Pertunjukan pecikan api warna-warni yang menari indah di langit sudah dimulai, merah kekuningan, merah, biru, hijau, ungu, berganti-gantian. Diiringi rampak dentumannya yang berpadu dengan suara tiupan terompet mulai terdengar sayup. Orkes khas yang selalu ditunggu setiap tahun baru.

            “pengakuan penting ya?” Ify mengangguk mantab mendengar pertanyaan Rio. Pria hitam manis itu menghela nafas kemudian tersenyum. Namun setelah itu ia kembali menatap langit. Ia biarkan Ify bersandar pada bahu kokohnya.

            “kamu tega ngebiarin aku nebak-nebak sendiri gimana perasaan kamu? Aku takut, apa yang aku rasain selama ini soal perasaan kamu itu salah.” Lirih Ify.

            “kalau tebakan kamu aku nggak sayang sama kamu, ya berarti emang salah.” Sahut Rio sambil tertawa kecil. Ify mengrenyitkan dahi setelah kembali menegakkan tubuhnya dan menatap pemuda pemilik hatinya itu. Rio juga hanya turut menatapnya heran.

            “mas Rio pernah SMA nggak sih? Nggak romantis banget.”

            Rio tersenyum sumir. “kamu nggak akan bisa bayangin masa SMA aku.” Lirihnya, walaupun masih ada senyum di bibirnya. Khas seorang yang tak pernah lupa bersyukur sepertinya. “jangankan ngedeketin cewek, ngelirik aja nggak ada waktu.” Cengiran kuda terlukis di bibirnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

            “bohong!” tanggap Ify cekatan.

            “kamu tahu? sampai sekarang aku bisa kuliah gara-gara beasiswa, gitu juga waktu SMA. Untuk itu aku punya sesuatu yang harus dikorbankan, masa remaja aku.”

            Sekali lagi, Ify terpukau karena pria ini. Rio memang berbeda, dia luar biasa dengan caranya sendiri. Seharusnya ia tak pernah punya keraguan itu. Ditambah ia sudah tahu kisah pelik hidup Rio. Sang ayah yang meninggal karena kecelakaan saat ia masih kelas tiga SMP, memaksanya untuk ikut mencari nafkah membantu ibunya dengan bekerja part time sana-sini. Dan berarti jika baru saja Rio mengatakan –secara tersirat- jika pria itu mencintainya, ia adalah wanita pertama yang berarti bagi Rio, setelah ibunya sendiri.

            “aku punya janji sama almarhum ayah, aku mau memulai hubungan, di sini, membahagiakan orang lain, selain ibu dan adikku, setelah aku bahagiain mereka. Maaf.” Terdengar hembusan nafas Rio yang cukup menerangkan jika ia pun berat mengatakan apa yang baru saja keluar dari bibirnya.

            Ify tahu, yang baru saja ia dapatkan adalah penolakan –lagi-. Setidaknya saat ini ia tahu mengapa Rio tak mau menerimanya. Ada kata lain yang tersembunyi dari pernyataan pemuda tampan itu. Menunggu. Apa artinya menunggu beberapa tahun untuk sebuah kebahagiaan sejati yang akan di dapatnya bersama pria sempurna –dalam ukuran manusia- ini. Dengan segera, Ify menubruk tubuh Rio, memeluknya dari samping dan menyandarkan dagunya pada pundak Rio. Rio tidak memberontak, namun juga tak membalas. “aku mau nunggu mas.” Bisik Ify, lirih, dengan ketulusan yang membara.

            Rio terhenyak. Ify baru saja mengucapkan kalimat yang paling ingin ia dengar. Ia menoleh ke arah gadis manis itu. Celaka. Jarak yang tersisa di antara dua pasang mata penuh bahagia itu hanya berjarak beberapa centi. Rio bahkan bisa mencium aroma jasmine yang menguar dari rambut Ify dengan sangat baik. Bibir mungil yang sedikit terbuka menyita perhatiaannya, membuatnya menelan ludah susah payah. Separuh kesadarannya yang mesih tersisa memerintahkannya untuk menjauh, namun rasa penasarannya terus menahannya agar bergeming.

            “do it.” Ucap Ify sambil tersenyum setelah mendengar Rio menggeram lirih mencoba mengendalikan harsatnya. Setan kecil yang menari di otak Rio menjadi lebih bersemangat, menang. Dengan segera, pemuda itu merengkuh pinggang Ify. Menyapu bibir merah gadis itu. Manis. Ify mengalungkan lengannya di leher Rio, menenggelamkan telapak tangannya pada rambut hitam pria tampan itu. Setiap pagutan yang membawanya terbang, jauh melampaui bunga-bunga api yang meledak-ledak di angkasa gelap sampai akhirnya kembali lagi ke bumi.

            “happy new year, sweetheart.” Ucap Ify di sela genderang letusan kembang api yang semakin riuh bersahutan mengiringi bunyi terompet panjang yang terdengar dari kejauhan menandakan tahun sudah berganti. Rio hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Kembali memusatkan pandangannya pada hamparan lampu-lampu kota yang terus mengerling ikut bahagia. Dengan hati yang terus merapal syukur pada yang punya waktu. Sang Maha Cinta. 
   
            Tahun baru paling indah seumur hidup yang pernah dialami keduanya. Setahun yang luar biasa dengan deru hati yang tak henti bertalu. Dengan cinta yang masih setia menyala terang menunggu keduanya menjemput.

********

Stasiun Tugu, 11 Januari 2007. 18:30 WIB

            Tempat datang dan berangkatnya kereta, di bagian manapun dari dunia, pasti pernah menjadi latar tempat jatuhnya air mata, entah air mata bahagia saat rindu menemui muaranya pada mereka yang lama tak jumpa. Atau air mata sendu membayangkan banyaknya rindu yang akan membelenggu di luar batas temu. Banyak orang lalu-lalang tak juga membuat fokus sepasang anak manusia ini berubah. Tak ada satupun yang mau melepaskan. Kedua tangan mereka tertaut erat. Tak ada yang bisa memisahkan mereka. Sekalipun tak ada kesedihan terpapar dari wajah keduanya, rasa takut itu ada, bahkan panjangnya rentetan gerbong kereta yang bertengger di atas rel sambil mengaum itu tak bisa menyamai.

            Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasangan, Adam dan Hawa, Romeo dan Juliet, Arjuna dan Srikandi, hutan dan hujan, amplop dan perangko. Walaupun kadang manusia hanya meminta salah satu, tanpa pasangannya. Seperti tak pernah mengharap ingkar di belakang janji, dan tentu tidak ada perpisahan sesudah pertemuan.

            Suara nyaring petugas stasiun menjadi suara paling menakutkan yang pernah mereka dengar. Suara bel kereta yang terus memaksa orang-orang pergi ingin sekali dibanting. Tapi perpisahan ini memang harus dilakukan untuk kembali bergandengan di ujung jalan, menapaki jalan berdua. Gadis manis itu mencoba tersenyum, walaupun serasa ada beban puluhan ton yang menghimpit tubuhnya.

            “pergilah mas.” Lirih Ify. Gadis tadi. “aku tahu kamu pasti penuhi janji kamu buat kembali.” Lanjutnya, dengan senyum yang semakin lebar, dengan luka menganga di hatinya yang juga semakin lebar. Apapun itu ia siap diam dalam penantian.

            “kamu yakin mau nunggu? Aku nggak bisa kasih kamu kepastian.” Rio tak pernah membayangkan akan sesakit ini rasanya untuk meninggalkan separuh nafasnya di sini. Tapi ibu dan adiknya sangat membutuhkannya. Ada pekerjaan bagus yang ditawarkan sebuah kotraktor besar di Jakarta. Dengan gaji yang menggiurkan, cukup untuk memasukkan dan membiayai Ozy di SMA favorit serta memperbaiki ekonomi keluarganya yang terkatung-katung.

            “satu-satunya hal yang pasti di dunia ini cuma ketidakpastian kan?” Ify membelai pipi Rio. Mendongak agar bisa menatap wajah pria jangkung pemilik seluruh hatinya. “berapa tahun kamu minta? Satu? Dua? Tiga? Empat? Lima? Lebih? Aku siap.”

            Rio tak menjawab. Ditariknya tubuh Ify kemudian ia peluk erat. Ia mengecup ubun-ubun gadis itu lama. Ia hirup dalam-dalam harum rambut Ify, memenuhi rongga paru-parunya hingga tak ada lagi ruang kosong. Aroma lembut yang pasti akan sangat dirindukannya. Ify membalas, direngkuhnya pinggang Rio, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Mendengarkan deguban jantung Rio yang tak wajar. Menyimpan aroma tubuh khas pemuda tampan itu rapat-rapat di memorinya. Lenguhan panjang bel kereta memberi tanda terakhir jika kereta Senja Utama tujuan Jakarta akan segera berangkat, dan Rio adalah salah satu penumpangnya. Ify melepaskan pelukannya. Mengangguk singkat sebagai izin terakhir yang mantab ia berikan.

            “aku pamit.” Pamit Rio disusul sebuah kecupan singkat di kening Ify sebelum ia berlari menyongsong kereta yang sudah berjalan lambat dengan pintu yang mulai tertutup. Ify melambaikan tangannya pada Rio yang masih berdiri di belakang pintu berkaca bening, pria itu membalas lambaiannya dengan senyuman yang menunjukkan gigi gingsulnya, senyuman termanis yang pernah Ify lihat. Tak ada laki-laki lain yang memilikinya.

            Tujuh hari lalu ia masih bisa tersenyum bangga saat melihat Rio begitu tampan dan gagah dengan toga yang ia kenakan. Lulus cum laude. Tiga koma enam tujuh. Tak percaya rasanya hari ini ia harus mengalami hal ini. Perpisahan. Sekalipun untuk sementara, sekalipun akan kembali bertemu lagi nanti. Akan selalu menyisakan sesak dan kehilangan.

********

Yogyakarta, 08 Januari 2012. 17:00 WIB

            Angin yang besar di awal tahun. Membuat gemerisik dedaunan pemecah sepi. Gerombolan asap putih yang menyatu menjadi awan berjalan cepat ke arah timur, tak mau kalah berpacu dengan waktu diintip dari balik cendela kamar bernuansa biru ini. Hari berlalu, bulan berlalu, tahun pun berlalu. Surat-surat kiriman pemilik hati sudah bertumpuk di dalam sebuah kardus berwarna cokelat muda. Tak pernah sebanyak resah yang menggunung untuk orang yang sama.

            Jemari suwiran nyiur gadis itu merayap anggun menuju sebuah amplop putih yang terletak paling atas. Surat terakhir yang Rio kirimkan untuknya tiga bulan lalu. Surat yang hampir setiap hari ia baca tanpa jemu. Menunggu dengan pasrah agar semua yang diucapkan pria itu dalam surat itu menjadi nyata.

Yunani, 02 Oktober 2011.
Untuk Ify,
            Aku sudah berlayar untuk mereka, aku sudah membawa mereka ke pulau impian. Eropa! Mereka bahagia. Janjiku tuntas walaupun belum selesai! Aku lelah. Tenaga terakhirku untuk menjemputmu. Menyongsong bahagiaku.
Aku mau berlabuh.
Kamu masih di tempat yang sama?
Salam rinduku,

Rio.

            Ify sudah hafal isi surat itu, kata-perkata. Ia sudah menjawabnya. Dua kali. Tapi Rio tak pernah lagi membalasnya. Satu-satunya yang ia takutkan adalah keadaan pria itu saat ini. Mungkin ia akan rela jika Rio sudah bahagia dengan jalan yang ia pilih. Tapi ia tak sekuat itu. Kakinya seakan  dilolosi tulang dan tak kuat lagi menahan tubuhnya yang kemudian luruh ke lantai. Butiran mutiara bening berjatuhan dari ekor matanya, bahunya bergetar karena isakan yang tak mampu lagi ia tahan. Ia salah menafsirkan, mungkin. Atau memang Rio yang sudah lupa dengan sejuta kata manisnya. Kelebihan bawaan lahir seorang laki-laki adalah merangkai kata menjadi untaian kalimat indah.

            Harapan itu terlanjur terbang tinggi seperti balon yang terlepas. Ia harap pria itu datang, menjemputnya. Ia berharap Rio benar segera berlabuh dalam dekapannya dan tidak akan pergi kemanapun lagi. Berkali-kali gadis berwajah tirus itu membenturkan kening ke kedua lututnya. Seperti melihat sebuah menara tinggi yang sedang dibangun lebih tinggi, dan terus meninggi, ia berada di bawah dengan harapan jika suatu hari puncak menara itu bisa disentuhnya. Rio terlalu tinggi.

            Takut. Apakah rasa, waktu, cinta, dan rindu yang menyatu dalam penantiannya tak akan sia-sia? Ia manusia biasa. Gunung punya puncak, sungai punya muara. Kesabarannya pun sudah hampir sampai ujung pendakiannya. Keraguan yang hampir sampai muaranya. Rio sudah mendorongnya pada labirin waktu tanpa memberi tahu arah jalan untuk pulang, sampai akhirnya ia berjalan terseok, hampir jatuh dalam keputusasaan seperti saat ini. Dengan satu kaki, cintanya yang tak juga mati untuk pria itu.

            Raungan ponsel yang tergeletak di depan komputer menyentak Ify. Sebelum menekan tombol bergambar gagang telephon warna hijau, ia mengatur nafasnya yang masih satu-satu. Ia tempelkan benda itu ke telinganya.

            “kenapa, Ag?”

            Panggilan dari Agni. Sebisa mungkin Ify menahan isakannya, tapi suara sengaunya tak lagi bisa disembunyikan.

            “venue buat pameran kamu udah siap.” Jawab suara melengking di seberang sana. Terdengar sangat puas. “kamu sakit?” intonasinya melemah, sadar ada yang tidak beres dengan suara sahabatnya.

            Ify mengangguk. “ah.. iya. Flu.” Ralatnya setelah sadar Agni tak akan bisa melihat anggukkannya.

            “makan, minum obat, istirahat! Pameran perdana kamu tiga hari lagi!” cerocos Agni kemudian menutup telephon, tak menerima protes.

            Hampir Ify melupakan hal penting itu. Tiga hari lagi hasil jepretannya akan ikut dalam sebuah pameran beberapa fotografer muda berbakat, setelah salah satu karyanya menang dalam sebuah ajang kontes fotografi bergengsi. Sebelas Januari. Tanggal yang menjadi spesial sejak ia bertemu Rio enam tahun lalu. Sedikit lagi harapan timbul, pria itu akan datang.

********

Rumah Budaya Tembie, 11 Januari 2012. 17:00

            Pria bertubuh jangkung, berkulit hitam manis ini terpekur di depan sebuah gambar yang paling menarik perhatiannya dari sekian banyak foto yang terpampang. Pada bagian kanan bawahnya tertulis Pantai Terindah – Ify Umari. Sejak kapan gadis itu bisa menilai jika pantai itu indah? Sejauh memori yang ia simpan, Ify tak pernah suka pantai, atau kumpulan air yang banyak, terlebih ada ribuan linting gelombang di atasnya. Tapi ia tahu kapan foto yang menunjukkan siluet seorang lelaki yang berdiri membingkai terbitnya matahari di tepi pantai Parang Kusuma itu diambil, sekitar pertengahan tahun 2006, ia juga kenal betul pria yang sepertinya menjadi keindahan utama pantai itu, dirinya.
                           
            “Yang, foto ini kenapa bisa menang? Padahal udah sering lihat yang begini.” Tanya seorang gadis berkacamata pada laki-laki di sampingnya, yang dari caranya memanggil, pria itu kekasihnya. Si pria masih asyik mendalami foto yang ditanyakan sang kekasih. Foto yang sama dengan yang dilihat pria pertama.

            “emosi dari pengambil foto ini, cinta, kekaguman, ketakutan.” Jawab si laki-laki dengan pandangan takjub yang tak bisa ia sembunyikan. “sesekali, kamu harus melihat sesuatu dengan perasaan. Nggak semua hal yang ada di dunia itu eksak.”

            Si pria pertama mulai beranjak dari foto yang sejak tadi ia nikmati. Ucapan pria berpenampilan seadanya, khas seorang seniman tadi, memupuk kerinduannya pada gadis pencipta gambar tadi. Cinta akan segera menemui cintanya.

            “mbak, mbak Ify Umarinya ada?” tanya pria tadi pada resepsionis penjaga pintu masuk.

            “ada di dalam. Ada yang bisa saya bantu?” sahut resepsionis cantik itu.

            “saya ingin bertemu. Boleh?”

            “dengan mas siapa ya? Saya konfirmasi dulu dengan mbak Ify.”

            “bilang saja dengan orang yang dia tunggu. Saya menunggu di depan.”

            Rio, pria tadi, mengayunkan tungkainya keluar dari ruang pameran menuju sebuah taman yang tak jauh. Diiringi guguran daun akasia dan angin kencang yang menerbangkan helaian rambutnya yang mulai gondrong. Jantungnya bergedup cepat, seperti mau meledak. Seperti apa Ify saat ini? Masihkah ia menyimpan rasa yang sama dengan lima tahun lalu?

********

            Ify melangkah cepat setelah mendapat kabar dari resepsionis. Orang yang ia tunggu. Satu-satunya orang yang ia tunggu saat ini adalah Rio. Rasa penasaran yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Tak peduli lagi jika sesaat lagi ia harus kecewa, ia biarkan harapannya berdansa dengan matahari. Jatungnya yang bergerak jauh di luar batas normal tiba-tiba saja berhenti saat mendapati seorang pria yang duduk di atas bangku putih membelakanginya. Ia tak akan mungkin lupa dengan setiap bentuk dan lekuk tubuh pria itu. Rio. Itu Rionya.

            “mas Rio..” dan sekarang tenaganya benar-benar habis, sisa terakhir untuk menyebut nama laki-laki yang luar biasa ia rindukan itu.

            Rio menoleh cepat karena baru saja ia mendengar suara yang selalu menyapanya dalam mimpi. Suara yang selalu membuatnya bangkit saat ia benar-benar letih berjuang. Suara yang selalu ia inginkan untuk menyapanya setiap pagi. Segera ia melompat untuk memeluk tubuh dewi khayangan yang lahir di dunia, lahir untuknya itu. Melepaskan senyawa-senyawa rindu yang tak lagi bisa dirayu.

            “aku kangen.” Lirih Rio. Tangisan Ify pecah. Harapan-harapan yang ia hidupkan sudah berubah menjadi kenyataan. Rio tidak bohong. Bakat merangkai kata manis itu juga diiringi tanggung jawab untuk membuktikannya.

            “aku sayang mas.” Balas Ify disela isakannya. Satu kalimat pendek menjelaskan segalanya. Tak perlu kata-kata manis, hati mereka sudah saling berbisik. Gadis itu mempererat rengkuhannya pada pinggang Rio, kembali memenuhi paru-parunya dengan harum tubuh yang selalu menjadi candu yang ia buat sendiri. Candu yang akan ia nikmati sendiri dan tak akan sudi ia bagi pada dunia.

            Rio melepas pelukannya dengan sebuah senyuman manis. Ia hapus jejak air mata Ify dengan ibu jarinya. Gadis ini alasannya lahir di dunia. Untuk siapa kekuatannya sebagai seorang laki-laki diberikan Tuhan. Dengan siapa ia memenuhi dunia.

            “jadi kita bisa bahagia berdua sekarang? Aku punya mas, dan mas punya aku?” tanya Ify polos. Dengan nada manja yang selalu membuat Rio kehilangan, yang hanya bisa menjadi angan beberapa tahun ini.

            Tawa lepas keluar dari bibir Rio. Ia menggeleng mantab. Tak menyetujui pertanyaan Ify. Tanganya mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Gerakan yang membuat Ify diam mematung. Namun kemudian kedua bola mata almonnya membulat penuh karena sebuah cincin yang disodorkan Rio ke hadapannya.

“bukan berdua, sama anak-anak aku. Kamu mau jadi ibu mereka?” dan ini lah Rio. Dengan kesederhanaannya. Dengan ia yang apa adanya. Namun dengan kasihnya yang luar biasa.

Bulir air mata kembali mengalir dari mata Ify, namun bukan lagi air mata perih sebuah penolakan atau air mata keputus asaan. Hanya kebahagian yang tak bisa ia bendung lagi. Gadis manis itu mengangguk samar. Senyum Rio merekah ia pasangkan cincin emas putih bertahta berlian yang ia sodorkan ke jari manis tangan kiri Ify. Ia peluk erat gadis itu sekali lagi, kali ini untuk selamanya.

********

EPILOG
           
Jemari lentik wanita ini menyapu sebuah foto yang dibingkai stainless steel warna silver, perlahan, takut kuku-kukunya akan menggores tulusnya cinta yang terpapar nyata. Seorang laki-kali yang tampak tampan dan gagah dengan beskapnya, disampingnya seorang wanita yang berdiri anggun dengan kebaya putih. Ingin sekali rasanya ia berdiri di tengah mereka. Mencicip sedikit bahagianya.

Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku...

            Suara lagu dari radio kuno yang bertengger di dekat jendela, radio yang setia menemani piano putih di sudut ruangan. Suaranya sudah mulai sumbang dipukul dentingan waktu. Namun kisahnya tidak. Tidak pernah berkurang manisnya. Kisah tentang cinta yang menggenapi kisah hidup. Kisah cinta yang nyata dari dua orang terhebat dalam hidupnya. Janji itu tergenapi. Di tembok, satu meter dari jendela, terpampang foto besar satu keluarga. Ia mengenal betul satu-persatu dari mereka. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu namanya Bastian. Sekarang sudah menjadi pilot hebat. Boleh ditanyakan negara mana yang belum pernah ia lewati. Hampir semua sudah! Dan gadis kecil berusia empat tahun, rambutnya yang keriting dikucir dua. Namanya Raissa. Wanita yang sama dengan yang tengah menatap foto itu. Dan yang paling kecil, yang masih dua tahun, tersenyum lebar dipangkuan sang ibu, namanya Keke. Tak menyangka bocah kecil yang hobi menangis itu kini sudah menjadi seorang pengacara yang lantang menyerukan keadilan.

            Air mata wanita cantik itu mengalir setetes dari ekor mata kanannya. Mengingat kasih sang ibu yang luar biasa. Seorang wanita dengan perut buncit karena tengah mengandung memeluknya yang sedang menangis setelah dijahili sang kakak yang sedang bertengger di atas pohon jambu yang tumbuh di belakang rumah karena merasa bersalah, atau lebih dikarenakan ketakutan mendengar suara mobil sang ayah yang baru pulang dari kantor. Ayahnya laki-laki yang tegas. Bukan ditakuti, tapi selalu disegani oleh seluruh anggota keluarga. Kalimat saktinya “apa salah kamu?”. Beliau tidak ingin orang lain hanya terpaksa minta maaf dan tidak bisa menyadari kesalahannya sendiri. Setiap kejadian terekam manis di otaknya.

            Dan foto terakhir yang ditangkap indra penglihatnya adalah gambar dua orang tua dengan rambut yang mulai memutih. Yang laki-laki dengan kaos polo warna putih, berdiri dengan sisa-sisa kegagahannya. Di dalam rangkulannya seorang wanita yang menyimpan kecantikan di ruas-ruas keriput wajahnya. Saling tatap penuh kasih. Di belakangnya ada sekelompok musisi, berdiri rapat dengan puing-puing bangunan yang menjadi background panggung mereka. Ibunya pernah bercerita jika sewaktu muda ia dan suaminya –ayah wanita tadi- pernah melihat sepasang kakek-nenek yang tetap mesra di usia mereka yang tak lagi muda di Taman Sari. Dan akhirnya mereka berdiri juga di tempat yang sama, dengan keadaan yang sama. Setelah puluhan tahun merajut kasih.

            Wanita tadi mengalihkan pandangannya karena sebuah pelukan yang melingkar di pinggangnya. Seorang laki-laki tampan berdiri rapat di belakangnya. Seulas senyuman di sela tetes air mata ia sunggingkan.

            “mereka masih akan saling mencintai ribuan tahun lagi di tempat yang lebih indah.” Bisiknya setelah ikut tenggelam dalam foto yang dipegang kekasih hati.

karena kasihku hanya untuk dirimu
selamanya kan tetap milikmu...

            “Ify...” gerakan bibir sang ayah yang mulai membiru kembali berkelebat nyata diingatannya. Laki-laki renta yang tengah terbaring antara hidup dan mati itu mengucap nama orang yang paling ia rindukan dengan senyum. Cara memanggil paling mesra yang pernah ia dengar. Lembut. Lirih. Mendayu. Seakan perempuan cantik yang sudah kembali ke pangkuan Penciptanya itu hadir lagi di hadapannya. Menjemputnya. Tepat lima tahun. Seakan bayaran dari hutangnya pernah membuat wanita itu menunggu lima tahun sudah terbayar penuh. Pria itu menghembuskan nafas terakhirnya. Menyongsong damainya. Berlabuh pada cinta yang paling abadi. Hari itu, 11 Januari.

Ku ingin selamanya menyayangi dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku..
Ku ingin selamanya ada di sampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku...
           
Jika ada yang bisa menyamai kekuatan waktu, cinta jawabannya. Waktu bisa mengubah cinta, dan cinta bisa mengubah waktu. Dari waktu ke waktu, cinta yang sejati akan terus tumbuh. Dan cinta akan membuat waktu berlalu tanpa keluhan, tanpa air mata, dan menghapuskan semua penantian. Hingga akhirnya menemui apa itu keabadian.

The end....

cemana? lama nggak denger komen-komen pembaca nih. jangan sampe loh diem-diem baca terus nanti dengan inocentnya ngerepost pake ngaku-ngaku punya sendiri. hahaha... canda. tapi serius, yang ada di blog ini biar di sini aja. jangan dipublish di tempat lain. baca di sini gratis ini. oke baby? sip. salam kece. :)