Rabu, 27 April 2011

Song of Love part 9

Mobil Rio kali ini diwarnai celoteh Ify, tak lagi sunyi seperti saat keberangkatan tadi yang lebih cenderung menegangkan untuk keduanya. Gadis itu seakan menemukan lagi jiwanya setelah mendengar penjelasan Rio. Begitu pula Rio yang berhasil meyakinkan Ify untuk tetap bertahan.
Bila aku jatuh cinta..
Aku mendengar nyanyian seribu dewa-dewi cinta menggema dunia..
Bila aku jatuh cinta..
Aku melihat matahari kan datang padaku dan memelukku dengan sayang..

Sebuah lagu yang diputar dari radio tape di mobil mewah itu menghentikan sejenak aktivitas Ify. Ia memilih diam memperhatikan lagu itu. Lagu yang menurutnya memiliki arti yang begitu dalam, musik yang sederhana justru membuat makna yang ada di dalamnya lebih tersampaikan.
“romantis ya kak lagunya?” tanya Ify dengan raut berseri meminta pendapat Rio yang sedang berkonsentrasi menyetir, berharap lebih jika Rio memikirkan hal yang sama dengannya.
“berlebihan gitu.” Jawab Rio seadanya. Tak sedikitpun ia mengalihkan perhatiannya dari jalanan kepada Ify.
Ify mengerucutkan bibirnya. Ia sama sekali tak puas dengan jawaban Rio, malah justru sebal.
“ihh.. kakak nggak romantis!”protes Ify sambil melipat kedua tangannya di depan dada kemudian membuang mukanya, memilih melihat pemandangan yang membentang di tepi jalanan yang mereka lewati.
“lah? ya emang aku begini.” kata Rio membela diri.
“nyebelin!” seru Ify kesal
“childish!” balas Rio dengan nada yang sama dengan Ify.
“galak!”
“cengeng!”
“keras kepala!”
“manja!”
“egois!!!!” Ify berteriak tak mau kalah.
“I love you..” ucap Rio lembut sambil meletakkan telunjuknya di bibir Ify dan menatapnya lembut sekilas sebelum kembali fokus menyetir. Ify terdiam, memilih kembali mengalihkan padangannya ke arah lain, menyembunyikan rona merah yang kembali menyulur di kedua pipinya.
Tak menemukan sesuatu yang menarik untuk dilihat, Ify kembali menatap Rio. Menatap mata sayu namun sangat membunuh milik kekasihnya. Mata yang selalu mampu membuatnya bertekuk lutut pada laki-laki tampan itu. Beruntung sekali Rio karena Sang Pencipta menganugerahkan senjata seampuh itu padanya.
Merasa terus diperhatikan, Rio menoleh sekejap pada Ify.
“kamu boleh kedip, Fy, aku janji muka aku enggak berubah.” Seloroh Rio kalem.
“apaan sih?” Ify salah tingkah karena tertangkap basah sedang memperharitikan Rio tanpa berkedip. “aku baru sadar, Alvin lebih ganteng dari kamu ternyata!” goda Ify mengalihkan perhatian.
“ohh.. fine, you can go with him, and forget me.” Balas Rio sarkatis. “and don’t wish you meet me next time.” Lanjutnya. Ia benar-benar tak suka Ify membicarakan Alvin di hadapannya, apa lagi dibandingkan dengan laki-laki yang jelas-jelas sedang berusaha keras memisahkannya dengan bintang hatinya. Ify dapat melihat tatapan Rio yang kembali dingin dan tangan kekarnya mencengkeram stir kuat-kuat. Dan Ify sadar jika ia baru saja salah bicara, dan ia sadar ternyata Rio seorang pencemburu berat.
“sorry, I didn’t mean to hurt you, really..” ucap Ify lirih. Ia menggigit bagian bawah bibirnya menunggu reaksi Rio.
Melihat reaksi Ify yang begitu merasa bersalah dan sedikit ketakutan, Rio membuang jauh-jauh emosinya kemudian mengacak-acak lembut puncak kepala Ify.
“jangan lakuin lagi! Aku nggak suka.” Perintah Rio sambil tersenyum.
Ify mengangguk senang karena mengetahui Rio tak marah padanya.
“ternyata kamu itu cemburuan berat ya?” tanya Ify sambil terkikik geli.
“aku cuma terlalu cinta sama kamu.” Jawab Rio sambil meraih tangan Ify dan menggenggamnya erat-erat.
“aku kangen Acha, kita jemput dia yuk!” ujar Ify semangat. Rio hanya mengangguk mengiyakan.
***
Gadis kecil yang begitu cantik itu berlari menyongsong dua orang yang sedang menunggunya sambil bersandar pada mobil sang kakak. Rok merahnya ikut menari mengikuti gerakan tubuhnya, manis sekali. Rambutnya bergerak naik-turun mengikuti irama langkahnya, lucu sekali seperti kelinci mungil.
“kak Ify!!” seru Acha sambil melompat memeluk Ify.
“hallo, sayang! Apa kabar kamu?” jawab Ify sambil mebalas pelukan Acha.
“baik! Kakak juga kan?”
Mereka berdua asik bercanda tanpa mempedulikan keberadaan Rio yang berdiri tak jauh dari mereka.
“ohh.. kakak cuma dianggurin ni?” sela Rio setelah mendehem untuk mencuri perhatian adik dan kekasihnya, memasang ekspresi marah, hanya bercanda tentu saja.
“ihh.. ada yang sirik, Cha.” Balas Ify sambil merangkul Acha dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengacak-acak gemas poni Rio.
“makan es krim aja, yuk!” ajak Rio memberi usul. Ify dan Acha mengangguk semangat kemuadian bergegas kembali memasuki mobil Rio.
***
Kecerian mewarnai salah satu meja yang berada di sebuah kedai es krim yang cukup terkenal di kota ini. Kedai es krim favorit Acha. Semenjak tadi gadis kecil itu asik bercerita tentang banyak pengalamannya pada Ify sambil memakan es krim pesanannya. Ify dengan senang hati mendengarkannya. Mereka terkesan seperti sepasang kakak beradik yang sebenarnya, sama sekali tak terlihat jika Ify hanya kekasih dan sang kakak lawan bicaranya.
Sementara itu Rio lebih memilih diam memperhatikan keduanya tanpa berniat mengganggu. Ia tau Acha rindu sekali pada Ify, begitu juga sebaliknya.
“kak Ify, tau sesuatu?” tanya Acha tiba-tiba. Ify menggeleng karena memang ia tak tau apa yang akan dibicarakan Acha. “kakak sama kak Rio itu cocok banget!” lanjut Acha sedikit histeris.
Ify terkikik geli mendengarnya. Sementara Rio hanya tersenyum tipis penuh persetujuan.
“tapi kakak kamu galak, otoriter, egois lagi, Cha.” Curhat Ify sambil melirik Rio.
“ya seperti itu, sama persis seperti tuan besar Haling, kaya kata bu guru, buah jatuh tak jauh dari pohonnya!” seloroh Acha menirukan gaya seorang cendikiawan saat menyimpulkan sesuatu.
“tuan besar Haling kan papa kamu juga, kamu juga begitu dong, lagian bisa aja tu buah jatuh jauh dari pohon kalau dimakan kelelawar.” Sela Rio tak terima.
“Acha kan mirip mama!” timpal Acha penuh kemenangan.
“tu kan, Cha! Benerkan kata kak Ify?” kata Ify yang baru saja mendapatkan bukti dari apa yang baru saja ia katakan.
Acha mengangguk setuju.
Tiba-tiba saja Rio tertawa renyah saat Acha dan Ify justru sedang diam. Geli melihat Ify makan es krim dengan berantakan, sisa es krim menempel di sekitar mulutnya, sama seperti Acha, namun bagaimanapun usia mereka berbeda, wajar untuk seusia Acha makan dengan cara seperti itu, tapi tidak untuk Ify. Tanpa sungkan Rio membersihkan sisa es krim itu dengan tangan kanannya. Seketika Ify terpaku merasakan sentuhan lembut Rio, jantungnya kembali berdetak tak wajar dengan perlakuan spesial pangeran tampan itu.
“makan jangan kaya anak kecil dong..” nasehat Rio. Ify hanya mengangguk pasrah dengan tatapan yang masih terkunci pada wajah tampan kekasihnya.
“udah belum?” tanya Acha dengan mata yang ia tutup dengan kedua telapak tangannya. Gadis kecil nan polos itu tak ingin melihat kemesraan sang kakak dengan kekasihnya. Seperti apa yang gurunya pernah katakan, belum waktunya bagi anak seusianya bermain cinta-cintaan. “kata bu guru Acha nggak boleh liat orang pacaran.” Lanjut bocah itu masih dengan kepolosannya.
“upss..” ceplos Ify tak enak. Hampir saja ia dan Rio melupakan keberadaan Acha.
“udah, Cha.” Jawab Rio sambil mangacak-acak gemas puncak kepala sang adik dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Ify yang berada di pangkuan gadis itu, Acha pasti sulit melihat langsung melihatnya karena tertutup meja. Ia memberi isyarat pada Ify untuk tidak melepas genggamannya.
Ify tertawa geli melihat kelakuan konyol dua kakak beradik ini. Ia merasa sangat nyaman berada di tengah mereka, mereka yang selalu tulus menyayanginya.
“pulang, yuk, kak! Acha punya banyak tugas.” Ajak Acha sambil beranjak dari tempat duduknya, berlari menuju mobil Rio tanpa menunggu jawaban.
Mau tak mau, Rio dan Ify segera mengikutinya.
Ify terdiam sejenak saat merasakan tangan kanan Rio mlingkar di pinggangnya. Sebuah pikiran konyol berkembang di otaknya, bagaimana kalau jatungnya bocor karena perlakuan Rio yang selalu membuat salah satu organ tubuhnya itu bekerja lebih keras?
“ayo, jalan!” ajak Rio karena Ify berhenti mendadak.
Dengan wajah polosnya Ify menunjuk tangan Rio yang berada di perutnya.
“nggak boleh?” tanya Rio sambil menaikan sebelah alisnya dan melepas rengkuhannya. Kemudian dengan santainya ia berjalan menuju mobilnya meninggalkan Ify tanpa menunggu jawaban.
Ify memutar bola matanya, sebal dengan ulah Rio yang sama sekali tak bisa ditebaknya.
***
Pemuda tampan berkulit putih itu kembali menjejakan kakinya di pemukiman kumuh yang sudah beberapa hari ini tak di datanginya. Dengan terpaksa ia menunda janjinya pada gadis manis yang menolongnya tempo hari hanya untuk mengejar Ify.
Ia kembali datang untuk memenuhi janjinya dan mencoba mencari sebuah ketenangan di tempat ini. Dari jauh, sayup-sayup sudah terdengar nyanyian riang bocah-bocah yang memecah sepi di deretan rumah tanpa cela antara satu dan lainnya ini.
Sudah lewat dua puluh tujuh menit dari pukul tiga, Alvin –pemuda tadi- yakin jika Agni sudah pulang dari sekolah dan sekarang sedang mengajar anak-anak dari sekitar perkampungan.
Benar dugaannya, gadis mungil itu tengah memainkan sebuah gitar sambil menyanyikan sebuah lagu di hadapan murid-muridnya saat Alvin memasuki pondok.
Agni menyadari kedatangan Alvin, namun ia tetap berusaha biasa saja, berpura-pura tak menyadari keberadaan lelaki bermata sipit itu. Jujur, ia tak suka pada orang yang senang melanggar janji, dan Alvin melakukannya, tak ada alasan bagi gadis itu untuk tidak marah.
Alvin bersandar di pembatas pondok yang terbuat dari bilah bambu yang terpasang setinggi panggulnya. Hanya tak ingin mengganggu kegiatan yang sedang berlangsung di hadapannya. Ada ketenangan tersendiri yang ia dapatkan saat mendengar paduan suara dari anak-anak lugu itu, walaupun dengan suara seadanya, setiap nada dan lirik yang mereka keluarkan memiliki arti sendiri dan terasa lebih bermakna, sebuah masterpiece berjudul Laskar Pelangi mereka bawakan dengan cara mereka diiringi petikan gitar Agni. Petikan gitar Agni yang ternyata luar biasa untuk ukuran seseorang yang hanya belajar otodidak tanpa bimbingan ahli. Mungkin gadis itu memang mewarisi bakat alam dalam bermusik.
Tiga puluh menit kemudian, kumpulan anak-anak itu berhamburan lari keluar pondok dengan riang karena jam belajar mereka di sini memang sudah habis. Seketika tempat itu terasa sunyi, menyisakan Agni yang masih sibuk membereskan buku yang berantakan dan Alvin yang belum juga beranjak dari tempatnya.
“gue kira lo amnesia, lupa sama janji sendiri.” Kata Agni tiba-tiba, terdengar sangat sinis di telinga Alvin. Entah kenapa hati kecil Agni justru tak rela jika kenyataan itu lah yang sebenarnya terjadi.
“gue banyak masalah, maaf.” Balas Alvin mencoba sabar. “gue kangen sama lo, sama tempat ini.” Lanjut Alvin jujur.
DEG!
Jantung Agni serasa ingin melompat dari tempatnya mendengar ucapan manis Alvin. Namun buru-buru ia menggelengkan kepalanya, sebelum hal itu benar-benar terjadi.
“orang kaya emang selalu punya omong gede ya?” sindir Agni lagi.
“please, lo jangan bikin gue marah, emosi gue bener-bener labil sekarang.” Balas Alvin, terdengar sedikit memohon.
“terus elo ngapain ke sini lagi?”
Agni sama sekali belum menatap Alvin, dan kini ia lebih berkonsentrasi pada tumpukan buku di hadapannya. Menatanya kembali ke dalam rak.
“bayar janji gue dan mencari ketenangan, biar lo nyebelin, dengan berat hati gue akui lo selalu bisa buat gue lupa sama masalah gue.”
Spontan Agni menoleh pada Alvin, mencari sebentuk keseriusan di wajah tampan itu dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Sepertinya memang Alvin berkata sejujurnya. Hati Agni melonjak tersanjung mendengarnya.
“masalah apa?” tanya Agni mulai terpancing pembicaraan Alvin.
“masalah hati, bingung kan lo?”
“masalah hati mah cuma elo sendiri yang bisa jawab.”
“Ag, menurut lo, cinta itu apa?”
“cinta.. itu ibarat sebuah lagu, tercipta hanya untuk membahagiakan pendengarnya, cinta juga ada untuk membahagiakan seseorang yang mendapatkannya.”
“so? Jika kita nggak membuat orang yang kita cinta bahagia itu namanya bukan cinta?” Alvin mencoba mengambil kesimpulan dari teori Agni.
“ya!” jawab Agni mantab.
Lagi-lagi Alvin terkesan dengan kata-kata Agni. Waktu-waktu berikutnya ia habiskan dengan bercanda dan bertukar pikiran dengan gadis sederhana itu. Benar-benar cara ampuh untuk melupakan semua dendam dan emosinya pada Rio dan Ify.
***
Ify tampak gelisah. Ia terus menggigit bibirnya sambil memainkan jemarinya mencoba mengatasi semua rasa takutnya. Rio benar-benar membuatnya gila kali ini, ia nekat mengantarnya pulang setelah mengantar Acha kembali ke rumah.
Jarum jam yang melingkar di tangan kiri Ify menunjukan hampir pukul enam sore. Jantung Ify makin berdebar tak karuan, karena biasanya di jam-jam seperti sekarang ini ayahnya berada di rumah untuk makan malam.
Dari ekor matanya, Rio dapat menangkap gelagat Ify. Tak tega juga ia melihatnya.
“tenang, Fy! Kalau kena pukul juga pasti aku yang kena, nggak mungkin kamu.” Ucap Rio sedikit bercanda agar ketegangan Ify sedikit mengendur.
“justru aku nggak mau kamu kenapa-napa!” jawab Ify sedikit kesal karena sepertinya Rio tak mengerti perasaannya.
Satu tangan Rio meraih tangan Ify. Mengecup lembut jemari lentiknya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“aku rela, asal kamu baik-baik aja.” Timpal Rio sungguh-sungguh. “kalau kamu minta aku ketemu papa kamu sekarang juga aku siap.” Tambahnya dengan tenang, seakan semuanya sangat mudah.
“kak Rio.. please! Jangan gila dong.” Ify mulai menyerah juga menghadapi Rio.
“siapa yang buat aku gila? Kamu kan?”
Rio semakin menggenggam erat tangan Ify, bermaksud memberi gadisnya itu kekuatan.
“kak Rio, kenapa kakak bisa seyakin ini? Kakak sadar enggak sih benteng itu terlalu kokoh?” tanya Ify dengan nada sedikit keras seraya menyentakkan tangannya dari genggaman Rio.
Rio menepikan mobilnya agar dapat fokus berbicara pada Ify.
“liat aku!” perintah Rio tegas. Ia menggunakan telunjuknya untuk mengangkat dagu tirus Ify agar gadis itu mau menatapnya. “cinta itu perlu pengorbanan, Fy! Dan ini pengorbanan kita, aku percaya semakin besar pengorbanan yang akan kita lakukan, semakin kuat juga ikatan cinta kita.” Jelas Rio sungguh-sungguh.
“maaf, kak.. aku nggak bermaksud ragu atau..” ucapan Ify terhenti karena isakan tangisnya, air matanya tak mampu lagi ia bendung. “aku cuma nggak mau kakak kenapa-kenapa, aku sayang banget sama kakak.”
“jangan nangis! Jadi cewek kuat, buat aku! Aku nggak bisa liat air mata kamu.” Lirih Rio sambil menghapus air mata yang jatuh di pipi Ify. “kamu tau? Senyuman kamu jauh lebih ampuh dari suplemen apapun!” lanjut Rio sambil tersenyum.
“ngegombalnya nggak banget ihh..!” gerutu Ify sambil menghapus sisa air matanya.
“ya makanya kamu jangan nangis! Kamu kan tau aku nggak pinter ngerayu..” ucap Rio sambil membelai rambut di puncak kepala Ify.
Ify kembali tersenyum. Ia yakin, ia tak akan bisa menjalani semuanya jika bukan Rio yang ada di sampingnya, jika bukan Rio yang mendampinginya.
“kak Rio, hari ini hari paling indah yang pernah aku alami, semuanya karena kamu.” Ucap Ify girang.
“aku lebih, mungkin kalau kamu nggak hadir di sini..” Rio menggantung kalimatnya dan menyentuh dada kirinya, tepat di jantungnya. “aku masih jadi robot tanpa perasaan, makasih untuk semuanya, terlebih hari ini.”
“gimana nggak makasih orang kamu ngelaba mulu!?” sungut Ify.
“nggak iklas?” tanya Rio berpura-pura marah.
“nggak iklas juga udah kejadian.” Ify mengerucutkan bibirnya, sebal pada Rio.
Rio mengacak-acak lembut rambut Ify, gemas dengan ekspresi Ify.
“aku sayang kamu..” bisik Rio tepat di sebelah telinga Ify dan kemudian meninggalkan tanda manis di pipi kiri gadisnya itu dengan gerakan cepat.
Ify kembali menunduk, namun kali ini untuk menyembunyikan pipinya yang mungkin sudah semerah buah tomat.
Tak lama Ify merasakan terbang ke awang-awang dibawa oleh dewa Amore, ia kembali merasa terhempas jauh ke bagian bumi paling bawah saat melihat sebuah mobil Mercedez Benz berwarna silver yang berhenti tepat di depan mobil Rio. Mobil yang sudah sangat dihapalnya. Nomor polisi yang tertera di bagian belakang dan depan mobil mewah itu pun pasti membuat orang yang melihatnya terkesan dan akan sulit lupa. B 01 U. Mobil milik tuan besar Umari, yang tidak lain adalah ayah Ify.
“pap.. papa..” gumam Ify terbata.
“itu papa kamu, Fy?” tanya Rio tenang.
Ify mengangguk.
“kita harus gimana?” tanya Ify terdengar sangat pasrah.
“let him know about us.” Jawab Rio sambil tersenyum memberi Ify keberanian dan kekuatan.
Ify kembali memusatkan pandangannya ke arah depan. Masih ada sisa-sisa harapannya jika sang ayah berhenti bukan karena melihat keberadaannya di mobil Rio.
Seorang laki-laki setengah baya dengan perawakan yang masih terlihat gagah keluar dari mobil mewah itu setelah pengawalnya membukakan pintu. Tuan Pratama Aji Umari. Ia menatap garang ke dalam mobil seakan dapat menangkap jelas siapa saja yang berada di dalam mobil itu. Sepertinya harapan Ify kini harus tinggal harapan.
Ketukan di kaca pintu di sebelah Ify. Pengawal pak Tama yang memaksa keduanya –Rio dan Ify- untuk segera keluar menemui tuannya.
“ayo turun!” ajak Rio sambil menarik handle pintunya.
Tanpa pikir panjang, Ify segera menyusul Rio.
Di depan sang ayah Ify menundukkan wajahnya dalam-dalam, sama sekali tak berani melihat sang ayah yang pasti sudah marah besar padanya dan apa yang sedang ia lakukan dengan Rio. Terlebih ia bersama putra seteru abadinya saat ini. Tangannya memeluk lengan kiri Rio erat-erat, mencoba menjelaskan pada sang ayah jika ia tak ingin dipisahkan dengan sang kekasih dengan cara itu.
Dengan tekat yang sudah bulat, Rio tersenyum ramah di hadapan pak Tama yang sudah menatapnya dengan sangat geram. Sama sekali tak gentar dengan tatapan membunuh pria di hadapannya.
“selamat sore, bapak Pratama Umari.” Rio memberi salam sambil sedikit membungkukkan tubuh jangkungnya.
“masuk ke mobil, Alyssa!” perintah pak Tama tegas, bahkan terdengar seperti sebuah bentakan, tak mempedulikan ucapan salam Rio.
Ify menggeleng. Ia semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Rio dan merapatkan tubuhnya pada tubuh kekasihnya.
“masuk papa bilang!” kali ini pak Tama benar-benar membentak.
Rio membelai puncak kepala Ify sambil memberi isyarat pada gadisnya itu untuk mengikuti apa yang diperintahkan san ayah.
“tapi kakak?”
“udah kamu masuk!” peritah Rio tak ingin menjanjikan apapun pada Ify.
Ify mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan ayahnya.
“maaf, saya lancang mencintai dan mengambil hati putri kesayangan bapak.” Ucap Rio sesopan mungkin.
“lupakan Ify! Jauhi dia! Sampai kapanpun hubungan kalian itu hanya akan menjadi mimpi indah kamu, Rio Haling!” balas pak Tama sengit.
“dan jangan salahkan kami jika larangan yang bapak berikan hanya akan menjadi sebuah kalimat sia-sia, saya tidak akan menjauhi Ify, apa lagi melupakannya.” Rio tetap tenang mengatakannya, sama sekali tak merubah nada bicaranya. Sama sekali tak beringsut ketakutan.
“anak tak tau diri! Kamu sama saja dengan ayah kamu!”
“saat ini saya berdiri di atas kaki saya sendiri, bukan dengan bantuan ayah saya, saya yang selalu mencintai putri bapak.”
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat lagi di pipi Rio. Namun senyuman di wajahnya belum juga memudar.
“jauhi Ify!” perintah pak Tama tajam sebelum kembali memasuki mobilnya.
Rio masih belum beranjak sedikitpun dari tempatnya, melihat mobil mewah itu pergi semakin menjauh dan akhirnya menghilang di ujung jalan. Andai bisa, pasti ia sudah menghentikan kuda besi itu dan membawa sang kekasih pergi jauh agar tak ada orang lain yang mampu memisahkan.
Kedua tangan Rio mengepal kuat-kuat menahan emosi yang menggebu di dadanya, juga rasa kawatirnya terhadap Ify. Ia hanya bisa perpegang pada kepercayaan jika sekeras dan seburuk apapun orang tua, ia tak akan menyengsarakan anaknya sendiri. Ify akan baik-baik saja.
***
Pak Tama menarik tangan Ify kasar, membawa putri semata wayangnya itu ke dalam kamarnya dengan sangat marah. Ia tak masih tak habis pikir bagaimana Ify bisa menjalin hubungan hingga sejauh itu dengan putra dari rivalnya. Berita yang ia dengar dari antek-anteknya ternyata benar-benar terbukti.
“papa tidak mau tau, kamu harus putus dengan anak itu!” bentak pak Tama tanpa mempedulikan tangisan Ify yang sudah pecah semenjak di perjalanan tadi.
“enggak, pa! Ify sayang sama kak Rio.” Raung Ify. “kami nggak ada hubungannya dengan persaingan kalian kan?”
“kamu putri tunggal papa, dia pewaris utama HC, bisa kamu bilang tidak ada hubungannya?” pak Tama sejenak diam mengatur nafasnya yang sudah memburu. “lupakan Rio! Papa akan mempercepat pertunangan kamu dengan Alvin, akhir minggu ini.” sambungnya tegas, tanpa toleransi sedikitpun kemudian melangkah keluar dari kamar Ify.
“satu lagi! Papa akan meminta Alvin untuk mengawasimu! Dan handphone kamu papa sita!” ucap pak Tama dari ambang pintu sambil menunjukan ponsel Ify yang sempat ia sita.
Ify menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasib dan jalan cintanya yang begitu terjal. Masihkah keajaiban cinta itu ada dan membuatnya bersatu kembali dengan Rio?
***
Hari sudah berganti beberapa menit yang lalu. Dini hari yang sangat tidak menyenangkan untuk Rio. Matanya yang nampak sangat lelah belum juga dapat terpejam. Menikmati kesunyian malam sambil berusaha menampikan rasa putus asanya.
Bayangan wajah Ify terus saja menghantuinya, tak sekejap pun hilang dari pelupuk matanya. Ia begitu merindukan gadisnya itu. Dan otaknya dipenuhi rasa kawatir akan keadaan Ify.
Entah sudah untuk keberapa kalinya jemarinya menyusuri papan tombol ponselnya berusaha untuk menghubungi si gadis yang sejak tadi menari di pikirannya, hanya sekedar ingin mendengar kabarnya dan memastikan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. Namun tak satupun panggilannya yang terjawab oleh si empunya, hanya costumer service dari operator yang menjawabnya, menerangkan jika nomor yang sedang Rio tuju sedang tidak dalam keadaan aktif.
Sudah ia duga sebelumnya, jika ayah Ify akan melakukan apapun untuk memisahkan putrinya dengan dirinya. Dan Rio yakin jika hal ini juga perbuatan ayah dari kekasihnya.
Kembali, Rio mendengus kelelahan. Ia merebahkan asal tubuhnya di atas tempat tidur. Berharap sedikit rasa lelahnya terobati dan matanya bisa terpejam walaupun sesaat.
***
Pagi sudah menyambut kembali. Begitu cepat hari berganti. Wala hari yang cerah ini tak juga membengkitkan semangat Rio untuk memulai kegiatannya yang ia yakin akan semaik berat hari ini.
Keadaannya cukup berantakan hari ini, matanya sedikit membiru dan berkantung karena kurang tidur. Wajahnya pucat karena kelelahan dan beban pikirannya.
Dan sepertinya keadaan akan bertambah buruk saat Rio melihat sang ayah berada di bagian ujung tangga paling bawah sambil menatapnya tajam. Rio berusaha acuh dan tetap melangkah melewati sang ayah seakan hanya ada sebuah patung yang berdiri di sana.
“Rio!” bentak pak Krishna merasa tidak dihargai.
Dengan rupa hidup tak mau matipun segan, Rio menoleh menanggapi sang ayah.
“memalukan kamu! Papa tau kamu kemarin hampir dihajar Umari karena membawa anak gadisnya, iya kan?” pak Krishna mengintrogasi putranya seakan Rio sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
“kalau papa tau, buat apa tanya Rio?” balas Rio sengit.
“papa sudah bilang, kamu harus lupakan Ify! Kamu punya segalanya, mudah untuk kamu mencari pendamping, dan jangan klan Umari!”
“enggak! Dan cuma Ify yang Rio mau!” tentang Rio.
Dua orang dengan watak yang sama-sama keras, egois, dan kepala batu beradu mulut, pasti akan sangat sulit mendapatkan sebuah jalan tengah karena keduanya bersikeras pilihan mereka masing-masing.
“lupakan dia atau semua fasilitas kamu papa cabut?”
Tanpa menunggu perintah, Rio menyerahkan kunci mobil, kunci motor, dan semua debit card serta uangnya kepada sang ayah. Ia sudah bertekat bulat untuk memilih dan memperjuangkan Ify. Sang Ayah menerimanya dengan tatapan tak percaya. Ada sejumput rasa bangga pada putranya, perbuatan dan kisah cinta Rio dan Ify mengingatkannya pada suatu hal di masa lalunya yang sebenarnya sudah ia kubur dalam-dalam, kini Rio menggalinya.
“bahkan kalau papa mengusir Rio, Rio akan pergi sekarang juga.” Ucap Rio seakan menantang. “Rio bisa hidup tanpa nama Haling!” lanjut Rio tegas kemudian melangkahkan kakinya keluar dari istana keluarganya.
Pak Krishna menatap punggung putranya yang semakin menjauh. Ia tak pernah ragu jika Rio dapat hidup tanpa dirinya, Rio memiliki kemampuan otak jauh melebihi orang lain sebayanya, bahkan ia bisa disejajarkan dengan banyak eksekutif muda –untuk ukuran dunia bisnis- yang memiliki usia jauh di atasnya. Pasti sangat mudah baginya mendapat pekerjaan. Namun, di sisi lain, ia kecewa dengan sikap Rio yang lebih memilih orang lain daripada orang tuanya sendiri. Semua ancamannya dengan mudah dimentahkan oleh Rio.
***
Dengan keadaan yang tidak berbeda jauh dengan Rio –sama-sama kacau- Ify berjalan berdampingan dengan Alvin menyusuri koridor sekolah. Ia terlihat tak ubahnya seperti mayat hidup yang terus pasrah mengikuti perintah Alvin yang kini melingkarkan tangannya di bahu mungilnya tanpa bisa ia tolak.
“kamu manis sekali hari ini, sayang..” ucap Alvin sambil membelai pipi Ify.
Ify sedikit mengelak, risih dengan perlakuan Alvin.
“oh, look at this! our engage’s invitation card, special for.. Rio Haling.” Dengan senang hati, seakan Ify akan bersorak girang melihatnya, Alvin mengibaskan pelan kartu undangan pertunangannya dengan Ify di hadapan gadis itu.
Ify menatap Alvin geram. Tak puas-puasnya Alvin mengganggu Rio. Ify tahu, sudah cukup berat bagi Rio mendengar ia akan bertunangan dengan orang lain, apa lagi jika Rio harus melihatnya bersanding dengan pria lain.
“Vin, please, jangan kasih itu ke kak Rio.” Mohon Ify.
“hey, dia juga harus kita bagi kebahagiaan kan? udahlah, hitung-hitung pesta perpisahan kalian.”
“lo jahat, Vin! Lo bukan Alvin sahabat gue dulu!”
“salah kalo gue berubah? Dan seharusnya gue udah lakuin ini dari dulu!” bentak Alvin karena Ify melawannya.
Ify menggeleng tak percaya, sekaligus sedih. Ia tak dapat lagi melihat sosok Alvin sebagai sahabatnya dulu, tempatnya berbagi suka dan duka. Yang ia lihat kini hanya Alvin yang sangat tergila-gila padanya hingga kehilangan akal sehatnya.
Tak tahan, Ify berlari menuju kelasnya. Tak lagi mempedulikan Alvin.
***
Gabriel diam di bangkunya, mencoba mencari solusi agar Rio yang sudah duduk di sebelahnya terlihat lebih baik. Ia tak tega melihat sahabat sejatinya itu begitu kacau dan berantakan. Sejak tadi tak sepatah katapun keluar dari bibir Rio, seakan separuh jiwanya hilang. Keadaan Rio sekarang bahkan jauh lebih mengenaskan dibading Rio si pangeran es dahulu.
“come on! Kalau lo mau berjuang, jangan kaya gini! Gue rasa lo bisa beneran mati kalau kehilangan Ify, it’s not good, bro.” Nasehat Gabriel.
“gue harus gimana?” tanya Rio yang akhirnya membuka mulutnya.
“jangan siksa diri elo sendiri! Lo inget, masih banyak hal yang harus lo perjuangkan!”
“pasti! Tapi jujur, gue pesimis.”
“gue yakin lo bisa! Dan gue yakin bolos beberapa jam buat tidur dan basket bisa bikin kondisi lo yang menyedihkan ini lebih baik.” Ujar Gabriel sambil menepuk pundak Rio, memberi sahabatnya itu sedikit semangat.
Tiba-tiba Alvin mendehem dari samping meja Rio dan Gabriel. Meminta perhatian.
Gabriel mendengus kesal. Sama sekali tak bernapsu melihat wajah Alvin.
“buat lo, Yo.” Ucap Alvin to the point sambil menyodorkan udangan yang ia bawa di hadapan Rio.
Rio hanya menatap Alvin sinis.
“jangan lupa dateng! Gue rasa tanpa elo pesta gue nggak seru.” Kata Alvin lagi sambil menaruh ransel di mejanya, kemudian kembali keluar kelas.
Rio mencelos membaca sampul lembaran kertas tebal yang diberikan Alvin. Ada nama Alvin dan Ify yang tertulis jelas dengan tinta emas di atas kertas berwarna krem itu.
Dengan satu remasan keras tangan Rio, kertas yang telah didesain dengan indahnya menjadi tak berbentuk. Emosi Rio benar-benar meluap kali ini.
“sabar, Yo! Gue yakin pertunganan itu nggak akan terjadi.” Gabriel berusaha menenangkan Rio, sebelumnya ia sempat mencuri baca apa yang tertulis pada kertas itu.
“gue yang akan bikin pertungangan itu tidak akan pernah terjadi.” Ucap Rio lirih namun terdengar sangat serius dan begitu yakin di telinga Gabriel.

bersambung...

Minggu, 24 April 2011

Song of Love part 8

Taman yang pernah menjadi saksi pertemuan mereka beberapa tahun lalu, dalam sebuah kecelakaan saat tak sengaja Gabriel menabrak Shilla yang sedang berjalan-jalan menghabiskan sorenya. Tempat Gabriel membawa Shilla saat ini.
Hari sudah menjelang malam, taman ini menjadi sangat sepi. Hanya ada Gabriel dan Shilla yang duduk di bangku taman dekat air mancur yang seakan menjadi objek utama dari taman ini. Lampu taman yang mulai menyala menambah kesan romantis di tempat sunyi ini.
Shilla masih saja diam sambil menatap kosong ke arah di hadapannya. Ia masih saja diliputi rasa bersalah pada Ify dan merutuki semua perbuatan bodohnya. Dan satu hal yang tak habis ia pikirkan sedari tadi adalah bagaimana cara Gabriel yang terus membelanya mati-matian, padahal jelas ia berada di posisi yang salah.
Ia menoleh ke samping kanannya, menatap Gabriel yang masih membungkuk dengan kedua sikunya ia tumpukan di atas pahanya, menatap ujung sneakersnya seakan ada sesuatu yang sangat menarik di sana. Setiap ukiran tegas di wajah tampannya sungguh mempesona, justru mengherankan jika tak ada orang yang mau berbagi kasih dengan laki-laki itu.
Sebuah butiran bening kembali mengalir dari mata indah milik Shilla. Perbuatannya bisa saja membuat Gabriel benar-benar pergi darinya, tapi ia tak melakukannya, hal yang justru membuat Shilla semakin merasa bersalah.
“Gab.. Gabriel.. maafin aku, aku nggak mau kamu marah sama aku.” Ucap Shilla tak mampu lagi membendung tangisnya. Ia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya.
Sebuah reaksi yang tak pernah Shilla duga akan diberikan Gabriel padanya. Gabriel tak menjawab sepatah katapun, ia justru menarik tubuh Shilla dan memeluknya erat-erat.
“kamu pikir aku bisa marah sama kamu? Enggak, Shil..” bisik Gabriel tepat di sebelah telinga gadis cantik itu.
Mereka kembali diam. Gabriel membiarkan Shilla mendengar detakan jatungnya. Mencoba memberitahukan pada gadis itu bila ada namanya yang selalu disebut setiap kali jantung itu berdetak. Bukan sebuah kepalsuan atau permainan seperti yang biasa ia suguhkan kepada gadis-gadis lain.
“aku.. cinta kamu.” Ucap Gabriel membulatkan tekatnya untuk segera mengungkapkan perasaannya.
Shilla melepaskan pelukan Gabriel tiba-tiba. Jujur ia tetap kaget dengan pengakuan Gabriel.
“kamu serius?” tanya Shilla meyakinkan.
Gabriel mengangkat dagu Shilla dan mengarahkan wajah cantik yang sebelumnya menunduk itu untuk menatapnya.
“aku yakin kamu bisa bedain kapan aku bohong dan enggak, silahkan kamu nilai sendiri.” Gabriel memberi instruksi pada Shilla untuk membuktikan ucapannya dengan menatap matanya.
Dengan segenap keberanian yang telah dikumpulkannya, Shilla mencoba menatap dalam-dalam mata Gabriel, mencari sebuah kesungguhan dari sana, dan memang itu yang ia temukan. Gabriel sedang berkata jujur. Shilla tau persis jika bola mata gelap milik lelaki tampan itu tak akan bisa berhenti bergerak saat ia berbohong, namun saat ini mata itu terlihat tenang dan menatapnya dalam-dalam.
Perlahan Gabriel mencondongkan kepalanya ke kanan, mendekatkannya perlahan pada wajah Shilla, menghapuskan sedikit demi sedikit jarak yang memisahkan mereka. Jatung Gabriel berdetak semakin cepat setelah melihat wajah Shilla dalam jarak beberpa centi saja dari matanya. Ia memejamkan matanya, merasakan hembusan nafas Shilla yang makin memburu.
“maaf, Yel!” ucap Shilla tiba-tiba sambil memalingkan wajahnya.
Gabriel hanya menggaruk tengkuknya, canggung. Sepertinya ia lupa dengan siapa ia berhadapan sekarang. Shilla yang begitu polos.
“it’s okay, I’m sorry.” Balas Gabriel sambil tersenyum kikuk.
Shilla hanya menunduk menyembunyikan pipinya yang terasa sangat panas. Ia yakin saat ini kedua pipinya sudah berwarna sangat merah seperti tomat.
When I see your face
There’s not a thing that I would change
‘cause you’re amazing
Just the way you are..

Gabriel bersenandung memecah hening, lagu yang sebenarnya keluar begitu saja dari mulutnya dengan nada seadanya. Lagu yang baru ia cermati setelah ia menyenandungkannya. Lagu yang ternyata mampu mengungkapkan perasaan hatinya pada Shilla.
“Shil, ini pertama kalinya aku cinta sama orang tanpa memandang apapun, kecuali ketulusan yang dia berikan buat aku.” Gabriel memulai monolognya. “kamu yang tetap luar biasa saat menjadi diri kamu sendiri.”
“kamu yakin milih aku? Bagaimana kata orang nanti? Mau mengubah dongeng jadi the handsome and the beast?” potong Shilla ragu.
“peting gitu denger kata orang? Rasa ini kita yang rasain, bukan mereka.” Jawab Gabriel meyakinkan. “kalau aku suka sama kamu karena kamu cantik, itu namanya napsu, bukan cinta, do you never think about it?”
“asal kamu nggak dapet kata itu dari kamus gombal yang kamu punya aja.” Ledek Shilla sambil menjulurkan ujung lidahnya.
“udah aku bakar kamusnya!” tanggap Gabriel. “lagian kamu itu cantik, Shil, cantik banget!”
Gabriel melepaskan kacamata tebal yang membingkai mata Shilla perlahan. Menata poni yang jatuh di keningnya, juga merapikan tatanan rambut Shilla yang sebelumnya diikat ekor kuda dan kini jatuh terurai sempurnya.
“liat!” perintah Gabriel setelah puas dengan hasil karyanya. Ia menyodorkan layar ponselnya pada Shilla agar gadis itu dapat bercermin dan melihat betapa cantiknya ia sebenarnya.
“iya, cantik!” ceplos Shilla mengomentari penampilannya sendiri dengan polosnya.
Melihat ekspresi Shilla, Gabriel tertawa lepas sambil mengacak-acak puncak kepala gadis itu.
“Cuma aku yang boleh liat kamu secantik ini, yang lain enggak! Aku nggak mau kamu dikejar cowok lain!” kata Gabriel manja.
“kamu siapanya aku?” tanya Shilla karena menyadari sedari tadi Gabriel belum memintanya menjadi kekasihnya.
Gabriel hanya memberikan cengiran kudanya untuk menanggapi Shilla. Ia juga baru sadar jika belum ada komitmen apapun di antara dirinya dan Shilla.
“harus tembak-tembakan dulu ni?” tanya Gabriel sambil lagi-lagi menggaruk tengkuknya.
Shilla hanya menggedikkan bahunya sambil tersenyum penuh arti.
Gabriel beringsut dari tempat duduknya dan berlutut di hadapan Shilla. Ia menggenggam erat kedua tangan lembut milik Shilla erat-erat.
“Shil, perlu kamu tau, ini pertama kalinya aku nervous nembak cewek.” Kata-kata yang sebenarnya tak perlu diucapkan sama sekali oleh Gabriel.
Tawa kecil langsung keluar dari bibir Shilla mendengar pengakuan Gabriel. Ia juga menggeleng-geleng heran. Pangeran yang selalu ingin nampak sempurna di hadapan gadis lain itu bisa tanpa sungkan berbuat banyak kebodohan di hadapannya.
“Ashilla Zahrantiara, would you be mine?” pinta Gabriel mantab sambil menatap mata Shilla dalam-dalam.
Shilla dapat merasakan telapak tangan Gabriel yang mulai berkeringat dingin dan sedikit bergetar, membuktikan jika Gabriel memang benar-benar nervous melakukannya.
Sambil menahan tawanya karena ekspresi Gabriel, Shilla menggangguk.
“jadi?” goda Gabriel tak puas dengan hanya sebuah anggukan sebagai jawabannya.
Shilla menggangguk semakin mantap.
“say it! Yes or no?”
“yes, I would!” seru Shilla gemas.
Tanpa aba-aba, Gabriel membimbing Shilla untuk berdiri dari duduknya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Shilla dan membawa gadisnya itu semakin mendekat padanya, kemudian Gabriel mencium lembut kening Shilla.
“all of mine are officially yours.” Lirih Gabriel sambil menepuk pelan puncak kepala Shilla.
“but, I’m the God’s and my parents’!” balas Shilla bercanda.
“iya, kamu menang.” Dengus Gabriel yang mengaku kalah beradu kata dengan Shilla. “pulang yuk!” ajak Gabriel sambil menggandeng tangan kanan Shilla.
Shilla membalas genggaman tangan Gabriel dan mengikuti pria yang baru saja menjadi kekasihnya itu menyusuri jalan setapak taman untuk segera kembali pulang.
***
Hentakan musik yang keluar dari tape di mobil Alvin yang sejak tadi menghentak tak juga mampu menghibur Ify yang masih terus memikirkan Rio. Rasa bersalah yang begitu saja muncul saat melihat tatapan mata Rio tadi. Bahkan Ify yang terlarut dalam pikirannya sama sekali tak menghiraukan keberadaan Alvin.
Satu sikap Rio yang selalu menyiksanya, laki-laki itu selalu lebih memilih menyembunyikan perasaannya dibandingkan mengungkapkannya. Ify tau pasti jika Rio cemburu melihat ia memilih pergi bersama Alvin, tapi kenapa ia tidak mencegah.
“Rio ternyata lebih pengecut dari yang gue pikir, Fy.” Kata Alvin membuyarkan lamunan Ify. Matanya terus menatap jalanan yang ada di hadapannya, tanpa menoleh pada Ify sedikitpun.
Ify yang tak terima dengan pernyataan Alvin hanya mampu menatap geram pada Alvin.
“kalau gue bertukar posisi sama dia, gue pacar elo, yang cinta sama elo, gue bisa jamin siapapun yang nyentuh elo abis di tangan gue, biarpun nyawa gue taruhannya.” Alvin menambahkan sanggahan pada teorinya yang sebelumnya. Kali ini ia sedikit melirik untuk melihat ekspresi Ify.
Telak. Penyataan Alvin memang tak bisa dibantah, bahkan sama persis dengan apa yang ada di pikiran Ify. Sebentuk keraguan itu juga mulai muncul di benak Ify. Sampai kapan hubungannya dengan Rio akan bertahan dalam keadaan seperti ini.
Ify menunduk dalam-dalam mencoba mematahkan keraguannya pada Rio. Namun ternyata semakin dibantah semua fakta makin nyata terbentuk dalam angan-angannya, membuatnya semakin sakit dengan semua sikap Rio yang memilih menjadi tokoh pasif dan selalu diam.
Melihat ekspresi Ify, ujung bibir kanan Alvin tertarik membentuk sebuah senyuman kemenangan. Ternyata semudah itu meluluhkan benteng pertahanan perasaan Ify dan justru Rio sendirilah yang membukakan jalan masuk ke hati Ify baginya.
***
Pemuda tampan itu memasuki rumahnya dengan pikiran yang masih kacau. Rumah berukuran sangat besar yang sama sekali tak pernah memberi daya tarik untuknya agar selalu kembali ke sana. Tak ada kehangatan di dalamnya.
“selamat malam, tuan Rio.” Sapa salah seorang pelayan rumah yang baru saja selesai menyiapkan hidangan makan malam.
Rio hanya membalasnya dengan sebuah senyuman hambar. Bahkan ia menjadi sangat malas untuk mengucapkan barang sepatah dua patah kata.
“tuan muda Rio hari ini harus makan malam bersama tuan besar.” Tambah pak Toni, pimpinan pelayan di rumah Rio.
Hanya sebuah anggukan pasrah yang Rio berikan untuk menanggapinya. “Acha mana?” tanyanya. Biasanya hanya Acha yang bisa menengakan perasaannya, seburuk apapun itu.
“di belakang, tuan.”
***
Gadis kecil dengan wajah yang begitu damai sedang asik memainkan bonekanya di dalam gazebo yang berada di tepi kolam renang. Benar saja baru melihat wajah ceria milik adiknya itu, sebuah senyum kecil langsung terukir di bibir Rio.
“Cha!” panggil Rio karena Acha belum juga menyadari keberadaannya karena asik tenggelam dalam permainannya.
“hey, kak Rio!” balas Acha riang. “abis pergi sama kak Ify ya jam segini baru pulang?” tuduh Acha polos.
Nama itu lagi. Kegalauan Rio yang sebelumnya berkurang kini kembali membumbung. Rio hanya tersenyum getir menanggapi sang adik.
“kamu sayang sama kak Ify?”
Acha mengangguk mantab. “iya lah! Kak Ify kan cantik, baik, sayang sama Acha, cocok lagi sama kakak.” Acha menutup argumennya dengan sebuah tawa kecil.
“kakak juga sayang, sayang banget sama kak Ify, tapi apa kak Ify punya rasa yang sama kaya kakak?” Rio mencurahkan semua isi hatinya pada Acha, berharap semua beban yang menindihnya terasa lebih ringan.
“emang ada perempuan yang sanggup enggak sayang sama kakak? Mama, Acha, semuanya perempuan, dan kita sayang sama kakak.”
Rio mengacak-acak puncak kepala Acha, gemas. Ada-ada saja ucapan gadis kecil itu yang mampu membuatnya lebih baik.
***
Ify diam sesaat setelah keluar dari mobil Alvin. Sebuah mobil lain yang ia ketahui sebagai mobil milik orang tua Alvin terparkir di garasi besar rumahnya.
“orang tua lo, Vin?” tanya Ify memastikan.
Alvin mengangguk membenarkan.
“ngapain?”
Hanya senyuman penuh arti yang Alvin berikan untuk menjawab pertanyaan Ify sembari menggedikan bahunya.
“we will see!” ucap Alvin sambil menggenggam tangan Ify.
Ify menyentakkan tangannya berusaha memberontak dari genggaman Alvin, namun justru semakin erat tangan kokoh itu mencengkeram pergelangan tangannya, mau tak mau, suka tak suka, Ify pasrah dengan perlakuan Alvin dan mengikutinya.
***
Perasaan tak enak langsung menyergap Ify saat mendengar pembicaraan samar-samar kedua orang tuanya dengan orang tua Alvin di ruang makan. Ada namanya yang berkali-kali di sebut di sana.
“malam semua..” Alvin memberi salam dan kemudian membimbing Ify untuk duduk di kursi yang kosong untuk segera bergabung. “ikuti semua kata gue kalau lo mau Rio dan diri elo sendiri selamat.” Bisik Alvin licik tepat di samping telinga Ify agar tak ada orang lain yang bisa mendengar pembicaraan mereka.
“darimana kalian?” tanya pak Tama –ayah Ify- sambil memotong hidangan pembuka di hadapannya.
“jalan-jalan aja, om.” Jawab Alvin.
“kalian ternyata cocok juga yaa..” komentar ibu Kania saat melihat sekilas “kemesraan” Alvin dan Ify.
Sejenak nafas Ify tercekat mendengar pernyataan itu, namun dengan cepat ia kembali tersadar saat merasakan tangan Alvin melingkar di pinggangnya. Ify memajukan duduknya agar bisa terlepas dari rengkuhan Alvin .
Menyadari gelagat Ify, Alvin menatapnya penuh ancaman dan membuat Ify mengurungkan niat, kembali ke posisinya semula.
“iya dong!” jawab Alvin mantab. Sama sekali ia tak memberikan kesempatan pada Ify untuk berbicara.
“berarti pertunangan kalian bisa segera dilaksanakan!” sahut pak Tama lagi.
Seketika Ify ternganga, seperti ada sebuah petir yang baru saja menyambar tubuhnya. Tubuhnya kini seakan dilolosi tulang. Entah ekspresi apa yang harus ia keluarkan saat ini.
“tap.. tapi pa..” sebisa mungkin Ify mengeluarkan kalimat ketidaksetujuannya.
“iya, kita mau.” Potong Alvin cepat.
Ify menatap Alvin tidak percaya. Sementara Alvin hanya tersenyum lepas penuh kemenangan. Ify bisa menangkap jika Alvin memang sudah mengetahui renacana orang tua mereka ini sebelumnya. Dan ia dapat menjadi sutradara secara diam-diam dalam kisah ini secara apik. Membuat kisah Ify dan Rio berjalan sesuai dengan keinginannya.
Sambil menahan butiran bening dari kelopak matanya agar tidak terjatuh, Ify beranjak dari kursinya.
“permisi..” pamit Ify lirih dan tanpa menunggu lebih lama lagi ia berlari menuju kamarnya, menyisakan tatapan heran dari orang tuanya dan orang tua Alvin.
“Ify cuma sedikit kaget.” Kata Alvin memulihkan keadaan. Ia mencoba mencari topik pembicaraan lain agar tidak memperpanjang masalah Ify.
***
Tak ada yang dapat Ify lakukan sekarang kecuali membiarkan butiran bening dari kelopak matanya terurai. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isakan tangisnya tidak pecah. Mencoba menjadi sosok gadis yang kuat karena seharusnya memang ia sudah menyadari jika jalan cintanya dengan Rio tidak akan mudah.
Saat-saat yang membuat Ify sangat merindukan Rio yang selalu memberinya kekuatan dengan caranya sendiri. Khayalannya terbang lepas, membayangkan jika saat ini pangerannya itu ada di hadapannya, menghapus air matanya. Dan pasti Rio akan mencacinya karena laki-laki itu sangat tidak menyukai ada air mata jatuh membasahi pipi Ify.
“kak Rio, aku kangen..” lirih Ify miris. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Rio untuk sekedar mencari sebuah ketenangan saat ini juga. Untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rio akan tetap menjaganya, atau bahkan lebih dari itu, ia ingin Rio memperjuangkan dirinya.
Namun justru sebuah ketakutan yang menyeruak, ia takut jika Rio akan mundur setelah mengetahui rencana besar orang tuanya. Menjadikan dirinya menjadi milik orang lain, menjadi tunangan Alvin. Mengingat saat Rio selalu melepasnya begitu saja bila Alvin membawanya pergi.
Mata Ify semakin lelah setelah banyak bekerja memproduksi banyak air mata hari ini. Perlahan mata indah itu terpejam, mencoba meletakkan bebannya sekejap. Mencari sebuah tenaga baru untuk kembali memanggul beban itu esok hari.
***
Ruangan besar yang terasa sunyi. Diam tanpa sepatah kata pun terucap dari bibir dua orang yang kini duduk berhadapan. Tak terlihat ikatan hangat yang digabungkan oleh ikatan darah antara ayah dan putranya di sini.
Bola mata pekat pemuda itu terus bergerak ke kanan dan kiri dari balik kacamata minus frameless, kacamata yang menjadi penolong akomodasi mata yang selalu dipaksakan untuk bekerja. Sebuah dokumen yang disodorkan beberapa saat sebelumnya oleh sang ayah dengan nada yang begitu bangga. Menunjukan jika hasil kerjanya membuahkan sesuatu yang sangat menakjubkan.
Sementara sang ayah hanya menatap putranya itu dengan senyum puas yang mengembang di bibirnya. Namun bukan tatapan bangga seorang ayah akan prestasi anaknya, justru seperti seorang boss besar yang sangat puas dengan kinerja anak buahnya.
Setelah selesai mencermati hasil kerjanya. Rio –pemuda tadi- kembali meletakkan data-data yang disatukan dalam sebuah map berwarna biru itu di hadapan sang ayah. Tak bisa disangkal jika ada kebanggaan sendiri di dirinya melihat hasil kerjanya, ternyata memang benar kata pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Sedikit sifat workaholic sang ayah juga menurun padanya.
“great job, Yo! Haling Corporation berhasil memenangkan proyek besar itu, papa rasa secepatnya kamu bisa memegang penuh perusahaan, dan papa bisa pensiun dini.” Ucap pak Krishna, ayah Rio penuh kebanggaan.
Rio membalasnya dengan sebuah senyuman. “masih perlu banyak pangalaman, pa.” Jawabnya. Aneh sekali memanggil sosok berwibawa di hadapannya itu dengan sebutan papa, ingin Rio menyebutnya dengan panggilan boss atau tuan besar saja.
“tapi perlu kamu waspadai, Umari dan Sindhunata akan membentuk sebuah kongsi.” Pak Krishna melepaskan kacamatanya, seakan ia juga dibuat tegang dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Efek yang berbeda dirasakan Rio, ia yang sedari tadi mencoba bekerja profesional dengan otaknya kini merasakan sebuah sentilan di hatinya karena nama belakang kekasihnya dan nama belakang Alvin disebut ayahnya. Perasaan tak tenang itu kini mengusiknya.
“maksud papa?” tanya Rio mencari kejelasan.
“papa dengar dari orang papa, mereka akan menjodohkan putra putri mereka.”
Ulu hati Rio seakan terhunus sebuah pedang mendengarnya. Ucapan Alvin yang pernah mengatakan jika Ify adalah tunangannya merupakan sebuah kebenaran.
“enggak!” seru Rio geram yang lepas kendali atas dirinya.
“maksud kamu apa, Rio?” tanya pak Krishna heran dengan reaksi Rio.
“pa, maaf, Rio melanggar janji yang Rio pernah ucap, Rio jatuh cinta pada Alyssa Umari.” Jawab Rio tak ingin menyembunyikan semua yang sebenarnya terjadi lebih lama lagi.
PLAK!
Tamparan keras pak Krishna mendarat di pipi Rio. Sedikit darah mengucur di ujung bibir Rio memperlihatkan betapa kerasnya tamparan sang ayah.
“lupakan perasaan bodoh itu! Sampai kapanpun kalian tak akan bisa bersatu!”
“Rio cuma manusia biasa, bukan robot yang ada cuma untuk menjalankan semua perintah papa, Rio punya perasaan, dan apapun kata kalian Rio akan memperjuangkan cinta Rio dan Ify.” Ucap Rio lantang. Cukup baginya untuk diam, karena tak akan ada yang bisa diselesaikan dengan kebungkamannya.
“permisi..” pamit Rio kemudian melangkah pergi meninggalkan sang ayah yang masih berusaha mengontrol emosinya.
***
Pagi yang cerah dengan langit biru tanpa awan sebagai latarnya. Dengan bebasnya sang surya menyinari bumi tanpa satu pun penghalang, seakan memberi semangat pada setiap manusia untuk memulai harinya dengan sebuah semangat.
Rio menyusuri lorong sekolahnya dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana abu-abunya. Tak ada yang berbeda darinya pagi ini, tetap sama, wajah tanpa ekspresi atau cenderung dingin yang selalu ia tawarkan kepada setiap orang yang tak sengaja berpapasan dengannya, lengkap dengan headset putih yang menggantung di kedua telingannya. Namun justru wajah itu yang membuat banyak siswi penasaran padanya, sampai menaruh hati padanya, hal yang juga terjadi pada Ify.
“bro!” sapa Gabriel yang baru saja datang sambil merangkul bahu sahabatnya itu.
Rio menoleh, mendapati Shilla berada di sisi lain Gabriel dengan tangan yang masih saling terkait.
“pajak jangan lupa dibayar.” Sindir Rio.
Gabriel terkekeh. “dasar lo mau untung mulu, lo sama Ify juga belum bayar.”
“nunggu restu dari bonyok kita dulu.” Seloroh Rio.
“lo berdua aja paling nanti kawin lari, kita disuruh nunggu.” Agar tak terkesan meremehkan, Gabriel menutup ucapnya dengan sebuah tawa.
Tak ada tanggapan berarti dari Rio selain menarik ujung kanan bibirnya membentuk senyuman hambar.
“duluan, Yo! Mau nganter Cinderella gue ke kelasnya.” Pamit Gabriel sambil memamerkan cengiran kudanya.
Sesuatu yang akhirnya menarik perhatian Rio, banyak siswa dan siswi yang sepertinya memusatkan perhatian mereka pada sesuatu yang sangat janggal. Ekspresi mereka yang seakan ingin menerkam apa yang menjadi objek perhatian mereka. Terdorong sedikit rasa penasaran yang mulai ia rasakan, Rio membalik tubuhnya, mencari pusat perhatian orang-orang itu.
Entah mimpi apa yang didapat Rio semalam hingga saat ini mendapati kekasihnya bersama laki-laki lain. Objek yang menjadi pusat perhatian adalah Alvin dan Ify yang berjalan bersama dengan tangan Alvin yang menggenggam tangan Ify. Tangan Rio mengepal kuat menahan amarah. Rasa sesak yang berkali-kali lipat lebih parah dari sebelumnya kini ia rasakan.
Menangkap sosok Rio yang melihatnya bersama Ify, Alvin merapatkan jaraknya dengan Ify kemudian melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Seakan ada kepuasan tersendiri bagi Alvin saat melihat warna merah padam di wajah Rio saat menahan emosi dan rasa cemburunya.
“ada Rio, Fy. Must I tell him about us?” bisik Alvin.
Ify tercekat. Bermesraan bersama Alvin saja sudah sangat menyiksanya, apa lagi ia harus melakukannya di hadapan Rio, dan itu berarti Ify harus menyakiti hati orang yang paling ia cintai.
Tiba-tiba saja langkah Alvin terhenti, mau tak mau Ify pun ikut berhenti. Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya yang semenjak tadi tertunduk menahan geram sekaligus air matanya. Ternyata ada Rio yang berdiri di hadapannya, memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan senyuman di bibirnya yang justru membuat hati Ify semakin sakit. Senyuman yang seolah ingin berteriak –mana-janji-kamu?-.
Ify memberanikan diri membalas tatapan Rio. Mencoba memberitahukan kekasihnya itu untuk segera membebaskannya dari Alvin dan membawanya pergi jauh.
Jentikan jari Alvin diantara wajah keduanya mengaburkan aksi dramatis pasangan itu.
“ngomong pake mulut, jangan telepati.” Ucap Alvin bermaksud menyidir.
“gue rasa, lebih baik ini yang berbicara.” Balas Rio santai.
BUG!
Sebuah bogem mentah dari tangan kanan Rio mendarat di pipi Alvin. Sebuah pukulan yang meninggalkan bekas biru lebam di pipi kiri Alvin. Sebuah tindakan yang memancing teriakan tertahan dari beberapa siswi, dan akhirnya mengundang perhatian murid lain.
Sebuah isyarat yang tadi coba dikirimkan Ify ternyata mampu dibaca Rio dengan baik. Tanpa membuang waktu lagi Rio menggandeng tangan Ify dan membawa gadisnya itu menjauh. Meninggalkan Alvin yang masih mengerang kesakitan dan decakan kagum bagi para “penonton”, yang kini beberapa murid sibuk melampiaskan rasa iri mereka pada Ify yang diperebutkan dua pangeran tampan, beberapa yang lain mengagumi aksi heroik Rio, tentu ini perbuatan para siswi dan sisanya atau para siswa lebih memilih mencibir Alvin yang tidak melakukan perlawanan pada Rio, berharap mereka akan mendapatkan tontonan seru pagi ini.
Alvin menatap Rio dan Ify yang semakin menjauh dengan pandangan penuh dendam, sama sekali tak terima dengan perlakuan Rio yang mempermalukannya di depan umum. Namun ia masih bisa berpikiran sehat, menghajar Rio saat ini hanya akan membuat banyak orang mengecapnya tidak beradat, ada cara yang lebih taktis dan berakibat lebih telak bagi Rio.
***
Rio memacu mobilnya cukup kencang. Membelah jalanan menuju sebuah tempat. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya sejak tadi. Mata tajamnya hanya berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya, seakan ia hanya seorang diri, tak ada Ify yang kini duduk di sebelahnya.
Isakan yang terus berhamburan dari bibir Ify tak juga membuat Rio bereaksi. Ify sedikit melirik ke arah jalan di hadapannya, mencoba menebak kemana Rio akan membawanya pergi. Sama sekali tak berani bertanya pada Rio yang terlihat sedang sangat marah. Tak ada jawaban yang mampu ia temukan kecuali ia dan Rio sudah berada di luar kota saat ini.
Ify pasrah, kemana pun Rio membawanya pergi tak mungkin ia akan mencelakainya.
Sampai Rio menghentikan mobilnya di antara jajaran pohon pinus, di kaki sebuah bukit yang belum pernah Ify datangi sebelumnya.
Tempat yang terlihat sangat indah dan asri. Ify menoleh pada Rio. Keindahan tempat ini seakan luruh begitu saja melihat masih begitu tegangnya wajah Rio.
“turun!” perintah Rio tegas sambil membuka handle pintu mobilnya.
Tak ingin melihat Rio lebih murka, Ify segera menuruti perintah Rio dan mengikutinya yang sudah berjalan meninggalkannya.
***
Kesunyian itu makin menyelimuti keduanya yang tetap terus diam seraya duduk di bawah sebuah gubuk yang terbuat dari susunan bilah-bilah bambu, menikmati pemandangan kota yang terselimuti kabut pagi yang belum juga beranjak dari tempat itu. Hanya suara kicauan burung yang terdengar dan menunjukan masih ada kehidupan di tempat itu.
Udara tanpa polusi yang memenuhi seluruh rongga paru-paru membuat kesesakan yang menghimpit dada mereka sedikit berkurang.
Dari ekor matanya, Ify mencermati wajah Rio, mencari sebuah tujuan mengapa ia membawanya ke tempat ini. Tak ada apapun yang mampu ia tangkap, kecuali jantungnya yang barpacu semakin kencang saat melihat ukiran tegas Sang Maha Kuasa yang begitu sempurna di wajah kekasihnya itu. Sampai matanya menangkap sebuah luka dengan sedikit darah yang sudah mengering di ujung bibir Rio.
Ify memberanikan diri menggerakan jemarinya ke arah luka itu, menyentuhnya perlahan kalau saja bekas itu hanya sebuah kotoran.
“aww..” pekik Rio spontan saat luka bekas pukulan Alvin yang belum juga sembuh dan ditambah tamparan ayahnya disentuh ify.
“ma.. maaf, kak.” Ucap Ify takut-takut. “kenapa bisa luka?” lanjutnya sambil mengeluarkan sebungkus tisu dan obat pembersih yang selalu ia bawa di tasnya.
Rio hanya diam tak berminat menjawab pertanyaan Ify.
“tahan sebentar!” suruh Ify sambil memulai membersihkan luka Rio perlahan.
Rio hanya diam, tak menganggapi apapun. Ia mencermati setiap lekukan wajah Ify yang kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Mata bening, tulang pipi yang semakin sempurna dengan polesan blush on merah dan juga dagu tirus itu, membuat Rio berkali-kali mengucap syukur di hatinya karena ia bisa memiliki ciptaan indah itu.
“Fy, kamu cinta sama aku?” tanya Rio datar saat Ify sedang kembali membereskan peralatan yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan luka Rio.
“kakak ragu?” tanya Ify terkesan menantang. “how ‘bout you?”
“saya, Mario sangat mencintai anda, nona Alyssa!” jawab Rio sinis. “apa pun akan aku kasih buat kamu, apa pun, sekalipun itu nyawa aku, tapi kenapa kamu enggak parnah menghargai itu?” lanjut Rio tajam.
“kamu yang nggak pernah nunjukin semua perkataan kamu, semua janji kamu, kamu selalu diam saat aku diambil Alvin, itu yang kamu bilang memperjuangkan semuanya? Apa mau kamu?” Ify mengeluarkan semua uneg-unegnya. Air matanya pun sudah tidak kuasa ia bendung, selalu seperti ini, Ify tak sungkan menunjukan betapa rapuhnya ia di hadapan Rio, menunjukan jika ia selalu membutuhkan perlindungan pangerannya itu.
“biarkan orang tua kamu tau hubungan kita, semua resiko kita tanggung bersama.” Jawab Rio penuh keyakinan.
“ta.. tapi..”
Rio memegang lengan Ify dan menghadapkan tubuh Ify padanya.
“liat mata aku!” perintah Rio tegas.
Dengan air mata yang masih mencembung di matanya, Ify menatap Rio.
“aku serius, apa pun caranya, apa pun resikonya, kita harus tetap sama-sama, aku punya kamu dan begitu sebaliknya, aku nggak akan pernah lepasin kamu!” dengan lantang Rio mengutarakan semua yang ada di hatinya sambil menatap kedua bola mata Ify dalam-dalam, menegaskan pada gadisnya jika ia benar-benar serius dengan apa yang ia ucapkan. “kamu mau?” lanjutnya dengan nada lebih lembut dari sebelumnya sambil membelai rambut Ify.
Ify mengangguk. Sepenuhnya ia percaya dengan semua ucapan Rio. Ia tau Rio tak akan bermain-main dengan semua ucapannya, dan ia siap dengan semua hal yang kemungkinan besar akan ia alami nanti.
Merasakan anggukan Ify, Rio menghela nafas lega. Sebuah senyum manis kini terukir di bibirnya.
Senyum Rio membuat Ify juga ikut tersenyum, bahkan lebih lepas dari senyuman yang Rio berikan untuknya. Ify melompat ke pelukan Rio. Melingkarkan kedua tangannya ke leher Rio, merengkuh pangerannya kedalam dekapannya.
Rio memilih diam tak membalas pelukan Ify. Menikmati aroma khas tubuh Ify yang selalu bisa membawanya terbang jauh. Mendengarkan irama detakan jatung Ify yang jauh lebih cepat dari keadaan normal. Merasakan hangatnya cinta gadis itu yang mulai merasuk dalam aliran darahnya.
Ify mengendorkan pelukannya karena menyadari Rio sama sekali tak membalasnya.
“jangan dilepas!” Pinta Rio manja, tak ingin kehilangan saat menyenangkan itu dengan cepat. Ify hanya tersenyum gemas kemudian kembali mengeratkan pelukannya, menahannya beberapa saat, merasakan jika Rio semakin nyaman berada di sana, kemudian melepasnya.
“kok dilepas?” tanya Rio sambil menatap Ify memelas, persis seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya.
Ify tertawa renyah melihat ekspresi Rio. Lukisan wajah yang jauh berbeda dengan Rio yang selama ini ia kenal.
“manja deh..” cibir Ify.
“sama kamu ini.” Balas Rio sambil membenahi poni Ify yang berantakan karena tiupan angin yang cukup kencang di tempat ini. “em.. Fy, kapan pertunangan kamu sama Alvin?” tanya Rio dengan segan, tak ingin menghancurkan momen indah mereka.
Ify terdiam, kalau boleh ia hanya ingin menjawab ‘tak akan pernah terjadi!’
“aku nggak tau, itu rencana orang tua aku.” Jawab Ify berat. “kakak akan biarin aku jadi milik Alvin?” tanya Ify ragu, ia menggigit bibir bawahnya, bersiap dengan apa pun reaksi Rio.
Rio hanya tersenyum. Telunjuknya menyusuri lekuk wajah Ify, membingkai setiap mili wajah cantik milik gadisnya itu dengan indra perabanya.
“kamu cuma untuk aku, selalu, selamanya! Aku akan lakuin apa pun agar kamu nggak jadi milik orang lain!” jawab Rio mantab. “tunggu tanggal mainnya!” lanjut Rio dengan menyelipkan sebuah nada canda dalam ucapannya agar suasana tak kembali kaku.
“buktikan!” ujar Ify menggoda Rio.
“yakin?” tanya Rio serius. Ia melekatkan tatapannya pada manik mata Ify. “don’t refuse me, feel my love!” Lirih Rio sambil mendekatkan wajahnya pada Ify.
Sebuah aliran listrik tiba-tiba menjalar di tubuh Ify saat jarak antara ia dan Rio benar-benar terhapuskan. Ify memejamkan matanya, merasakan kecupan lembut Rio di bibirnya, menikmati setiap deru hangat nafas Rio dan setiap getaran cinta yang disampaikannya dengan sangat jelas.
Tangan kokoh Rio yang menggenggam erat tanggannya sekan memberi kekuatan padanya untuk terus bertahan. Waktu terus berdenting untuk mereka, dan menjadi milik mereka.
“percaya?” tanya Rio sambil mengusap lembut bibir Ify setelah ia melepaskan ciumannya.
Ify masih diam mematung tak menyangka hal itu yang akan Rio lakukan untuk membuktikan ucapannya. Sedetik kemudian Ify mengangguk seperti orang linglung, ia percaya pada Rio.
“is it your first?” tanya Rio sambil mengacak-acak lembut puncak kepala Ify. Heran melihat reaksi gadisnya.
“iya! Kamu nyebelin!” jawab Ify geram. Kemudian ia menghentakkan kakinya meninggalkan Rio untuk kembali ke mobil.
“mau kemana?” seru Rio sambil mengejar Ify. Ia tau pasti jika Ify tak benar-benar marah padanya.
“pulang!” jawab Ify sengit.
Rio sedikit tertawa geli melihat Ify. Menggedikan bahunya kemudian mengikuti gadis manis itu. Ify ternyata tak seperti yang orang-orang dan ia sendiri ketahui selama ini, ia hanya seorang gadis polos dan manja yang selalu mencoba untuk menjadi tegar dan kuat. Janji Rio pada dirinya sendiri, bahwa ia akan terus menjaga dan mempertahankan anugerah terindah yang Tuhan beri padanya itu, Ify.

bersambung...

Song of Love part 7

Gabriel berlari menuju kelasnya. Hanya ada Rio yang duduk dengan mata terpejam di bangkunya. Sepasang headset yang masih menggantung di kedua telinganya. Beberapa bungkus makanan ringan dan satu kaleng softdrink berserakan tak karuan di hadapannya.

“Rio!!” seru Gabriel sambil menepuk bahu Rio.

Tanpa menunggu Gabriel berbuat lebih anarkis lagi, Rio membuka matanya untuk merespon panggilan sahabatnya itu.

“Yo, gue dapet apa yang selama ini gue cari! Bidadari gue!” cerita Gabriel semangat.

“hmm.. sukur deh! Siapa?” tanya Rio sambil membuka segel minumannya. “Favia? Prisa? Vlo? Rene? Atau siapa itu sohib Ify?”

“keterlaluan lo, Yo! Sohib cewek sendiri nggak ngerti?!” tanggap Gabriel keras. Spontan Rio menutup mulut Gabriel dengan sebuah snacknya yang masih utuh.

“jaga tu mulut!” perintah Rio kemudian menegak minumannya.

“jawabannya Shilla!” ucap Gabriel mantab.

Rio yang sedang minum otomatis tersedak. Ia tau sahabatnya itu tidak sedang bergurau, apa lagi bermain-main.

“yakin?” tanya Rio sedikit tidak percaya, namun sekaligus juga tak ingin menyinggung perasaan Gabriel.

“yap!” jawab Gabriel mantab. “gue tau lo nggak percaya, terserah! Itu hak lo, tapi gue tau pasti di diri Shilla gue tau apa itu cinta yang sebenarnya.”

Rio tersenyum kemudian menepuk pundak Gabriel. Tanda ia percaya dengan semua perkataan Gabriel.

“good luck!” ucapnya.

“you too, ya! Gue yakin, lo sama Ify juga bakal bahagia.”

“amin.”

Keduanya kembali diam. Gabriel merogoh laci Rio untuk mencari komik yang biasa dibawa sahabatnya itu. Setelah menemukan satu, ia tenggelam dalam cerita yang disuguhkan oleh sang author.

Sementara itu, Rio menatap keluar, menatap titik jauh di langit mencari satu kepastian tentang apa yang harus menjadi ekspektasi utamanya selanjutnya. Sampai kapan ia mampu menyembunyikan identitasnya hanya untuk bersama Ify. Dan sebuah kemungkinan terburuk yang harus ia pikirkan meski sering ia tampik jauh-jauh, apa yang akan terjadi bila harus mereka terpisah. Saat ini saja, belum berganti bulan sejak komitmen itu tercetus, keduanya seperti hutan dan hujan, tak ada yang satu maka musnahlah yang lain.

Rio mendengus, ujung kanan bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman hampa. Seperti bermain menjadi seorang intelegent, ia harus berpura-pura tak mempunyai hubungan apapun dengan Ify saat di sekolah, dan menyembunyikan identitasnya sebagai putra mahkota kerajaan bisnis Haling saat bersama Ify. Dimana kisah manis khas cinta remaja yang banyak tertulis itu? Mengapa tak berlaku untuknya?

Sampai ia sadar jika seluruh bangku di kelasnya sudah kembali dihuni pemiliknya. Dua menit lalu bel tanda berakhirnya jam istirahat sudah berbunyi.

Ibu Rowina, wali kelas mereka masuk. Sosok wanita berusia menjelang setengah baya namun masih begitu cantik dan awet muda. Setelah meletakkan beberapa buah buku yang tertumpuk rapi di meja guru. Ia melangkah anggun kebagian depan tengah kelas, mencermati siswa-siswinya satu persatu dan memastikan tak ada yang absen dari jam pelajarannya. Rutinitas yang selalu ia lakukan setiap akan memulai pelajaran.

 “kelas ini akan bertambah satu penghuni.” Kata ibu Rowina jumawa, khas seorang guru yang selalu ingin disegani.
“silahkan masuk!” perintahnya sambil menoleh ke arah pintu.

Dari bangkunya, Rio terhenyak mendapati siapa yang sedang berdiri di depan kelas. Sosok tegap dan berkulit putih itu. Alvin. Ia benar-benar membuktikan ucapannya untuk mencari tau siapa Rio, atau ia ingin mempersempit pergerakan Rio dan Ify. Rio tetap diam, tak ingin Alvin melihatnya kalang kabut.

“perkenalkan diri!” ibu Rowina melanjutkan perintahnya.

“Alvin Jonathan Sindhunata, pindahan dari Singapore.” Jawab Alvin tanpa melepaskan tatapan membunuhnya pada Rio yang juga masih menatapnya dingin.

“are you kidding, bro? Sindhunata?” celetuk salah seorang siswa sedikit tak percaya.

“ma’am, this class seemed like a stock exchange! The “duke” of two great kingdoms here.” (ibu, kelas ini terkesan seperti bursa efek! Pangeran dari dua kerajaan besar di sini.) Timpal yang lain.

Alvin tak bereaksi apapun dengan keadaan kelas yang semakin bergemuruh, tadi hanya karena siswi-siswi yang kagum dengan penampilan fisiknya dan saat ini bertambah dengan para siswa yang sibuk sendiri berimaginasi seberapa banyak harta yang dimiliki Alvin.

Hal serupa juga dilakukan Rio sebagai salah satu objek dari dua orang yang dimaksudkan oleh teman-temannya.

“wihh.. as cool as a fairytale, Yo! I can’t imagine that he loves your princess also.” Bisik Gabriel yang belum tau apapun tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya dan Alvin, juga tak menyadari jika apa yang baru saja ia ucapkan adalah suatu kebenaran yang sudah terjadi.

Rio tetap diam, tanpa sadar ia mencengkeram komik yang sebelumnya dibaca Gabriel dengan sangat geram. Sadar saat ini ia harus berperang dan berjuang secara terang-terangan dan menghentikan taktik gerilyanya.

“duduk di samping Sion!” perintah bu Rowina sekali lagi sambil memberi isyarat pada siswa yang baru saja ia sebut namanya untuk berdiri agar Alvin tau dimana tempat duduknya. Bangku yang tepat berada di samping kiri meja Rio dan Gabriel.

Pelajaran dimulai. Alvin terus menghadapkan wajahnya ke papan tulis sambil terus mengorek informasi dari Sion.

“I gotta know, who is the other one of the “dukes”?” tanya Alvin setelah berhasil mengakrabkan diri dengan teman sebangkunya.

“Rio, Rio Haling, satu bangku di samping lo.” Jawab Sion sambil mencatat materi yang baru saja disampaikan bu Rowina.

“Haling?” tanya Alvin memastikan apa yang baru saja ia dengar. Ingin rasanya ia berteriak lepas, karena ini berarti jalannya untuk mendapatkan Ify  terbuka lebih lebar, apa lagi dengan rencana yang di sampaikan ayahnya dan ayah Ify beberapa hari yang lalu. Namun ia tak segila itu, bisa saja teriakannya membuatnya dikeluarkan dari kelas di hari pertamanya masuk.

Sion menggangguk acuh menanggapi pertanyaan Alvin yang sebenarnya sudah cukup jelas jawabannya.
Alvin diam. Mancoba menahan sorak-sorai kemenangannya atas Rio agar tidak membuncah. Otaknya masih terus berfikir berbagai macam cara untuk bermain-main dengan lawannya itu. Ia percaya apapun yang akan Rio perbuat Ify pasti menjadi miliknya.

***

Senyuman licik mengembang di bibir tipis milik Shilla. Sebuah kunci kini berada di genggamannya. Beberkal sebuah rahasia besar, iblis yang berhasil menguasai hati dan pikiranya kini berpesta.

Entah kemana pikiran warasnya sampai dengan mudahnya ia akan melakukan hal ini. Semua rencana sudah tersusun apik di benaknya. Bukan pemikiran baik dan briliant, juga bukan ide-ide yang akan membuahkan pujian seperti biasa ia lakukan. Sebuah rencana busuk.

Ia terus berdiri di depan ruang musik. Mencari sasarannya.

Dari arah yang berlawanan, Ify dan Sivia yang sedang berjalan menuju ruang musik terus bercanda dan tertawa lepas.
Membuat dendam yang kini sedang menguasai Shilla bertambah membara.

“Fy!” panggil Shilla saat Ify lewatb di hadapannya tanpa sedikitpun peduli pada sosoknya. Tidak sekecap pun kata permisi ataupun hanya sebatas senyuman yang terlontar dari bibirnya.

Ify menoleh sambil menautkan kedua alisnya. Ekspresi yang sangat tidak bersahabat.

“aku mau ngomong sama kamu.” Ucap Shilla sedikit terbata seraya membenahi letak kacamatanya.

“buruan!” jawab Ify.

“nggak di sini, ikut aku!”

Shilla mengayunkn kakinya menjauhi ruang musik. Tanpa pikir panjang, setelah berpamitan dengan Sivia, Ify segera mengekori Shilla.

***

Lorong sempit yang begitu pengap menyambut Ify yang mulai diliputi rasa takut. Tempat ini adalah bagian terpencil dari SMA Putra Buana. Hampir tak seorang pun siswa yang sudi menapakkan kakinya di tempat ini, di bagian depan gudang yang menurut mitos yang beredar sarat akan kejadian magis.

Cahaya matahari begitu sulit untuk menembus ruangan ini karena gedung sekolah yang tinggi, sehingga siang hari pun tempat ini sangat gelap.

“ngapain kita ke sini?” tanya Ify berusaha menyembunyikan rasa takutnya, juga firasat tidak baik yang menderanya.

Namun ia gagal, suara yang keluar dari mulutnya terdengar bergetar dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Shilla membalik tubuhnya yang semula membelakangi Ify. Melayangkan tatapan membunuh yang menohok mata Ify yang semakin ketakutan melihatnya.

Perlahan Ify beringsut mundur saat Shilla mendekatinya.

Dengan kasar, Shilla memutar knop pintu gudang dan membukanya.

“kak Shilla, lo mau apa?” tanya Ify lirih.

BRAK!

Sekuat tenaga Shilla mendorong tubuh Ify masuk ke dalam gudang dan dengan gerakan kilat ia menutup pintu kembali dan menguncinya.

Keadaan di dalam bisa dibayangkan, jauh lebih gelap dari pada di luar. Ify yang sebelumnya tersungkur segera bangun
dan menggedor pintu, meminta Shilla membukakannya sebelum terjadi hal yang buruk padanya.

“Kak Shilla!! Buka! Gue phobia gelap! Apa salah gue??” raung Ify mengerahkan semua tenaganya. Di sisi lain, ia merasakan saluran pernafasnya semakin menyempit dan aliran darahnya melemah. Persendiannya seakan terlepas dan tak kuat lagi menahan beban tubuhnya karena rasa takut yang sangat.

“salah lo? Semenjak ada lo, Gabriel nggak peduliin gue!” jawab Shilla histeris. Air mata mulai bercucuran dari pelupuk
matanya.

“gue tau gue cuma Upik Abu, mimpi buat gue bisa dapetin Gabriel. Dan lo yang begitu sempurna, bisa dengan mudah dapetin dia, lo punya segalanya, Fy! Tapi apa gue salah punya cinta ini buat dia?”

Sambil bersandar pada pintu bagian dalam, Ify memegangi dadanya yang semakin sesak. Di tengah kesadarannya yang
timbul-tenggelam ia dapat mendengar semua monolog yang Shilla lontarkan. Hati kecilnya tetap bisa merasakan betapa besarnya cinta Shilla untuk Gabriel. Ingin sekali ia menggerakan mulutnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi pada Shilla tetapi tenaganya sudah habis terkuras. Hanya keringat dingin yang terus mengalir di seluruh tubuhnya, juga air mata yang terus mengalir dari matanya. Tubuhnya perlahan terkulai dan semuanya gelap.

Dengan keadaan yang masih kalut, Shilla berlari menuju atap sekolah. Sebuah tempat yang begitu saja melintas di otaknya yang belum mampu berpikir jernih.

***

Alvin menyandarkan punggungnya di depan pintu ruang kelas barunya. Hampir semua teman sekelasnya sudah keluar
dari dalam kelas, kecuali orang yang sengaja ia tunggu dan sahabatnya.

Tak perlu menunggu lama, orang itu keluar dari kelas dengan raut tenang. Mencoba mengacuhkan keberadaan Alvin yang sebenarnya ia tau jika sosok itu ada di tempatnya. Begitu pula sang sahabat yang mengekor di belakangnya.

“tuan muda Haling..” ucap Alvin meremehkan. Tak bernada memanggil Rio, ia seakan hanya ingin memulai sebuah monolog.

Rio diam di tempat mendengar ucapan Alvin. Namun ia tak menoleh atau memberikan reaksi lain.

“gue nggak bayangin nasib Ify kalau ayahnya tau putri kesayangannya punya hubungan dengan keluarga rivalnya.” Lanjut Alvin dengan nada penuh kesombongan.

Rio berdecak kemudian memutar tubuhnya dan menatap Alvin dingin.

“apa mau lo?” tanya Rio tajam.

“nothing! Gue cuma mau liat seberapa jauh perjuangan elo buat Ify.” Alvin melangkah maju mendekati Rio. “I’m not a loser, ini antara lo sama gue, buat Ify, gue sama elo punya cinta yang sama buat dia, gue nggak akan melibatkan orang tua gue, lo, atau Ify di sini.”

Rio tersenyum simpul. Ia membaca sebuah kesungguhan di mata Alvin yang berucap sebagai seorang laki-laki sejati. Membawanya pada persaingan antara dua orang pangeran untuk menjaga sang putri tanpa tangan orang lain.

“gue pegang janji lo!” balas Rio.

***

Sivia melongokkan kepalanya ke kiri dan kanan dari dalam pintu besar ruang musik. Sesekali mata sipitnya melirik ke arah
jam besar di dinding ruangan.

Sudah hampir satu jam Ify pergi dan belum juga menampakkan batang hidungnya lagi. Ekstra musik pun sebentar lagi usai. Rasa kawatir akan nasib sahabatnya itu terus bergemuruh di dadanya, entah darimana ia seperti mendapat firasat jika ada sesuatu yang tak baik sedang menimpa sahabatnya. Susah sekali rasanya menenangkan dirinya sendiri.

Sambil mencoba berpikir positif, Sivia mengutak-atik ponselnya, mencari sebuah kontak yang mungkin tau keberadaan Ify. Setelah menemukan satu nama, Sivia menekan tombol pemanggil di ponselnya.

***

Ucapan Rio terhenti saat merasakan getaran ponsel di sakunya.

Nomor yang belum ia kenal, namun sepertinya si penelfon serius melakukan panggilan. Sedetik berikutnya ia segera menekan tombol pemanggil dan mendekatkan ponsenya ke telinganya.

“kak Rio, ini Sivia, Ify ada sama kakak?” cerocos seseorang dari seberang sambungan yang ternyata Sivia tanpa jeda titik dan koma karena panik.

“enggak, gue nggak sama dia, kenapa?” tanya Rio.

“dia ngilang dari satu jam yang lalu, perasaan aku nggak enak, kak.” Jelas Sivia tak ingin berbasa-basi.

Rasa kawatir juga langsung menyergap Rio. Ia merasa ada hal yang buruk yang sedang terjadi pada kekasihnya.

“lo dimana?” tanya Rio sambil berusaha menetralisir perasaannya.

“ruang musik.”

Rio mematikan sambungan telfon cepat-cepat.

“kenapa, Yo?” tanya Gabriel yang sedari tadi diam tak ingin ikut campur. Ia membaca raut kepanikan di wajah Rio.

“Ify, perasaan gue nggak enak.” Jawab Rio kemudian melenggang cepat menuju ruang musik.

Seperti mendapat sebuah komando, Gabriel dan Alvin mengikuti Rio.

***

“dimana Ify, Vi?” tanya Rio panik setelah mendapati Sivia dengan keadaan tak kalah kacau di depan ruang musik.

Sivia menggeleng karena memang ia tak tau kemana Ify pergi.

“tadi sama kak Shilla.” Ucap Sivia pelan.

“Shilla? Ada apa?” mendengar nama Shilla disebut, mau tak mau Gabriel ikut terbawa suasana.

Sivia menggeleng –lagi- tanda ia tak tau apapun.

Tanpa menunggu aba-aba Gabriel segera mengetikan deretan nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala. Nomor Shilla.

***

Di atap sekolah Shilla masih terus menangis sejadi-jadinya. Menundukan kepalanya dalam-dalam. Malaikat dan setan di hatinya kini sedang beradu argumen, ia akan terus membiarkan Ify di sana atau segera kembali untuk menolongnya.
Sekejap terngiang kembali beberapa kalimat tentang phobia yang dibacanya. Nyawa Ify bahkan terancam dengan perbuatannya jika ternyata Ify memiliki lemah jantung. Hal yang paling ia takuti adalah semua orang akan menyalahkannya, termasuk Gabriel.

Sampai ponsel ditangannya bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Nama Gabriel tertera di layar dan membuatnya semakin kacau. Namun kali ini rasa kemanusiaannya menang, terserah apa yang akan dilakukan orang lain padanya nanti, ia ingin nyawa Ify selamat. Tanpa pikir panjang Shilla mengangkat panggilan itu.

Tak sepatah kata pun mampu Shilla keluarkan, hanya isakan yang terus berhamburan dari bibirnya.

“Shil, elo dimana?” tanya Gabriel panik karena mendengar isakan Shilla.

“lo.. loteng.” Jawab Shilla setelah berhasil meredakan isakannya.

***

“ke loteng!” dengan segera Gabriel memberi instruksi pada yang lain untuk mengikutinya yang berlari terlebih dahulu.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Rio, Alvin, dan Sivia menjalankan perintah Gabriel.

Semua begitu kalut karena hilangnya Ify, dan Shilla. Nyaris seperti orang yang sedang terhipnotis, perintah seperti apapun yang berhubungan dengan dua orang gadis itu pasti akan segera mereka jalankan.

***

Gabriel mencelos mendapati Shilla dalam keadaan yang sangat berantakan. Tak tega untuk bertanya apapun pada gadis yang kini terlihat begitu rapuh itu. Ia menarik kepala Shilla untuk bersandar di dadanya, memberinya sedikit ketenangan. Semua yang ada di otak Gabriel saat ini adalah bagaimana mengembalikan keadaan Shilla seperti sebelumnya.

“dimana Ify, Shil?” tanya Rio sedikit membentak. Kekawatirannya justru bertambah saat melihat kondisi Shilla.

“lo tenang dulu, Yo! Liat kondisi Shilla!” bentak Gabriel tak mau kalah karena terdorong oleh nalurinya melindungi Shilla.

“di gudang, aku kunci dia..” jawab Shilla seperti orang linglung.

“gudang dimana?” sela Alvin yang sedari tadi memilih hanya mengikuti apa yang terjadi, dan kini ia menjadi lebih panik dari yang lain.

“belakang.” Jawab Sivia yang tak tau lagi harus berbuat apa sambil menunjuk sebuah arah.

Alvin melesat menuju arah yang tadi ditunjukan Sivia. Dan kali ini Rio yang mengikutinya, ia yang semula ingin meluapkan amarahnya pada Shilla baru tersadar jika menyelamatkan Ify lah yang paling penting saat ini.

***

Rio dan Alvin dapat dengan mudah memasuki gudang karena kunci yang masih Shilla biarkan menggantung di tempatnya.

“Ify!” pekik Rio dan Alvin bersamaan saat melihat kondisi Ify yang terkulai tak sadarkan diri.

Alvin memeluk tubuh Ify yang terasa sangat dingin.

“lama lo! Bawa ke rumah sakit!” perintah Rio sambil membuka kasar pintu gudang lebih lebar lagi, juga karena rasa panas yang kembali menyergap hatinya saat tubuh gadisnya berada di dalam dekapan pria lain.

Setelah melemparkan kunci mobilnya pada Rio, Alvin membopong tubuh Ify.

“buat apa?” tanya Rio tak mengerti.

“lo yang nyetir, goblok!” balas Alvin kasar sambil bergegas membawa Ify ke mobilnya.

Sebenarnya Rio tak terima dibentak sekasar itu oleh Alvin. namun jika ia melayani ucapan Alvin, Ify tak akan segera tertolong. Demi Ify akhirnya ia mengalah.

***

Tak peduli cacian dan makian yang di lontarkan pengguna jalan lain, Rio terus memicu mobil Alvin ugal-ugalan. Yang ada dipikirannya saat ini adalah bagaimana cara sampai di rumah sakit dengan segera untuk menyelamatkan Ify dan rasa cemburu yang membakar hatinya karena saat ini Ify berada di pangkuan Alvin, berada dalam dekapan laki-laki bermata sipit itu di bangku belakang.

Tangannya mencengkeram kuat-kuat stir di hadapannya. Andai tidak dalam keadaan seperti ini, Rio dapat memastikan jika bogem mentahnya sudah mendarat mulus di wajah Alvin sejak beberapa waktu yang lalu.

***

Kesunyian menyelimuti lorong panjang dengan nuansa serba putih itu. Hanya dua orang lelaki tampan yang duduk dalam
diam di bangku tunggu. Sesekali terdengar derap langkah phantophel milik petugas rumah sakit yang beradu dengan lantai saat mereka melewati lorong ini.

Berkali-kali Alvin mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan untuk menumpahkan emosinya. Sama sekali ia tak berminat untuk mengajak bicara Rio yang kini hanya terpaku menatap satu titik imaginasi yang seperti tertera di depan pintu besar instalasi gawat darurat, tempat dimana Ify sedang mendapatkan pertolongan. Ingin rasanya ia mendobrak pintu itu hanya untuk menemani Ify berjuang dan mengetahui bagaimana keadaan gadisnya itu sekarang.

Hampir dua puluh menit berlalu, keadaan masih sama, sunyi. Belum ada tanda-tanda kemunculan dokter atau siapapun
dari dalam ruangan itu.

“Yo, gimana Ify?”sebuah pertanyaan dari Gabriel yang baru saja datang bersama Shilla dan Sivia serentak
menghancurkan kebekuan yang tercipta sebelumnya.

Tanpa menjawab pertanyaan Gabriel, Rio melayangkan pandangan membunuh pada Shilla yang kini tertunduk ketakutan setelah melihat tatapan Rio.

Rio berdiri dan beranjak mendekati Shilla, tanpa melepaskan tatapan tak bersahabatnya.

“apa mau lo, Shil? Apa salah Ify? Pshyco, lo!” bentak Rio menumpahkan semua emosinya.

Gabriel yang tau pasti bagaimana sikap Rio langsung menarik Shilla ke belakang tubuhnya. Menggunakan tubuhnya sebagai tameng jika emosi Rio benar-benar meluap. Gabriel tau saat Rio sudah marah, tangannya sangat ringan bergerak untuk menyakiti orang yang memicu emosinya, dan sekali ia marah, akan sangat sulit meminta maaf darinya.

“maafin Shilla, Yo.” Ucap Gabriel lirih.

“maaf lo bilang? Ify bisa kenapa-kenapa karena dia!” jawab Rio keras sambil menunjuk muka Shilla.

Isakan Shilla kini bertambah hebat. Masalah lain juga ia timbulkan, dua sahabat karib yang sebelumnya tak pernah bisa terpisah kini sedang bertengkar hebat di hadapannya.

“apa yang harus gue lakuin supaya lo maafin Shilla?” tanya Gabriel sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi saat menyadari betapa keras kepalanya sahabatnya ini.

Alvin tersenyum miring melihat drama yang disuguhkan padanya. Tak berniat sedikit pun untuk ikut campur. Otaknya hanya menerka bagaimana ujung kisah itu. Dua pangeran yang sedang membela dan menjaga putrinya masing-masing, ralat, Gabriel dengan Cinderellanya, dan Rio membela putrinya, sang putri yang akan menjadi permaisuri seorang Alvin. Mungkin seperti itu hal yang ada di pikiran Alvin saat ini.

“gue harus berlutut di depan lo, Yo? Gue mau lakuin itu!” ucap Gabriel mantab karena Rio hanya diam. Perlahan Gabriel menekuk lututnya.

“berdiri, Yel! Gue nggak berhak marah sama Shilla, Ify yang mutusin semuanya.” Rio akhirnya membuka suaranya.

“ck!” Alvin berdecak, tak tahan juga ingin mengemukakan pendapatnya. “satu-satunya orang yang harus disalahin di sini itu elo, Rio!” lanjut Alvin tenang.

“elo yang punya status pacar Ify tapi nggak becus jagain dia! Lo pikir gue bakal tega nyerahin Ify gitu aja sama orang yang sama sekali nggak punya tanggung jawab kaya elo?” cerca Alvin sambil menatap dingin pada Rio.

Rio terdiam. Akal sehatnyanya membenarkan semua yang dikatakan Alvin. Kadang ia lebih memikirkan akibat jika hubungannya dengan Ify diketahui keluarganya atau keluarga Ify, bukan bagaimana agar hubungannya dengan Ify dapat terus berjalan.

Decitan pintu membuyarkan keheningan yang terjadi di ruangan panjang itu. Seseorang dengan jas putih keluar dari ruangan itu. Dia dokter yang menangani Ify.

“bagaimana Ify, Dok?” tanya Rio sigap, tak ingin kalah langkah lagi dari Alvin.

“dia hanya shock, tak apa, dia juga sudah sadarkan diri.” Jelas dokter dengan raut kelegaan yang terpeta jelas di wajahnya.

Rio menghela nafas lega. Semua amarah dan rasa cemburu yang disimpannya seakan menguap begitu saja setelah mendengar Ify baik-baik saja.

“boleh saya temui?” tanya Rio lagi.

Dokter hanya mengangguk tanda ia memberi ijin pada Rio untuk masuk.

Tanpa membuang waktu Rio berlari memasuki ruangan tempat Ify baru saja diperiksa. Hampir saja Alvin mencegahnya, beruntung Gabriel tidak terlambat menghalangi langkah Alvin terlebih dahulu.

Tatapan sinis Alvin melayang begitu saja pada Gabriel sambil menyentakkan tangannya untuk menjauhkan lengan kokoh Gabriel dari tubuhnya dan kemudian kembali ke tempat duduknya. Ia memilih mengalah kali ini. Sambil kembali merangkul Shilla, Gabriel tersenyum simpul penuh kemenangan.

Jangan melupakan ada tokoh pasif di ruangan panjang ini. Dia Sivia yang sedari tadi diam, hanya mengikuti alur cerita yang ada tanpa bisa merubahnya karena ia tak tau harus berbuat apa. Ia yang terus memusatkan perhatiannya pada sosok yang menurutnya sangat berbeda hari ini. Sosok laki-laki tampan dengan sejuta pesonanya yang tiba-tiba begitu nampak dewasa. Gabriel. Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini, sejumput rasa sakit di hatinya karena dengan mata kepalanya sendiri ia melihat seorang playboy kelas kakap membela seorang gadis yang sama sekali tak dianggap orang lain sekuat tenaganya, bahkan rela merendahkan harga dirinya dengan berlutut di hadapan sahabatnya. Namun di sisi lain, ada rasa kagum yang membuncah di hatinya, Gabriel sama sekali tak seburuk yang ia dan orang lain pikirkan, bahkan sangat bertolak belakang dengan itu. Sungguh beruntung jika ia ada di posisi Shilla saat ini.

***

Ruangan yang didominasi warna serba putih yang ternyata jauh lebih sunyi dari pada ruangan di luarnya. Hanya ada Ify yang masih berbaring di tempat tidurnya memandang kosong pada langit-langit di atasnya.

“hey..” sapaan lembut dari Rio yang baru saja menyingkap tirai pembatas membuat Ify mengaburkan lamunannya dan menyambut Rio dengan senyuman yang tetap manis walaupun dengan bibirnya yang masih pucat.

Dengan senyuman yang terlihat sedikit miris karena sebenarnya ia tak tega melihat Ify terbaring lemah seperti saat ini, Rio merapikan sedikit rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya dan kemudian menyelipkannya di belakang daun telinga kanan Ify.

Rio diam dan menatap wajah Ify penuh kasih, seakan tak ingin kehilangannya barang hanya sedetik. Perlahan ia membelai lembut pipi Ify dengan punggung jari telunjuk kanannya. Merasakan sensasi-sensasi menyenangkan saat menyentuh kulit mulus kekasihnya itu.

“jangan buat aku kawatir..” ucap Rio lirih. Lebih terdengar seperti sebuah permohonan.

Ify menggeleng, mencoba memberitahukan pada Rio jika ia tak akan membuatnya kawatir lagi.

“aku sayang kamu.” Kata Rio lagi. “aku nggak bisa bayangin kalau kamu kenapa-kenapa, terserah kamu percaya atau enggak, aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu.”

Ify meraih tangan Rio yang masih membelai pipinya kemudian mengecup punggung tangan kokoh itu.

“aku akan selalu ada buat kamu, aku janji.” Balas Ify mencoba memberi Rio ketenangan.

Rio meletakkan semua kepercayaannya pada janji Ify, dalam hatinya ia juga mengucapkan janji yang sama, berharap semuanya akan terbukti. Dengan senyum yang semakin merekah Rio mengacak-acak puncak kepala Ify.

“aku pegang janji kamu, nona cantik.”

Ruangan itu kembali sunyi. Ify hanya diam sambil memejamkan matanya saat Rio mencium dahinya. Dari sana ia bisa menyadari betapa besarnya cinta Rio untuknya, bukan hanya dari ucapannya, namun juga hatinya.

“kak Shilla mana?” tanya Ify setelah Rio melepas kecupannya.

Kedua garis tebal di atas mata Rio menyatu. Heran, mengapa justru orang yang telah membahayakan dirinya lah yang pertama kali Ify cari.

“di luar, kenapa?”

“tolong panggil, aku mau minta maaf.” Pinta Ify manja.

Rio semakin heran dibuat oleh Ify. Tak biasa sekali Ify bersikap seperti ini.

“biasa aja deh liatin akunya! Buruan panggil!”

Tak ingin semakin dipusingkan dengan kelakuan Ify yang tiba-tiba berubah, Rio segera beranjak keluar untuk memanggil Shilla.

Tak berapa lama, Shilla sudah berdiri di sebelah ranjang Ify ditemani Gabriel. Sivia yang ikut masuk hanya memilih berdiri di samping Rio di dekat tirai pembatas untuk menyaksikan semuanya.

“Fy, maaf.. aku..” ucap Shilla sambil terisak. Gabriel yang terus berada disampingnya terus mengurut lengan gadis yang ia cintai itu untuk memberi kekuatan.

“sst.. harusnya aku yang minta maaf, kak Shilla. Maaf aku nggak pernah berlaku baik sama kakak.” Potong Ify sambil tersenyum tulus. “masalah kak Iel, aku sama dia nggak ada apa-apa, kan aku punya kak Rio!” lanjut Ify dengan nada khas seorang anak kecil yang membuat si objek pembicaraan –Rio- tertawa kecil di tempanya.

Gabriel menatap Shilla tak percaya. Sementara yang ditatap hanya menunduk bersalah.

“jadi ini semua karena gue?” ceplos Gabriel masih tak percaya.

Menyadari aksi ceplas-ceplosnya membawa masalah baru, Ify menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“selesaikan semua sekarang, Yel!” sela Rio mencoba menata suasana yang makin runyam.

Gabriel mengangguk pada Rio pertanda ia setuju dengan ide yang ditawarkan Rio. Tanpa menunggu lagi ia membimbing
Shilla pergi keluar.

Rasa sesak yang terus menghimpit dadanya memaksa Sivia segera berlari dari ruangan itu tak ingin seorangpun melihat air matanya jatuh.

“Siv.. Sivia!” panggil Ify yang baru saja menyadari ada sebuah hal penting lain yang ia lupakan, perasaan Sivia pada Gabriel.

Baru saja Ify bangun dari tidurnya. Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinganya dan langsung membuatnya diam di tempat.

“time out, tuan Haling!” kata Alvin yang baru saja muncul dari balik pintu. “you must go home, right now, Alyssa!” lanjutnya sambil membantu Ify turun dari ranjang, ralat, memaksa Ify turun dari ranjang karena ia melakukannya sedikit kasar.

“Vin! Apa-apaan sih lo?! Gue mau sama kak Rio!” Ify mencoba berontak.

“lo mau pangeran lo ini abis sama bokap lo? I told him that you’re with me.” Ancam Alvin telak.

Ify menatap nanar pada Rio. Rio membalasnya dengan sebuah senyuman, memasrahkan semuanya pada Ify, jika Ify memilih pergi bersamanya, Rio siap mendapatkan perlakuan apapun dari ayah Ify, namun bila Ify lebih memilih pergi bersama Alvin, ia tak akan mencegah.

“aku pulang sama Alvin, kak.” Pamit Ify kemudian mengikuti Alvin yang sudah sedikit menarik tangannya untuk segera pergi. Ia hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Rio.

Rio melihat kepergian Ify dan Alvin dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Senyuman tulus dibibirnya kini berubah menjadi semuah senyuman getir.

“apa kamu nggak mau aku perjuangkan, Fy?” tanya Rio seolah gadis yang sangat ia cintai itu ada dihadapannya. Keraguan yang muncul begitu saja di hatinya yang bercampur dengan rasa cemburu melihat gadisnya ada bersama orang lain, orang yang jelas-jelas juga menaruh hati padanya.

Dengan langkah gontai Rio menyusuri koridor rumah sakit. Pikirannya tak menentu dan emosinya sedang labil saat ini. Berharap semua akan membaik esok hari.

bersambung....

Song of Love part 6

Ify masih diam di tempat. Melipat kedua tangannya di depan dada seraya memasang wajah tak sukanya. Matanya yang menyimpan kekesalan masih menatap arah lain, tak ingin melihat Rio yang kini terus merengek dan memohon ijin padanya untuk mengikuti balapan di arena yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

“ayolah, Fy!” bujuk Rio sekali lagi. “dua leg!”

“enggak! Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa!” jawab Ify tegas.

“aku jamin aku nggak akan kenapa-kenapa.”

Ify masih tak bergeming, tak juga menjawab Rio. Sebelumnya ia sama sekali tidak menyangka akan diajak Rio ke tempat seperti ini. Sebuah arena balapan liar, yah.. walaupun memang tempat ini sudah menyerupai sebuah sirkuit balap bersertifikat, namun tetap saja tak ada jaminan yang memadai kalau tak akan terjadi apa-apa setelah kekasihnya itu menancap gas motornya kencang-kencang di arena itu.

Dua hal yang ada di otak Ify kini tentang Rio:
1. Rio tak mau jauh darinya namun ia egois, dan
2. Rio sayang padanya namun ia tetap egois.

Rio berdecak kesal. Barisan kata yang ada di otaknya telah habis juga ia keluarkan untuk merayu Ify, atau mungkin ia memang tak pandai dalam hal itu. Kini tersisa ide terakhir di otaknya, dan yang paling ia harapkan berhasil.

Perlahan Rio memutar bahu Ify dan membuat gadis itu menghadap padanya. Mata sayunya menatap dua mata bening Ify memohon.

“please..” pinta Rio sekali lagi, lebih tegas dari sebelumnya, mungkin kali ini lebih terdengar memaksa Ify untuk berkata ‘iya’. “aku akan baik-baik aja, kamu percaya kan?”

Ify menghela nafas. Curang sekali Rio menggunakan mata yang  selalu berhasil meluluhkan hatinya itu. Mana mungkin ia sanggup menolak. Itu alasan mengapa sedari tadi Ify tak mau menatap Rio. Akhirnya Ify menggangguk lemah.

“makasih, sayang!” ucap Rio semangat sambil menepuk pelan puncak kepala Ify.

“ehhemm..” dari balik punggung Rio, Gabriel mendehem memberi signal pada Rio dan Ify bahwa ada dirinya di situ dan tidak ingin melihat adegan atau pembicaraan yang lebih frontal dari sepasang kekasih baru itu.

“ganggu lo!” sungut Rio kemudian menaruh tas ranselnya di atas bangku di samping kiri tempat Ify duduk sekarang.
Gabriel duduk di samping kanan Ify. Sambil menyeringai pada Rio ia merangkul pundak Ify. Ify hanya diam karena masih menyimpan rasa kesal pada Rio. Selain ia juga tau betapa gilanya Gabriel.

“have you already taken by this price ice, miss?” tanya Gabriel menggoda Ify.

“yes, maybe.” jawab Ify, acuh.

“urusan balapan?” Gabriel menyadari ekspresi jengah dari nada bicara dan wajah Ify mencoba menebak pangkal masalahnya. “tenang! Rio juga jago urusan ini, yah.. biar gue yang lebih.”

“terserah! Udah sana pergi!”

“kamu nggak mau liat?” tawar Rio.

“kamu pikir aku tega?” masih juga dijawab dengan nada sinis oleh Ify.

Rio tersenyum kecil. Berusaha menenangkan gadisnya. Sungguh sebenarnya ia tak ingin membuat Ify kawatir padanya, namun ada sebuah ego dan kerinduan pada euphoria tempat itu yang membuatnya tak ingin melewatkan kesempatan. Toh Rio sangat percaya tak akan terjadi apapun padanya setelah ini.

“kak Rio!” seru Ify memanggil Rio yang sudah berada beberapa meter darinya. “take care, yaa..” pesan Ify sedikit berat. Rio hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil –lagi- sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

***

Suara deru motor yang berjajar di garis start terus mengaum. Dilihat dari tipe dan modelnya, jelas menggambarkan setiap motor adalah milik orang-orang berkantong tebal.

Sambil membenahi jaketnya, Rio melirik Gabriel yang berada di sebelahnya. Tatapan menantang dan penuh kemenangan. Menjelaskan kalau Rio yakin dirinya akan menang kali ini melawan Gabriel.

Sementara itu, Gabriel yang sudah tampil begitu gagah di atas motor kesayangannya hanya menepuk dada kirinya dengan jumawa, menegaskan ia juga tak ingin kalah dengan Rio.

Bendera dinaikan dan semua peserta balapan melesat beradu kecepatan.

Satu leg berakhir, tinggal satu leg lagi sesuai permintaan Rio yang ingin menepati janjinya pada Ify, dan juga tak ingin membuat kekasihnya menunggu terlalu lama tentunya.

Rio masih memimpin di posisi terdepan, di belakangnya, tipis sekali jarak keduanya, ada Gabriel yang siap mencuri celah untuk menyalip Rio.

CHYITTT...

Suara detitan rem menandakan balapan berakhir, dan dengan waktu sepersekian detik Gabriel berhasil menyalip Rio dan menjadi juaranya.

“gue menang, bro!” seru Gabriel bangga sambil meninju pelan bahu Rio.

“di arena ini emang lo juaranya, sob! Congrats!” sahut Rio.

“Ify nungguin!” Gabriel mengingatkan sebelum ia berlalu kembali ke kerumunan teman-temannya yang sedang merayakan kemenangannya. Walaupun itu hal yang sudah sering, kemampuan Gabriel di arena balap selalu mampu memukau siapapun penontonnya.

Rio kembali ke tempat Ify menunggunya.

***

If you’re not the one, then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one, then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine, then why does your heart return my call?
If you are not mine, would I have the strength to stand at all?

If You Are Not The One yang disenandungkan oleh Daniel Bedingfield mengalun memenuhi seluruh perjuru caffe. Lagu yang berbaur dengan suara hujan yang turun begitu deras di luar sana, menutup hari ini tanpa semburat jingga di langit senja. Susunan nada yang menciptakan suasana romantis dengan sendirinya.

Kebetulan caffe sedang lengang, hanya ada dua meja yang ditempati. Salah satunya ditempati Rio dan Ify yang duduk di salah satu sudut di sayap luar caffe. Tempat yang sengaja Ify pilih agar ia bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh rintikan air langit, saat-saat yang selalu dikagumi oleh gadis cantik itu, saat langit melepaskan segala bebannya dan mencurahkan sebuah anugerah untuk dunia. Hujan.

Dengan mata berbinar, Ify memperhatikan setiap rintik air yang jatuh. Menghirup udara kuat-kuat, memenuhi seluruh rongga dadanya dengan aroma khas saat tanah yang begitu kering setelah dibakar matahari seharian tadi tiba-tiba terguyur hujan. Hal yang dianggap Ify sebuah surga dalam bentuk lain. Bahkan sepertinya semua hal yang ada di hadapannya kini jauh lebih menarik dari Rio yang duduk di sampingnya dan ia acuhkan.

Namun sepertinya Rio tidak berkeberatan diperlakukan seperti itu oleh gadisnya itu. Ia cukup diam, menikmati setiap lekuk wajah Ify yang terlihat begitu damai dan tanpa beban. Kebahagian begitu nyata terpendar di mata bening Ify, kilauan mata yang turut membawa Rio ke dalam kebahagian itu. Nampaknya yang lebih mengenaskan nasibnya adalah secangkir hot cappuccino milik Rio dan satu gelas penuh teh hangat milik Ify yang terabaikan di atas meja dan dibiarkan terus mengepulkan uap panasnya tanpa di sentuh sedikitpun.

Sebelum sampai ke tempat ini Rio menawarkan diri mengantar Ify pulang. Namun jelas Ify menolaknya karena ia tak ingin terjadi hal yang buruk jika ia terlihat bersama Rio oleh ayahnya. Ify memilih menunggu supirnya di caffe ini dengan alasan ia habis mengerjakan tugas dengan Sivia.

I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I built my home with
I hope I love you all my life

Merasa risih terus diperhatikan, Ify menoleh pada Rio. Ia melayangkan tatapan bertanya pada Rio yang sedang tersenyum polos menyadari ia tertangkap basah memperhatikan Ify tanpa berkedip sedikitpun.

“nggak boleh aku liatin pacar aku sendiri?” tanya Rio, mencoba bercanda dengan menyisipkan nada manja pada pertanyaannya.

“tapi enggak gini juga kali, jangan sampe lupa kedip!” jawab Ify mencoba menyembunyikan kalau ia sedang salah tingkah dibuat Rio saat ini.

Keheningan kembali tercipta, namun kali ini terdengar sayup-sayup Rio bersenandung mengikuti irama lagu yang masih terus berputar. Lagu yang memang begitu cocok untuk suara Rio.

‘cause I miss you body and soul so strong
That it takes my breath away
And I breath you into my heart

“suara kakak kaya malaikat!” puji Ify sambil menatap Rio penuh kekaguman. Hal yang tak pernah hilang sejak ia bertemu Rio, kekagumannya pada lelaki tampan itu.

“pernah gitu dateng ke konser malaikat?” seloroh Rio sambil menyeringai lebar.

Ify terdiam sebal sambil memajukan bibirnya sedikit. Tapi ia juga memikirkan jika memang benar ucapan Rio, mengapa setiap manusia yang memiliki suara indah selalu disejajarkan dengan malaikat, padahal belum sekalipun mendengar seperti apa suara malaikat itu.

Rio tertawa kecil melihat mimik wajah Ify yang sungguh membuatnya gemas. Seperti anak kecil yang begitu polos, tak berbeda jauh mungkin dengan raut wajah Acha saat marah. Tangan kanannya mengacak-acak poni yang membingkai wajah Ify hingga berantakan, dan otomatis membuat Ify semakin mengerucutkan bibirnya.

“maaf..”pinta Rio sambil membenahi poni Ify.

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there anyway then I can stay in your arms?

Lantunan barisan syair dan melodi manis itu berakhir, menyisakan suara rintikan hujan yang semakin deras. Dan juga suasana yang begitu sepi namun juga damai di antara Rio dan Ify. Rio menyesap sedikit minuman pesanannya yang sudah mulai mendingin. Menikmati rasa pahit dari cappucino tanpa gulanya.

“kak Rio, kisah kita kaya.. em.. Romeo dan Juliet mungkin ya?” ucap Ify yang sebenarnya hanya tak ingin suasana terus kaku.

Setelah meletakkan cangkir keramik putih wadah minumannya pada tatakannya kembali, Rio menatap Ify begitu tajam namun sarat kelembutan.

“aku nggak pernah menginginkan kisah mereka terjadi sama kita, biar semua yang kita jalani menjadi seperti seharusnya, kisah tentang Mario dan Alyssa.” Tanggap Rio begitu tenang, dan nyata tergurat jika ia serius. “kamu suka kisah Romeo Juliet?”

“not at all. Cuma terkesan dengan keberanian mereka mengorbankan nyawa untuk pasangannya.”

“kalau aku yang ada di posisi Romeo, aku juga akan melakukan hal yang sama, sama-sama rela mengorbankan nyawa aku untuk Juliet, tapi aku nggak akan mengijinkan Juliet ikut pergi juga, so on with you.”

Rio mengacak-acak lembut puncak kepala Ify –lagi- yang terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya, rangkaian kata spontan yang begitu tulus. Ia menggenggam erat kedua tangan Ify, mengisi sela jari-jari lentiknya.

“semua sisa waktuku akan aku beri cuma buat kamu, tapi saat waktu itu habis, aku bersumpah tak akan mengajakmu.”

“so? Kamu biarin aku sendiri meratapi kepergian kamu? Kamu biarin aku sakit yang nggak akan bisa terobati?”

Rio menggeleng mantab.

“satu-satunya hal yang paling nggak mau aku lihat di dunia ini adalah kesedihan kamu, itu kenapa selama ini aku lebih memilih diam dan menyembunyikan semua yang aku rasa buat kamu.”

“aku sayang kamu!” ucap Ify sambil tersenyum lebar.

“aku juga.”

Rio mengecup lembut punggung tangan Ify.

“Ify!” pekik Alvin yang tiba-tiba saja muncul di balik pungung Rio. Spontan Ify dan Rio mengalihkan perhatiannya pada sosok laki-laki berkulit putih itu.

Alvin mengepalkan keras kedua tangannya, menahannya agar tidak melayang tanpa aturan ke wajah Rio. Nafasnya makin memburu karena menahan sesak di dadanya yang sedang terbakar api cemburu. Ia sama sekali tak menyangka akan disuguhi pemandangan kemesraan Ify, yang tak lain adalah gadis yang masih menghuni tahta tertinggi di hatinya, dengan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal. Ia hanya tau Ify sedang mengerjakan sekolahnya saat –lagi-lagi- ayah Ify memintanya menjemput putri kesayangannya itu.

“Al.. Alvin.” Sapa Ify terbata karena rasa takut yang langsung menyergapnya.

Dengan kasar Alvin mencengkeram pergelangan tangan Ify dan menariknya mendekat padanya.

“aww..” rintih Ify kesakitan karena perbuatan Alvin.

“lepasin Ify!” perintah Rio, pelan namun sangat tegas.

Perintah yang sama sekali tidak diindahkan oleh Alvin, yang bahkan tak peduli dengan rintihan kesakitan dan permohonan memelas yang keluar dari bibir Ify. Ia hanya menatap Rio penuh kebencian.

“lo nyakitin dia!” bentak Rio sambil menyentakan tangan Alvin yang mencengkeram tangan Ify. Tak ingin gadisnya tersakiti.

“siapa lo? Apa urusan lo sama Ify?” tanya Alvin tajam, masih mencoba menahan emosinya agar tak seluruhnya memuncak.

Sementara itu, Ify berdiri di tempatnya sambil menunduk, menahan kuat-kuat agar air matanya tidak jatuh. Suara dengan nada tinggi dari Rio maupun Alvin justru membuatnya ketakutan. Egois. Satu kata untuk menggambarkan dua orang lelaki tampan di hadapannya. Mereka yang sama-sama mengaku mencintainya namun tak mau mengerti perasaannya.

“bukan urusan lo!” jawab Rio tenang.

“masuk ke mobil, Fy!” perintah Alvin tegas, sama sekali tak ingin dibantah.

Ify menggeleng pelan untuk menolak perintah Alvin. Tak ingin mengeluarkan suarannya yang ia yakin pasti sudah terdengar parau.

“masuk!” kali ini mungkin lebih tepat jika disebut jika Alvin memaksa.

“pergi, Fy..” Rio berganti menyuruh Ify, lembut, ditambah sebuah senyuman yang seolah ingin menyampaikan pesan kalau semuanya akan tetap baik-baik saja, sekaligus menenangkan perasaan kekasihnya.

Mata indah Ify menatap nanar pada Rio sebelum perlahan melangkah menuju mobil Alvin.

“siapa elo?” tanya Alvin sekali lagi menggunakan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan, tanda ia tak ingin bermain-main.

“penting?” balas Rio sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. “gue rasa ini bukan acara meet and greet.” Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya.

“shit! Siapapun elo, jauhi Ify! Dia punya gue!”

“yakin dia mau sama elo?”

BUG!

Sebuah bogem yang sejak tadi Alvin tahan akhirnya mendarat mulus di pipi Rio. Membuat darah segar sedikit mengucur di ujung bibir kanan Rio.

“kampungan!” cibir Rio sambil menghapus kasar darah yang mengalir dari lukanya dengan punggung tangannya. Tanpa sedikitpun berniat membalas Alvin. “siapa lo berhak ngatur Ify?”

“gue tunangan dia!” jawab Alvin penuh kemenangan. Sebuah senyuman terukir di bibirnya, menegaskan pada Rio bahwa ia bukan orang yang suka bermain-main, dan saat ini pun Rio sudah kalah telak dengannya.

Rio mencelos. Seakan ada sesuatu yang menghantam ulu hatinya saat mendengar pernyataan Alvin. Begitu sakit, pukulan Alvin yang sebelumnya ia terima pun tak ada apa-apanya dibanding apa yang ia rasakan sekarang. Namun entah topeng apa yang dimiliki Rio hingga ia tetap tampak tenang, tak tertangkap perubahan emosi di wajahnya, bahkan sorot matanya pun tetap sama, tak ada gejolak sama sekali di sana.

Sepersekian detik berikutnya, ujung bibir Rio tertarik, terlukis sebuah senyuman sinis yang memang sengaja diciptakan pemiliknya, walaupun dengan usaha keras agar tidak terlihat miris.

“ada bagian penting dari Ify yang terikat sama gue, bro!” ucap Rio tak mau kalah, walaupun tetap dengan nada khas seorang Rio. “dan selamanya akan jadi punya gue!” lanjutnya dengan nada yang lebih tajam sambil menepuk bahu Alvin sebelum pergi meninggalkan caffe.

***

Suasana di dalam mobil Alvin tercipta begitu dingin, tak seperti biasanya yang diwarnai canda dan gelak tawa keduanya selayaknya sepasang sahabat yang begitu hangat.

Alvin menatap lurus dan begitu tajam pada sebuah titik di hadapannya. Pikirannya masih bercabang antara mengendalikan mobilnya agar ia dan Ify selamat dan sebuah pertanyaan besar tetang siapa laki-laki yang berhasil memancing amarahnya –yang tak lain Rio-, juga bagaimana agar emosinya tidak meluap pada Ify.

Sementara itu Ify hanya terus menunduk. Butiran bening yang terus berjatuhan dari kelopak matanya ia abaikan, namun dengan sekuat tenaga ia menahan isakan tangisnya agar tidak terdengar dan membuat Alvin semakin kalap.

“siapa dia, Fy?” tanya Alvin dingin.

“bukan siapa-siapa.” Jawab Ify pelan dengan suaranya yang sudah serak.

“bohong! Dia kan yang bikin lo nolak gue?”

“bukan, Vin, sumpah!” Ify memberanikan diri menatap Alvin. “gue nolak lo karena lo sahabat terbaik gue, gue nggak mau merusak semuanya, nggak ada hubungannya sama dia!”

“tapi siapa dia?” bentak Alvin tak sabar.

Ify beringsut mundur menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ify yang tak pernah diperlakukan kasar jelas ketakutan dengan suara yang begitu keras dari Alvin. Ia hanya menggeleng tanda tak ingin menjawab.

“fine, gue yang akan cari tau siapa dia.”

 Alvin menghentikan mobilnya di halaman rumah Ify. Setelah Ify turun, tanpa berkata sepatah katapun ia memacu cepat mobinya meninggalkan bangunan rumah Ify yang nampak seperti sebuah istana yang begitu megah itu.

***

Rio duduk di kursi putar ruang pribadinya. Matanya menerang jauh keluar cendela, manatap langit kelam tanpa bintang malam ini. Sesekali ia melirik foto Ify yang terpajang manis di atas meja beralaskan kaca, membawa suasana menyenangkan di tengah tumpukan map berisi dokumen perusahaan dan juga hasil kerjanya.

Alyssa Saufika, Umari. Sungguh berat untuk Rio mengucapkan nama terakhir Ify, sumber dari segala masalahnya. Andai tak ada nama itu di belakang nama Ify, andai tak ada nama besar Haling di belakang namanya, pasti semuanya lebih mudah. Nama yang sebenarnya pasti banyak orang yang ingin menyandangnya, namun tidak begitu dengan Rio. Menjadi anggota keluarga terpandang ini hanya membuatnya terkurung dalam sangkar emas, tak banyak yang bisa ia lakukan, bahkan untuk memiliki cintanya.

Dengan berang, Rio mengacak-acak rambutnya, melampiaskan semua yang ada di hatinya yang kini begitu kacau. Saat semua perkataan Alvin kembali terngiang di telinganya, terlebih kalimat ‘dia tunangan gue!’ seakan ada hawa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya, dan sebuah rasa nyeri tanpa sebab di ulu hatinya. Perasaan yang sedang ia telusuri apa namanya.

Cemburu.

Sebuah jawaban yang melintas begitu saja di pikiran Rio.

Ify, nama yang sederhana namun membawa sesuatu yang begitu besar untuk seorang Mario. Gadis yang mengajarkannya tentang arti sebuah cinta, yang membuatnya tau bagaimana berbagi rasa indah itu. Dan sekarang, menunjukan padanya apa itu cemburu. Dan di saat yang sama ia harus mencoba percaya pada Ify, jika hanya ia yang ada di hati gadis manis itu.

Rio tersadar dari lamunannya, melirik jarum jam dinding yang sudah mengarah lebih lima belas menit dari pukul sepuluh malam. Segera diraihnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja dan mengetikan sebuah pesan singkat.

To : Alyssa
Sleep tight, my dear.
Everything’s gonna be fine, don’t be sad!
Love you.

***

Malam ini Ify duduk di antara kedua orang tuanya, hal yang sangat jarang bisa ia rasakan karena kesibukan keduanya. Ify mencoba melupakan sejenak masalahnya dan tengelam dalam kehangatan keluarganya. Dalam rengkuhan penuh kasih ibunya, ia merasa sedikit tenang setidaknya.

“rasanya belum lama mama menggendong kamu, sayang.” Bisik ibu Livia, ibunda Ify sambil membelai lembut rambut panjang putrinya. “sekarang kamu sudah menjadi gadis yang sangat cantik.”

“Ify masih mau jadi putri kecil mama.” Ucap Ify manja seraya mengeratkan pelukannya pada sang bunda.

“kamu sudah punya pacar?” goda ibu Livia.

Seketika Ify tertohok mendengar pertanyaan itu. Apa harus menjawab iya, pasti pertanyaan berikutnya adalah siapa, dan mungkinkah Ify akan menjawab, Mario, putra sulung keluarga Haling. Ia belum senekat itu, apa lagi ada sang ayah di sana, walaupun ia sedang tenggelam dengann data-data yang sedang ia cermati.

Ify menggeleng, menjawab jika ia tak punya seorang kekasih. Jelas sebuah kebohongan besar.

Ponsel yang ada di saku celananya, membuat ia sedikit lega dan mengalihkan perhatian yang bunda untuk tidak lagi mencecarnya dengan berbagai pertanyaan lain.

From : Mario
Sleep tight, my dear.
Everything’s gonna be fine, don’t be sad!
Love you.

Ify tersenyum membaca pesan dari Rio. Benar-benar menenangkannya.

“siapa, Fy?” tanya ibu Livia penasaran.

Ify hanya kembali menggeleng.

“nggak penting.” Katanya sambil kembali menyaku ponselnya.

“sial!” umpat pak Pratama –ayah Ify- berang. Seruan yang mengagetkan Ify dan ibu Livia hingga sedikit berjingkat. Karutan di wajah lelah ayah Ify semakin timbul, nampak ia sedang begitu marah.

“ada apa, Pa?” tanya ibu Livia mencoba memberanikan diri.

“Mario Haling!” jawab pak Pratama, sambil meletakkan dokumen yang habis dibacanya secara kasar.

DEG!

Jantung Ify seakan melompat dari tempatnya mendengar nama itu disebut, terlebih dengan nada kebencian yang terdengar jelas dari mulut ayahnya.

“kenapa? Siapa?” tanya ibu Livia sambil membolak-balik dokumen yangh sebelumnya diletakkan, ralat, dibanting suaminya.

“putra sulung Haling, ancaman serius untuk Umari, otaknya bahkan melebihi ayahnya.” Terang pak Pratama sambil menggunakan kembali jasnya. “siapkan rencana kita segera!” pesannya pada sang istri kemudian berjalan tergesa meninggalkan rumah.

Ify diam di tempatnya, mencoba mencerna setiap perkataan ayahnya. Rencana? Rencana apa? Apakah akan membahayakan Rio? Atau semua rencana itu adalah tentang dirinya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi otak Ify, mengunggu jawaban dengan segera.

“rencana apa, Ma?” tanya Ify.
“tak perlu kamu pikirkan, cepat tidur!” jawab Ibu Livia yang kini terlarut dalam pekerjaannya.

Langkah Ify begitu berat menuju kamarnya. Apapun itu ia harus tau apa yang ada di balik rencana orang tuanya, karena ia yakin itu menyangkut nasibnya dan Rio.

***

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Ify berlari menyusuri lorong sekolahnya yang masih sepi karena belum banyak siswa yang datang. Tujuannya hanya satu, bertemu Rio dengan segera.

Ify melongok ke dalam kelas Rio dari ambang pintu. Hanya sebuah tas ransel yang biasa digunakan kekasihnya itu yang ia temukan tergeletak di atas meja tempat dimana biasa Rio duduk, menandakan kalau Rio memang sudah berangkat.

BRUG!

Tanpa sengaja Ify menabrak salah satu siswi yang akan masuk ke dalam kelas yang sama dengan kelas Rio saat ia berbalik badan.

“ck! Nggak liat ada orang di sini?!” bentak Ify ketus, tak mau disalahkan seperti biasa.

Tanpa pikir panjang dan tak ingin buang waktu, Ify kembali berlari ke sebuah tempat yang paling ia yakini dimana Rio sekarang berada.

***

Ruangan besar yang begitu tenang itu tiba-tiba saja berubah menjadi gaduh kerena teriakan Ify.

“kak Rio!!!” seru Ify tak tanggung-tanggung mengeluarkan suara cemprengnya sambil menubruk tubuh Rio yang sedang bersiap melakukan shooting bola basketnya ke ring dari belakang.

Rio merasakan bagian belakang kemeja seragamnya basah. Ia yakin Ify sedang menangis.

“kenapa kamu suka banget nangis?” tanya Rio datar. Bola yang sebelumnya ingin ia tembakkan ke ring justru ia lempar asal ke tepi lapangan.

“gara-gara kamu!” jawab Ify kesal.

Rio melepaskan pelukan Ify dan membalik tubuhnya menatap Ify.

“aku nggak suka liat kamu nangis!” kata Rio dingin.

“kalo bisa berhenti juga udah aku lakuin!” balas Ify tak mau kalah, walaupun dengan isakan disela kalimatnya.

“berhenti!” perintah Rio. Menegaskan kalau Ify harus melakukan apa yang baru saja ia perintahkan.

Dengan susah payah Ify mengatur nafasnya, perlahan menghentikan isakkannya karena tak ingin melihat Rio semakin marah. Setelah ia merasa lebih tenang, jemarinya menghapus sisa air matanya.

“siapa cowok kemarin?” tanya Rio berusaha menyembunyikan kecemburuannya. Dan hasilnya pertanyaan itu terdengar begitu sinis.

“Alvin.” Jawab Ify. Saat melihat raut wajah Rio yang sedikit memerah, Ify tau kekasihnya ini sedang dibakar cemburu, ingin rasanya Ify tertawa saat ini juga karenanya. Masih saja Rio bersikeras menjaga imagenya.

“dia bilang dia tunangan kamu.”

“terus? Kalau iya?” goda Ify, ingin tau sampai dimana Rio berhasil menyembunyikan perasaannya.

Rio diam. Perasaan yang ditahannya kini menjadi-jadi, bahkan kini seperti menyumbat pernafasannya dan membuatnya menjadi sesak.

Tiba-tiba Ify tertawa terbahak-bahak karena sadar berhasil mengerjai Rio. Detik itu juga Rio baru sadar Ify hanya bermain-main.

Tanpa buang waktu, kedua tangan Rio terayun untuk menggenggam lengan Ify dan mendekatkan tubuh mungil gadisnya
itu padanya. Matanya yang mungkin sama seperti mata seekor elang menyambar manik mata Ify. Perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ify.

“kak Ri.. Rio..” ucap Ify terbata, tak menyangka Rio akan bereaksi seperti ini. Perlahan ia menutup matanya. Membiarkan deru nafas Rio semakin kuat menyapa wajahnya, walaupun sebenarnya ia sangat ketakutan.

“muka kamu kotor!” ucap Rio tanpa dosa sambil mengusap kotoran yang menempel di pelipis Ify dengan tangannya.
Ify melongo lebar-lebar, sadar juga ia masuk dalam perangkap Rio.

“kamu kira aku mau cium kamu? Makanya punya otak sering-sering bawa ke loundry!” bisik Rio dari samping Ify kemudian melangkah meninggalkan Ify yang masih diam.

“kak Rio!!!” seru Ify sambil mengejar Rio yang sudah berlari sambil tertawa lepas. Kejadian langka.

***

Jam istirahat. Ify memilih tetap di kelasnya sambil mendengarkan musik bersama Sivia yang asik membaca novel barunya.

“Fy!” panggil Sivia seraya menutup novelnya setelah sebelumnya ia tandai halaman yang baru saja ia baca dengan sebuah pembatas buku berbentuk seekor kelinci cantik.

Ify menatap Sivia sambil mengangkat dagunya ingin bertanya ada apa.

“lo jadian sama kak Rio?” tanya Sivia to the point.

Ify berbalik menghadap Sivia seutuhnya. Ia benar-benar terkejut Sivia sudah mengetahui hal itu padahal ia belum
bercerita sama sekali.

“tau dari mana, Vi?” tanya Ify panik.

“Cuma perkiraan gue, tadi pagi gue liat lo berdua kejar-kajaran kaya bintang film bollywood.”

“syukur kalo gitu! Iya, gue sama kak Rio udah resmi, tapi lo jangan bilang ke siapapun ya.” Mohon Ify.

“pasti, darl! Gue ngerti kok.”

Ify merentangkan tangannya kemudian memeluk Sivia. Beruntungnya ia memiliki sahabat sepengertian Sivia. Yang selalu ada bagaimanapun sifat Ify. Sambil tersenyum Sivia membalas pelukan Ify.

“PJ sama uang tutup mulut jangan lupa!” tagih Sivia sambil menirukan gaya preman pasar.

“sip!”

***

Di kelas lain, tak jauh dari kelas Ify. Keadaan juga tak berbeda jauh dengan kelas Ify, begitu lengang karena sebagian besar penghuninya pergi mengisi perut ke kantin atau sekedar keluar kelas untuk merefresh pikiran.

Gabriel terus-menerus menggaruk tengkuknya tanda ia belum juga mengerti dengan barisan rumus yang baru saja ia minta pada Shilla untuk menjelaskan padanya.

“pokoknya benda lenting sempurna itu rumusnya sama kaya kekekalan momentum!” jelas Shilla gemas, mulai menyerah dan kehabisan akal untuk membuat pelajaran ini lebih mudah dicerna untuk Gabriel.

“emang rumus kekekalan momentum apaan?” tanya Gabriel sambil memamerkan cengiran kudanya.
Shilla mendengus kesal.

“itu pelajaran kelas 11, Gabriel Stevent. Masa kamu nggak nangkep juga? Aku nyerah deh.” Cerocos Shilla sambil melepas kaca mata tutup botolnya dan membersihkannya.

“gue lupa.”

“dan dulu nggak bisa?” tuduh Shilla galak sambil mendekatkan wajahnya pada Gabriel.

Gabriel menelan ludahnya susah payah. Baru kali ini ia melihat wajah Shilla begitu dekat, tanpa kaca mata. Ternyata lebih cantik dari yang ia bayangkan.

“Shil..” desis Gabriel yang masih terpesona.

Menyadari Gabriel semakin mendekat ke arahnya, Shilla beringsut mundur. Canggung.

Dengan gerakan cepat, Gabriel melepas kedua ikat rambut Shilla. Rambut hitam panjang yang sebelumnya terikat seperti seorang gadis desa yang begitu polos kini tergerai. Shilla yang sebenarnya ingin memberontak pada perbuatan tiba-tiba yang dilakukan Gabriel dengan menggoyangkan kepalanya justru membuat helaian rambutnya berkibar, menciptakan siluet yang luar biasa indah di mata Gabriel yang kini terpaku.

Gabriel terdiam. Merasakan dunia seakan berhenti berputak dan waktu berhenti berdenting. Hanya suara detakan
jantungnya yang semakin menggila yang dapat diterima indra pendengarannya. Kemana saja ia baru menyadari ada malaikat yang selalu ada untuknya?

“balikin!” bentak Shilla sambil merebut paksa kembali ikat rambutnya dari tangan Gabriel kemudian mengikat ekor kuda rambutnya dengan asal-asalan.

Gabriel menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyadarkan diri dari keterpesonaannya.

“Shil, gue balik ke kelas!” pamit Gabriel kemudian berlari meninggalkan kelas Shilla dan kembali ke kelasnya dengan tergesa-gesa.

Shilla hanya menatap heran kepergian Gabriel. Karena memang bukan hal yang ajaib jika Gabriel bertingkah aneh tanpa sebab, sepertinya memang ia seperti itu, tak pernah serius. Hal yang disukai Shilla sekaligus membuatnya bimbang.

bersambung...