Minggu, 24 April 2011

Song of Love part 5

Hari masih sangat pagi, setidaknya untuk ukuran seorang Alvin yang sejak beberapa menit lalu sudah berdiri di tepi perempatan sambil terus merutuki segala sesuatu yang menimpanya. Mulai ia harus bangun lebih awal dari biasanya, asap kendaraan yang tak bersahabat, betapa kotornya tempat itu, dan tentu saja sosok Agni yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Alvin sangat tidak menyukai hal yang dinamakan menunggu. Time is everything menurutnya.

Entah sudah untuk yang keberapa kalinya setelah ia berdiri di tempat dimana Agni menyuruhnya untuk menemui gadis manis itu, Alvin kembali melirik jam tangan buatan Swiss yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan lagi-lagi ia berdecak kesal.

“hoy!” seru Agni sambil menepuk keras bahu Alvin dan kemudian tertawa lepas.

“nggak usah sok akrab gitu deh!” balas Alvin sinis.

“buset! Lo itu udah manja, sombong, galak lagi! Emak lo ngidam apa sih dulu? Ckck..” cerosos Agni tanpa titik-koma.

“elo, udah dekil, cerewet, nggak on time lagi! Nggak ngaca lo ngatain orang?”

Agni menghela nafas, berharap semua emosi yang ditahannya juga ikut keluar tanpa kebrutalan. Perlu kesabaran lebih sepertinya untuk menghadapi Alvin.

“suka-suka elo lah! Mending lo titipin mobil lo di bengkel pakde gue no!” peritah Agni sambil menunjuk sebuah bengkel yang berukuran tidak terlalu besar dan letaknya hanya beberapa meter saja dari tempat mereka berdiri sekarang.

“serius nggak papa? Nggak bakal lecet mobil gue? Ilang lo mau ganti?”

“gue tambalin kalo lecet! Gue ganti kalo ilang!” jawab Agni gemas.

“pake apa? Mahal tu!”

“pake aspal! Puas lo? Buruan bisa nggak sih? Lelet!”

Tak ingin berdebat lagi, Alvin menuruti perintah Agni dengan malas-malasan. Tak berapa lama Alvin kembali menghampiri Agni.

“ikut gue!” perintah Agni sekali lagi.

Sambil bersiul riang Agni berjalan menyusuri trotoar. Langkahnya begitu ringan seperti seorang bocah cilik yang baru mengenal dunia. Dari belakangnya, Alvin mengikuti dengan senyum terukir di bibirnya. Gadis yang sangat berbeda menurutnya, tomboy tetapi begitu cantik, kuat dan tegas namun juga terlihat manja.

***

Setelah melewati jalan setapak yang membelah sebuah perkampungan kumuh, Alvin dan Agni sampai ke sebuah pondok. Bangunan itu cukup besar bila dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya, namun tetap kecil di mata Alvin, karena bangunan itu bahkan tak lebih luas dari kamar pribadinya.

Setelah sadar dari ketersimaannya, Alvin menatap nanar sekaligus jijik pada sneakers putihnya yang kini bertambah aksen bintik-bintik cokelat dari cipratan lumpur yang diinjaknya secara tidak sengaja saat tadi melewati gang sempit, selain itu sepatu kesayangannya itu kini menjadi tidak nyaman dipakai karena alasnya terganjal tanah liat yang menempel.

Agni tertawa kecil melihat apa yang sedang dilakukan Alvin. Namun sepersekian detik berikutnya ia sudah sibuk mencari sesuatu di bawah sebuah rak buku panjang. Sepasang sandal jepit dengan merk yang sama dengan sebuah produk agar-agar kini sudah berada di tangannya.

“pake ini! Besok kalo ke sini lagi jangan pake sepatu mahal!” ucap Agni sambil menyodorkan sepasang sandal yang dibawanya di hadapan Alvin.

Dengan polosnya Alvin memamerkan deretan giginya sambil menerima pemberian Agni.

“Ag, ini rumah lo?” tanya Alvin seraya mengganti sepatunya dengan sandal.

“bukanlah! Ini cuma pondok tempat anak-anak kecil di sekitar sini ngumpul, buat belajar baca, tulis, ngitung, belajar musik.” Jawab Agni panjang lebar sambil menata beberapa buku yang berceceran di lantai.

“siapa yang ngajarin?” Alvin mulai tertarik juga dengan hal yang dibicarakan Agni.

“gue lah! Siapa lagi?”

“elo?” tanya Alvin dengan nada meremehkan.

“ishh.. songong banget ya lo?! Biar gue nggak seberuntung elo, tapi gue lebih beruntung dari kebanyakan orang di sini, setidaknya gue pernah sekolah.”

“umur lo berapa sekarang?”

“15.”

“wushh.. bener dugaan gue, masih kecil lo ternyata, gue aja udah 18!”

“idih! Tua kok bangga?!” cibir Agni kemudian menjulurkan lidahnya.

Jujur Alvin penasaran sekali dengan gadis manis itu. Mencoba mengorek banyak informasi sambil mengedarkan matanya ke setiap sudut yang dapat tertangkap oleh indra penglihatannya.

Dari obrolan panjangnya yang terkesan santai, Alvin mendapat banyak hal dari gadis itu. Nama lengkapnya Agni Trinubuwati putri bungsu sebuah keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru di sebuah sekolah swasta, ibunya berjualan kecil-kecilan di rumahnya. Ia juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Riko yang sekarang berada di ibu kota, mengejar mimpinya sambil berkuliah di salah satu universitas terkemuka di negeri ini, dengan beasiswa yang berhasil didapatkannya. Mengesankan. Bagaimana takdir menunjukan kisah hebat di balik keluarga sederhana Agni, dengan kasih sayang dan cinta yang melimpah, sepasang orang tua luar biasa telah melahirkan anak-anak yang berguna.

Agni sekarang duduk di kelas 1 sebuah SMA Negeri di kota ini. Kebetulan hari ini ia sedang libur. Dan waktu liburnya ia gunakan untuk mengajari anak-anak di lingkungan ini untuk membaca, menulis, menghitung, dan bermain musik. Gadis yang begitu cerdas di mata Alvin. Semua pengetahuan yang ia miliki jauh melampaui anak sebayanya. Prinsip hidupnya yang begitu kokoh dan juga cara berpikirnya yang begitu taktis, tajam, dan matang.

“menurut lo, bisnis yang menguntungkan sekarang apa?” tanya Alvin sambil membaca sebuah buku yang diambilnya secara asal.

“boss-nya tukang parkir!” jawab Agni lantang seraya menjentikan telunjuknya.

Alvin menghentikan aktivitasnya dan menatap aneh pada Agni, seakan ingin berkata –apa-banget-sih-cita-cita-lo-?!-

“jangan ngrendahin gitu deh! Lo pikir coba, kalo kita bisa ngeblock tu jalan Malioboro, kita jadiin parkirnya teratur, kita kelola baik-baik, itung tu berapa keutungan yang bisa kita dapet seharinya, belum lagi angka pertumbuhan kendaraan bermotor yang terus meningkat. Dahsyat!” Agni memberikan argumennya sedetail-detailnya, mencoba membuat Alvin mengerti jalan pikirannya.

“suka-suka lo deh!” tanggap Alvin karena tak ingin berdebat lagi dengan Agni. “lo sadar nggak sih kalo lo itu bawel? Cuma ditanya ini jawabnya sampe kemana-mana.”

“suka-suka lah! Mulut juga punya gue!”

Mereka berdua kembali diam dibungkam keheningan. Larut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar deru angin yang memang berhembus cukup kencang siang ini.

Sampai segerombolan anak yang kira-kira seharusnya mereka duduk di bangku sekolah dasar datang dengan sorak-sorai yang mengusir keheningan di antara Alvin dan Agni. Mereka menyapa Agni kemudian duduk rapi di depan white board besar yang terpasang di bagian depan bangunan. Agni memulai kegiatan mengajarnya. Sementara Alvin hanya diam di tempatnya memperhatikan semua yang ada di hadapannya dalam diam.

***

Gabriel mengatur nafasnya yang sudah terengah-engah sambil menyeka keringatnya yang sudah bercucuran dipelipisnya. Baru saja ia terkapar kelelahan sehabis melayani Rio bertanding basket. Entah kenapa hari ini Rio mengajaknya ikut serta membolos pelajaran Sejarah dengan jaminan dirinya sendiri, dengan kata lain, bila mereka dihukum hanya Rio yang akan melakukan hukuman itu sekaligus menjalankan hukuman Gabriel.

Meskipun Rio sepertinya tak ingin orang lain menangkap perubahannya, Gabriel bisa merasakannya. Ada cahaya yang begitu hidup dari kilatan mata Rio. Dan tadi, Rio begitu menikmati permainannya, santai dan menyenangkan, tak seperti biasanya saat ia bermain basket untuk melampiaskan segala amarahnya.

Ia bisa berlari penuh keliaran seperti siswa-siswa lain saat melanggar aturan. Memang hal yang salah, namun ada sensasi lain yang begitu menyenangkan saat melakukannya, tak ada salahnya sesekali dicoba.

Gabriel menemukan lagi sosok Mario sahabat kecilnya dulu sepanjang hari ini. Bukan sosok pangeran es yang selama ini dikenal seantero SMA Putra Buana.

“lo semalem mimpi apa, Yo?” seloroh Gabriel saat Rio merebahkan tubuh tak jauh dari sisinya.

“kenapa lo harus tanya semalem gue mimpi apa? Kenapa nggak semalem ada apa?”

“jawab mana yang lo mau deh!”

“gue nggak mau jawab yang manapun!”

“sarap!” cibir Gabriel sambil menoyor kepala Rio. “ahha! Ini pasti ada hubungannya sama si putri Umari!” tebaknya.

Rio hanya menyeringai memamerkan gigi gingsulnya.

“you ask her to be yours?” canda Gabriel.

“no, just tell her how ‘bout my feel.”

Gabriel ternganga. Yang ada di hadapannya kini memang Rio yang dulu. Dan ia kembali. Dan tebakannya kalau Rio memang menyukai, ralat, mencintai Ify memang benar.

“yang jelas gue seneng lo balik kaya Rio gue dulu.” Seloroh Gabriel sambil berpura-pura menghapus air matanya yang sebenarnya tak pernah jatuh.

“ha? Rio elo? Gue normal, kampret! Rio-nya Ify ni! Haha..” Rio tertawa renyah.

“iket dia sebelum pergi!”

“lo pikir Ify kambing?”

“coba Ify muncul sejak lima tahun lalu, nggak bakal gue temenan sama patung!”

Rio kembali tertawa. “gue bakal ke arena sore ini kalo gue berhasil nembak Ify!” kata Rio seperti mengucapkan sebuah nazar.

“dan lo pasti tetep kalah sama gue!” tanggap Gabriel menantang dan kemudian melangkah meninggalkan GOR karena sudah mendengar bel pergantian pelajaran.

Rio melihat Gabriel yang semakin menjauh. Sahabatnya yang selalu setia, dan selalu ada. Orang yang salalu ia perlihatkan isi sebuah kotak rahasia berisi bagaimana seorang Rio sebenarnya. Dan pernahkah kau berpikir di satu kerajaan ada dua orang raja yang memimpin? Jika tidak, kau salah, dalam sebuah kerajaan bernama Persahabatan dua orang bahkan lebih bisa menjadi raja sekaligus. Tak ada yang salah dan sama-sama berkuasa. Menyenangkan.

***

Bel tanda berakhirnya pelajaran terakhir sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ify berlari kecil menyusuri lorong yang masih ramai dengan kerumunan siswa yang baru saja berhamburan keluar kelas dengan satu tujuan pasti, menemui Rio.

Perlahan Ify mendorong pintu besar beraksen kayu ruang musik yang sudah sedikit terbuka sebelumnya. Semerbak wangi pengharum ruangan yang dihantarkan oleh udara AC langsung menyergap indra penciumannya. Sayup terdengar suara petikan gitar dari balik grand piano putih yang ada di sudut ruangan besar itu.

Ify mengendap-endap mendekati sumber suara. Tak ingin ada suara lain yang menggangu melody indah itu atau bahkan suara yang akan membuat orang itu berhenti menggerakan jemari ajaibnya dan menyudahi aksinya. Setiap kunci nada yang ia mainkan memiliki jiwa tersendiri, membuat pendengarnya larut, bahkan melupakan rasa keterkagumannya karena tak ingin melewatkan sekejap pun permainannya.

Kini nada-nada indah itu semakin sempurna perpadu dengan sebuah suara yang sangat tidak asing lagi bagi Ify, itu suara Rio.

Best thing about tonight’s that we’re not fighting
Could it be that we have been this way before
I know you don’t think that I am trying
I know you’re wearing thin down to the core
But hold your breath
Because tonight will be the night that i will fall for you
Over again don’t make me change my mind
Or I won’t live to see another day
I swear it’s true
Because a girl like you is impossible to find
You’re impossible to find

Ify terpaku di tempat mendengar senandung merdu dari bibir Rio. Selama ini ia tak tau Rio memiliki suara seindah para malaikat penjaga surga. Ia semakin menyadari tak banyak yang ia tau tentang Rio. Satu-persatu segalanya terungkap, dan justru membuatnya semakin jatuh hati pada lelaki itu.

This is not what I intended
I always swore to you I’d never fall apart
You always thought that I was stronger
I may have failed
But I have loved you from the start
Oh, But hold your breath
Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again don’t make me change my mind
Or I won’t live to see another day
I swear it’s true
Because a girl like you is impossible to find
You’re impossible to find

Lagu Fall For You milik Secondhand Serenade mengalun lembut dan terdengar sangat tulus. Sangat berbeda dengan versi aslinya yang sedikit lebih meledak-ledak, Rio membawakannya begitu tenang. Dibawah efek bius yang ditawarkan Rio secara tak sengaja Ify bertepuk tangan memberi penghargaan pada pertunjukan megah tanpa bayaran yang baru didapatkannya.

Rio menoleh dan menemukan Ify berdiri di belakangnya dengan pandangan berseri. Terlihat jelas kalau gadis itu bingung akan mengomentari apa untuk penampilannya. Rio menghembuskan nafas, membuat beberapa helai rambut yang menutupi dahinya berterbangan. Sambil menaruh gitarnya, Rio menggeser tempat duduknya memberi ruang untuk Ify.

“duduk!” perintah Rio datar seraya menunjuk sela bangku di sampingnya dengan dagunya.

Tanpa menunggu perintah dua kali, Ify mengikuti kemauan Rio. Setelah itu Ify hanya menunduk, menatap ujung sepatu kedsnya sambil memainkan ujung rambut ikalnya. Sebenarnya ia hanya tak ingin terlihat begitu bodoh di mata Rio karena salah tingkah dan juga ia sedang mencoba mengendalikan detakan jantungnya yang masih saja tak terkontrol saat bersama Rio.

“ngerti maksud gue kemarin?” tanya Rio tak ingin membuang waktu.

Ify mengangguk. Kali ini ia berani menatap Rio disertai dengan cengiran kudanya. “em.. do you love me?” tanya Ify tanpa basa-basi, khasnya yang selalu ceplas-ceplos.

“yes, you got it!”

“so?” goda Ify.

“I love you! Then, what do you want?” tanya Rio tak sabar. Sudah membayangkan ia akan diusili oleh gadis yang ada di sampingnya itu.

“shoot me!” jawab Ify lantang, sama persis dengan bocah kelas satu sekolah dasar saat menjawab sebuah pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.

Rio menghela nafas lagi. Ia bukan orang yang pandai merangkai kata dan banyak basa-basi seperti yang biasa ia lihat pada Gabriel saat menunjukan aksinya menaklukan setiap wanita yang disukainya. Dan berpikir ia tak ingin terlihat konyol seperti anak bau kencur yang baru saja mengenal cinta dan mencoba merasakannya, tapi toh memang begitu adanya, selama ini baru Ify yang mampu menggoyahkan segala egonya.

“mau nggak jadi pacar aku?” tanya Rio to the point begitu tenang, namun nada pemaksaan terdengar jelas dalam untaian kata itu, seperti permintaan yang ia ajukan adalah pertanyaan seperti –eh-gue-pinjem-pensil-dong-?!-. Tak ada yang tau jika saat ini jantungnya berdetak tak beraturan dan darahnya mendesir hebat, sensasi yang selalu ia nikmati saat bersinggungan dengan segala sesuatu tentang Ify.

Sejuta rangkaian kata lain yang ingin ia sampaikan terbaca dari mata sayunya yang kini terbingkai kaca mata tanpa frame. Mata yang kini menatap sepasang manik mata Ify dalam-dalam penuh kejujuran dan ketulusan. Tergambar nyata betapa seorang Rio begitu memuja Ify layaknya seorang putri raja.

Ify menunduk dalam-dalam. Kebahagiaan yang begitu membuncah justru membuatnya kembali mengingat sebuah benteng tinggi yang begitu kokoh berdiri di depan mereka. Jujur, Ify takut untuk melanjutkan langkahnya. Bukan hanya satu orang yang akan berbuat nekat melakukan segala cara untuk menentang hubungan mereka, tetapi dua orang yang sama-sama memiliki segalanya, termasuk ego mereka yang mungkin berkali-kali lebih sulit dihancurkan dibandingkan dengan kebekuan Rio selama ini.

“yes or no?” tanya Rio sekali lagi, kali ini lebih tegas dari sebelumnya.

“ta.. tapi gu.. aku..”

“kamu nggak percaya sama aku? Kalo iya, aku tarik permintaan tadi.” Potong Rio tak suka Ify berbelit-belit hanya untuk berkata ‘iya’.

“iya, aku mau.” Jawab Ify jengkel.

Rio hanya diam dan kembali meraih dan kemudian memangku gitarnya. Tak ada ekspresi lebih di wajahnya. Tidak juga terlihat jika ia senang dengan jawaban Ify.

“mau bilang iya aja repot.” Sindir Rio tajam sambil men-stem senar gitarnya, tanpa melihat Ify.

Ify melongo lebar-lebar. Rio ternyata tetap seorang Rio yang menyebalkan dibalik semua hal yang membuatnya jatuh hati pada laki-laki tampan itu.

“aku sebel sama kamu! Bisa nggak sih kamu singkirin nada bossy dan sinis kamu itu?! Bisa nggak sih kamu peka sama perasaan aku?! Aku takut... kalo papa kita tau.” Seru Ify menggebu-gebu. Namun Ify berbicara begitu lirih pada akhir kalimatnya.

Rio terkesiap. Dengan gerakan cepat ia menoleh pada Ify yang sedang menahan emosinya dan juga menahan agar tak ada butiran bening yang jatuh dari kelopak matanya. Rio meraih tangan Ify dan mengecup lembut jemari tangan gadisnya itu.

“jangan nangis!” perintah Rio tegas sambil memegang ke dua pipi Ify. “maaf, dan tolong ngertiin aku ya.. aku akan coba berubah buat kamu. Dan orang tua kita, kita berjuang sama-sama, bukan cuma untuk kita, hubungan kita, atau cinta kita, tapi juga bagaimana caranya agar mereka berdamai.” Ucap Rio dan kemudian tersenyum.

Ify membalas senyum Rio sambil mengangguk. Jari-jari lentiknya mengusap kasar matanya, menghapus air mata yang sudah menggenang.

“kamu cantik kalo senyum!” puji Rio tulus sambil mengacak-acak lembut puncak kepala Ify. Pujian yang mau tak mau membuat Ify blushing, menunduk menyembunyikan pipinya yang merona sambil memainkan sillyband di tangan kirinya.

“gombal! Belajar darimana?” tuduh Ify.

“lupa kalo aku sohib raja player?” seloroh Rio sambil terkekeh. “tapi bener kok, aku nggak gombal, amatir buat hal itu!”

“I love you, kak Rio. I never wanna lose you.” Ucap Ify seraya membelai pipi kanan Rio.

 “so do I!”

Rio kembali tersenyum. Telunjuknya berjalan perlahan menyusuri setiap lekukan wajah Ify sambil menatap lembut gadis yang baru saja resmi menjadi miliknya itu, tatapan yang mampu mengunci mata Ify agar tetap memandangnya. Meyakinkan keduanya untuk terus berjuang, bukan hanya bertahan, mengumandangkan pada dunia bahwa cinta mereka yang akan menang.

“pulang?” tawar Rio.

Ify merengut sambil melipat kedua tangannya di depan dada, tanda ia tak suka dengan penawaran Rio dan tak suka jika waktunya bersama Rio berakhir secepat ini.

“maunya apa?” tanya Rio tak sabar.

“tu kan bossy-nya keluar lagi!” cerca ify kemudian membuang mukanya.

Rio menggunakan telunjuknya untuk membuah Ify kembali menatapnya. Dengan gerakan lambat ia mengecup lembut pipi kiri Ify. Menahannya beberapa saat untuk menegaskan ia sama sekali tak bermaksud menyakiti Ify.

Sementara itu Ify hanya bisa kembali terdiam merasakan seperti ada sebuah aliran listrik menjalar di seluruh tubuhnya dan melemahkan setiap sendinya.

Rio tertawa kecil melihat wajah Ify yang kini merah padam. Ia mengacak-acak lagi rambut Ify gemas.

 “ikut aku, yuk!” ajak Rio sambil menggandeng tangan Ify, membimbingnya keluar ruangan itu.

Ify kembali menyusuri lorong sekolah, namun kali ini bersama Rio dengan tangan yang terjalin satu sama lain menggenggam sebuah kebahagiaan dan juga kekawatiran. Tapi setidaknya dalam genggaman tangan kokoh Rio, Ify merasa aman.

***

Mulut Ify menganga lebar melihat Rio kini sudah menaiki sebuah Kawasaki Ninja 250 CC berwarna biru navy. Selama ini belum sama sekali Ify menaikinya, ia punya phobia tersendiri dengan kendaraan itu.

“se.. serius mau naik motor, kak?” tanya Ify setelah berhasil menelan ludahnya yang menjadi terasa pahit di tenggorokannya.

“iya, kenapa? Aku cuma bawa motor.” Jawab Rio sambil menaikan sebelah alisnya, heran dengan gelagat Ify.

“kalo ketauan orang-orangnya ortu kita gimana?” entah mengapa justru pertanyaan yang tidak ada hubungannya sama sekali itu yang keluar dari mulut Ify.

“terus, kalo aku mau pergi sama kamu harus pakai pakaian ninja biar nggak ketauan gitu? Kalo ketauan namanya kita belum beruntung, dan nggak mungkin selamanya kita kucing-kucingan.”

“tap.. tapi.. aku..”

“ada apa lagi?” tanya Rio sambil menggunakan helm full face-nya.

“takut naik motor.” Jawab Ify yang akhirnya berhasil mengutarakan maksudnya.

“anak manja.” Dengus Rio.

“ya emang gue manja! Kenapa lo mau sama gue?” bentak Ify tak terima.

“karena gue cinta elo apa adanya, nona!” jawab Rio gemas. “naik! Aku jamin kamu nggak bakal lecet sedikitpun!” perintah Rio otoriter, sedikit membentak mungkin, menegaskan kalau memang ia tak ingin dibantah.

Dengan terpaksa, dan diselimuti rasa gengsi, Ify menaiki boncengan motor Rio.

Rio menjalankan motornya dengan kecepatan sedang karena tak ingin membuat Ify ketakutan, walaupun sebenarnya dengan kecepatan itu pun Ify sudah ketakutan setengah mati. Pelan bagi Rio belum tentu begitu bagi Ify.

“tangan lo, Fy!” pinta Rio sambil menyodorkan tangan kirinya ke belakang, di hadapan Ify.

Ify memasrahkan tangannya yang sebelumnya ia gunakan untuk menutupi wajahnya dan kini bergetar hebat pada Rio.
Perlahan Rio menarik tangan Ify. Menganyam jari-jarinya dengan jari-jari Ify. Membimbing tangan Ify melingkar di perutnya dan membuat jarak di antara keduanya terhapuskan. Ify menyandarkan kepalanya di punggung Rio. Dan dengan ajaib semua rasa takutnya hilang berganti dengan desiran-desiran menyenangkan di hatinya. Dengan caranya Rio meyakinkan Ify kalau ia, Mario Stevano, akan selalu menjaganya dan tidak akan membiarkan segala sesuatu yang buruk menimpanya, dengan tubuhnya sendiri sebagai benteng.

It’s the song of love. Lagu cinta. Bisa kau menebak kapan lagu itu mulai berkumandang di hatimu?  Kau bahkan tak tau bagaimana cara lagu itu bisa terputar di ruang hampa hatimu dan untuk siapa lagu itu tercipta. Itu semua hanya rahasia Sang Maha Cinta yang tak perlu kau kuak, biarkan semua menjadi misteri seperti seharusnya. Dan satu hal yang harus kau tau dunia tanpa cinta sama halnya dengan sebuah konser tanpa lagu, percayalah.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar